Hijrah dan Syar`i dalam Pandangan Islam Berkemajuan (2)

Kalam 8 Apr 2020 0 272x

Oleh : Lailatis Syarifah, Lc., M.A. (Dosen UIN Sunan Kalijaga, Anggota MPK PP ‘Aisyiyah, Anggota MTT PP Muhmmadiyah)

Hijrah berasal dari Bahasa Arab yang merupakan bentuk dasar (mashdar) yang berarti berpindah, mendiamkan, dan meninggalkan hal-hal yang menjadi kebiasaan.  Dalam Islam, kata hijrah berhubungan erat dengan sejarah Islam. Dalam sejarah Islam, hijrah pertama dicatat ketika umat Muslim meninggalkan Mekah menuju Habasyah, sedangkan hijrah kedua adalah ketika Rasul bersama sahabat meninggalkan Makkah menuju Madinah. Rasul memberikan gelar “al-Muhajirun” (orang yang melakukan hijrah) bagi Muslim yang meninggalkan Makkah dan memilih untuk menetap di Madinah. Di sisi lain, penduduk Madinah yang menerima kedatangan mereka disebut sebagai al-Anshâr yang secara bahasa bermakna para penolong.

Kata al-Muhajirun dalam al-Quran juga dinisbatkan kepada para sahabat Nabi yang meninggalkan kota Makkah dan menetap di Madinah, salah satunya sebagaimana tercantum dalam surat at-Taubah ayat 100 berikut,

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ (التوبة : 100)

Artinya: Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar (Q.S. at-Taubah: 100)

Sedangkan dalam hadis, istilah hijrah dihubungkan dengan niat sebagaimana sabda Rasulullah saw. berikut,

عَنْ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ إِلَى امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ (رواه البخاري)

Artinya: Umar bin Khattab meriwa-yatkan bahwa ia mendengar Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya pekerjaan itu tergantung kepada niat dan bagi setiap orang sesuai apa yang dia niatkan. Barangsiapa hijrahnya kepada dunia yang dikenainya atau perempuan yang dinikahinya, maka hijrahnya adalah seperti yang dia niatkan (H.R. Bukhari)

Jadi, dari beberapa penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa hijrah menunjuk kepada perbuatan seseorang meninggalkan sesuatu, tempat ataupun kebiasaan lama dengan tujuan mendapat yang lebih baik. Hal ini sesuai dengan pandangan Islam berkemajuan Muhammadiyah yang senantiasa ingin mengajak manusia kepada yang lebih baik (min adz-dzulumât ila an-nûr). Artinya, dengan mengembangkan visi Islam berkemajuan berarti kita telah melakukan hijrah.

Saat kita menegakkan tauhid yang murni, berarti kita telah berhijrah dari tauhid yang masih bercampur. Saat kita beramal berdasarkan al-Quran dan as-Sunnah, berarti kita telah berhijrah dari sikap acuh terhadap al-Quran dan as-Sunnah. Saat kita bersikap toleran, berarti kita berhijrah dari sikap fanatisme berlebihan (yang terkadang membawa kepada merasa diri paling benar se-hingga menyalahkan yang berbeda).

Sedangkan kata syar`i شَرْعِي dalam bahasa Arab berasal dari kata syariah ” شَرِيْعَة . Dalam kaidah bahasa Arab, kata yang diakhiri dengan“ya” (disebut ya nisbah) akan memiliki makna sifat. Sebagai contoh kata “walad”  ولد artinya anak, maka jika kita letakkan “ya nisbah” di akhirnya menjadi ولدي maka artinya adalah memiliki sifat anak-anak atau kekanak-kanakan. Dari penjelasan ini, dapat kita ambil kesimpulan bahwa syar`i artinyabersifatsesuaisyariah.

Dalam kamus Lisân al-`Arab, syariah diartikan dengan jalan, aliran, dan sumber. Dalam kamus al-Muhith fî al-Lughah, kata tersebut  dimaknai sebagai seluruh aturan yang Allah tetapkan atas hamba-Nya yang berhubungan dengan perkara agama. Dengan demikian, syar`i berarti sesuai dengan aturan yang Allah tetapkan bagi hamba-Nya dalam perkara agama.

Dalam Himpunan Putusan Tarjih (HPT), agama “ad-dîn” dimaknai se-bagai berikut. Artinya: Agama (atau agama Islam Allah yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw) ialah apa yang diturunkan Allah di dalam Quran dan yang tersebut dalam sunnah yang shahih, berupa pe-rintah-perintah dan larangan-larangan serta petunjuk untuk kebaikan manusia di dunia dan akhirat.

الدِّيْنُ هُوَ مَا شَرَعَهُ اللهُ عَلَى لِسَانِ أًنْبِيَائِهِ مِنَ الأَوَامِرِ وَالنَّوَاهِي وَالإِرْشَادَاتِ لِصِلَاحِ الْعِبَادِ دُنْيَاهُمْ وَأُخْرَاهُمْ.

Artinya: Agama ialah apa yang disyariatkan Allah dengan perantara Nabi-Nabi-Nya, berupa perintah-perintah dan larangan-larangan serta petunjuk-petunjuk untuk kebaikan manusia di dunia dan akhirat.            

Dengan demikian, syar`i adalah bersikap dan berperilaku sesuai ajaran yang ditetapkan oleh Allah, berupa perintah maupun larangan, untuk kebaikan manusia dunia dan akhirat. Dengan demikian, syar`i tidak hanya berhubungan dengan cara berpakaian, tetapi meliputi seluruh aspek kehidupan hamba, baik yang bersifat duniawi maupun ukhrawi (akidah, ibadah, akhlak, dan muamalah).

Perintah dan larangan yang dimaksud bersumber dari al-Quran dan as-sunnah. Al-Quran dan as-Sunnah, meskipun tetap dan tidak beragam, namun pemahaman manusia (Ulama) dalam memaknainya dapat berubah dan tidak selalu tunggal. Oleh karena itu, syar`i berarti sesuai dengan aturan Allah yang ada dalam kitab-Nya dan sunnah Rasul-Nya, berdasarkan pemahaman yang rajih (kuat) dalam pandangan seseorang. Artinya, ukuran kesesuaian seseorang terhadap syariah tidaklah tunggal. Misalnya, aturan tentang berhijab. Walaupun ayat dan hadis yang digunakan sebagai landasan sama saja untuk semua, tetapi pada tataran aplikasinya dapat berbeda. Hal ini karena pemaknaan terhadap ayat dan hadis juga bermacam-macam.  

Tulisan ini pernah dipublikasikan pada Majalah Suara ‘Aisyiyah Edisi 1 Januari 2020, hlm. 9-10

Sumber Ilustrasi : https://nyarung.id/2019/11/05/jangan-cuma-ikutan-hijrah-hijrah-club-tapi-lupa-meneladani-rasulullah/

Leave a Reply