Hikmah Ibadah Haji dan Qurban di Masa Pandemi Covid-19

Hikmah 15 Jul 2021 0 53x
Qurban

Qurban

Oleh: Risman Mukhtar

Membicarakan ibadah haji dan qurban tentu tidak akan terlepas dari lima sosok manusia utama, yaitu Nabi Ibrahim, Sarah, Hajar, Nabi Ismail, dan Nabi Muhammad saw. Oleh karena itu, pada kesempatan kali ini, kita akan mengelaborasi sekilas perjalanan hidup mereka. Harapannya, kita dapat “memanen” hikmah ibadah haji dan qurban secara lebih mendalam dari kisah perjuangan mereka di jalan Allah.

Semoga hikmah ibadah haji dan qurban tersebut menjadi lentera yang menerangi jiwa kita di tengah ujian pandemi Covid-19 sekarang ini. Tokoh-tokoh utama terkait ibadah haji dan umrah adalah sebagai berikut.

Nabi Ibrahim Sang Khalilullah

Nabi Ibrahim as. lahir di Ur, Iraq, Mesopotamia, yang terletak di antara sungai Eufrat dan Tigris. Ayahnya bernama Azar, seorang pengrajin patung yang memproduksi patung-patung berhala yang menjadi sesembahan masyarakat paganis. Wilayah tersebut dikuasai oleh Namrud, raja tiran yang mengaku dirinya sebagai tuhan yang paling tinggi, sebagaimana Firaun, raja yang berkuasa di Mesir.

Inilah latar belakang masyarakat yang menjadi objek dakwah Nabi Ibrahim as. Dapat kita duga dan bayangkan betapa dahsyat, hebat, dan beratnya tantangan dakwah yang dihadapi oleh Nabi Ibrahim as. dalam menyampaikan pesan dakwah tauhid kepada seorang ayah yang pengusaha patung, masyarakat penyembah berhala, dan seorang raja yang mengaku sebagai tuhan. Secara lebih terperinci, tantangan dakwah yang dihadapi Nabi Ibrahim as. dapat dijabarkan sebagai berikut:

Pertama, berdakwah kepada ayahnya sendiri. Dakwah Nabi Ibrahim pertama kali adalah kepada ayahnya sendiri, si pembuat patung berhala, sebagaimana dijelaskan oleh Allah swt. dalam firman-Nya (QS. al-Anbiya: 52). Tatkala Ibrahim mempertanyakan masalah patung berhala kepada kaumnya, tidak ada yang dapat menjawab. Mereka terus dan tetap menyembah berhala karena itu sudah menjadi tradisi turun-temurun dari nenek moyang mereka. Inilah yang diabadikan dalam firman Allah swt. (QS. al-Anbiya: 53).

Kedua, memperdaya masyarakat penyembah berhala. Ketika masyarakat penyembah berhala tersebut berpesta pora memperingati hari raya mereka di sebuah lapangan, Nabi Ibrahim memperdaya mereka dengan cara menghancurkan semua berhala sesembahan mereka kecuali sebuah berhala yang paling besar. Selanjutnya, ia menggantungkan kapak yang dipergunakan untuk menghancurkan para berhala tersebut di leher si berhala yang paling besar.

Baca Juga: Dakwah Nabi Muhammad: Dakwah Multidimensi

Ketika mereka kembali ke tempat ibadah mereka, betapa kagetnya mereka melihat  berhala-berhala sesembahan mereka telah hancur berantakan. Dalam waktu singkat, berdasarkan laporan intelijen istana, diketahui bahwa yang melakukan penghancuran tersebut adalah Ibrahim anak Azar karena beliaulah yang selama ini berani melakukan kritik yang tajam terhadap tuhan-tuhan yang mereka sembah. Nabi Ibrahim as. segera ditangkap dan terjadilah dialog dakwah sebagaimana firman Allah swt. dalam QS. al-Anbiyaa’: 62-64.

Akal sehat dikalahkan oleh berbagai kepentingan politik, ekonomi dan ketakutan terhadap risiko bila berseberangan dengan rezim penguasa. Masyarakat penyembah berhala tersebut tidak punya keberanian untuk menerima kebenaran yang disampaikan oleh Nabi Ibrahim as.

Ketiga, dibakar dalam api unggun yang besar. Allah swt. menjelaskan dalam firman-Nya, QS. al-Anbiyaa’: 68-70. Nabi Ibrahim as. tidak gentar menghadapi hukum bakar yang ditimpakan atasnya. Ia juga tidak hendak meminta jasa baik ayahnya yang dekat dengan Raja Namrud untuk meminta keringanan hukuman karena dia bukan tipe pecundang yang lempar batu sembunyi tangan. Sebaliknya, ia adalah sosok mujahid yang bertanggung jawab, “tangan mencincang bahu memikul”.

Keempat, Nabi Ibrahim berhadapan dengan Raja Namrud. Di dalam al-Quran terekam dengan jelas dialog yang beliau lakukan ketika menghadapi Namrud,  raja zhalim yang mengaku-ngaku bahwa dirinya adalah Tuhan. Nabi Ibrahim as. dengan kecerdasan dan kecepatan berpikirnya dapat membantah dan mematahkan argumen raja sombong tersebut. Kisah ini disebutkan dalam al-Quran, surat al-Baqarah ayat 258.

Dengan demikian, sudah jelas bahwa Namrud kalah dalam perdebatan tersebut. Akan tetapi, dasar penguasa zhalim, sekalipun akal sehatnya menga-kui kebenaran yang disampaikan oleh Nabi Ibrahim as., namun kesombongan dan arogansi kekuasaan yang ada dalam dirinya telah menutupi mata hatinya dari menerima kebenaran yang disampaikan.

Kelima, hijrah sebagai strategi dakwah. Setelah Nabi Ibrahim merasa tidak efektif lagi berdakwah di Babilonia, Allah memerintahkannya untuk hijrah. Hijrah adalah bagian dari strategi dakwah dalam menegakkan agama tauhid (iqamatuddin). Sebagaimana diketahui,  dakwah beliau waktu itu  tidak hanya ditentang  oleh Namrud  dan rakyatnya saja, ayah kandung beliau pun tidak kalah keras penentangannya. Ia bahkan mengancam akan merajam serta mengusir putranya tersebut. Saat Ibrahim meninggalkan kaumnya karena Allah, istrinya tidak bisa melahirkan anak, dan saat itu Ibrahim tidak mempunyai seorang anak pun.

Baca Juga: Millah Ibrahim: Tuhan Hanya Satu, Allah Semata

Allah pun memberikan balasan indah bagi Ibrahim atas hijrahnya itu. Setiap nabi yang menerima kitab dari langit, pasti berasal dari salah satu keturunannya. Hal itu sebagai karunia dan kemuliaan untuknya kala pergi meninggalkan kampung halaman, keluarga, dan sanak kerabat, untuk berhijrah menuju sebuah negeri yang ia bisa leluasa untuk beribadah kepada Rabb ‘Azza wa Jalla dan menyeru siapa pun kepada-Nya.

Bumi yang dituju Ibrahim saat berhijrah adalah Syam. Itulah wilayah yang disebut Allah ‘Azza wa Jalla sebagai “Negeri yang telah Kami berkahi untuk seluruh alam” (lihat QS. al-Anbiya: 71-73). Jarak perjalanan yang ditempuh oleh Nabi Ibrahim dan rombongan pada hijrah pertama adalah sejauh lebih kurang 1500 km, sekitar 3 kali jarak Makkah dan Madinah. Dalam hijrahnya tersebut, istrinya, Sarah, senantiasa menemani dengan setia.

Sarah Sang ‘Afifah

Sarah merupakan perempuan mukmin yang memiliki kecantikan mengagumkan di zamannya. Tak hanya cantik secara fisik, Sarah juga merupakan wanita yang sangat cantik akhlak dan budi pekertinya. Ia juga perempuan yang ramah dan murah sedekah. Karena kecantikan Sarah yang begitu mengagumkan, Raja Mesir yang saat itu menguasai Syam, tempat hijrah Ibrahim as., ingin mempersuntingnya sebagai selir.

Meskipun tidak berdaya melawan kehendak sang raja yang bisa saja mencelakakan suaminya, Sarah tidak putus berdoa kepada Allah agar senantiasa menjadikannya sosok ‘afifah, mukminah yang memiliki ‘iffah, hingga titik napasnya yang terakhir. ‘Iffah adalah sikap menahan atau bersabar dari perkara-perkara yang Allah haramkan sekaligus menahan diri dari meminta-minta kepada manusia.

Doa-doanya yang sangat tulus telah menggerakkan ‘arsy Ilahi hingga Fir’aun, Raja Mesir saat itu, selalu mengalami kelumpuhan tatkala mendekati Sarah. Setiap kali kelumpuhan itu menderanya, sang raja meminta Sarah untuk memohon kepada Allah agar mencabut kelumpuhan tersebut disertai janji bahwa ia tidak akan mendekati Sarah lagi.

Baca Juga: Perempuan Mulia (1): Maryam binti Imran dan Asiyah binti Muzahin

Namun, sang raja terus kembali mendekati Sarah dan kelumpuhan menderanya lagi. Berkali-kali hal itu terjadi. Akhirnya, sang raja menyadari bahwa tidak mungkin baginya menembus perlindungan Allah atas Sarah. Ia pun melepaskan Sarah agar kembali kepada Ibrahim dan bahkan memberinya hadiah seorang budak bernama Hajar yang nantinya menjadi istri Nabi Ibrahim a.s. dan melahirkan seorang nabi mulia, yakni Nabi Ismail.

Hajar yang Dimuliakan

Kisah Hajar merupakan contoh nyata dari keyakinan bahwa jika Allah hendak memuliakan seseorang, tiada seorang pun yang dapat menurunkan derajatnya. Bagaimana tidak? Berawal dari kenyataan orang tuanya yang berhasil digulingkan sebagai raja Mesir yang seharusnya, Hajar ditawan dan dijadikan budak. Seperti Sarah, Hajar senantiasa terlindungi hingga Raja Mesir yang baru tidak mampu menyentuhnya. Ia kemudian dihadiahkan kepada Sarah sebagai budaknya.

Jika dilihat dengan seksama, terlihat bahwa dengan kepergiannya itu, derajat Hajar dan Ismail sebenarnya sedang Allah tinggikan. Pertama, secara geografis, Makkah memiliki banyak situs penting Islam, di antaranya yaitu Arafah dan Ka’bah. Adapun Ka’bah, menurut pendapat yang kuat, dibangun jauh sebelum Nabi Ibrahim. Sedangkan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail hanyalah membangun kembali Ka’bah di atas pondasi yang sudah ada sebelumnya. Dua tempat tersebut kemudian menjadi penting dan merupakan tempat ziarah manusia sejak Nabi Ibrahim sampai sekarang untuk menunaikan ibadah haji dan umrah.

Kedua, perjuangan Hajar untuk menemukan air di lembah tersebut sejak kepergian Ibrahim, hingga membuatnya berlari bolak balik antara bukit Shafa dan Marwa, membawa Hajar pada mata air Zam-Zam. Hingga hari ini, Zam-Zam menjadi sumber air berkhasiat bagi umat manusia.

Ketiga, beberapa aktivitas pengasuhan Hajar dan Ibrahim pada Ismail di bumi Makkah diabadikan Allah menjadi rangkaian syariat haji dan qurban bagi umat Islam di seluruh dunia. Syariat tersebut bahkan menjadi salah satu rukun Islam.

Baca Juga: Muhammadiyah: Alihkan Dana Qurban untuk Bantu Warga Terdampak Pandemi

Sikap ikhlas yang disertai kesetiaannya untuk selalu teguh pada kebenaran dan berbaik sangka atas semua ketentuan Allah ini berbuah manis. Pada akhirnya, Hajar bukan hanya menjadi ibu bagi Ismail, namun ibu bagi semua kaum mukminin yang datang sesudahnya. Pertanyaannya, dengan semua ujian hidup kita yang tiada sebanding dengan pengorbanan Bunda Hajar ini, seberapa setiakah kita untuk berbaik sangka kepada Allah?

Ismail Cermin Putra Teladan

Ismail adalah anak Ibrahim dengan Hajar. Saat Ismail lahir, atas perintah Allah, Ibrahim membawa anaknya bersama Hajar keluar dari Palestina. Mereka melewati padang pasir nan gersang menuju lembah berbukit yang dikenal sebagai Lembah Bakkah. Lembah itu kini merupakan kota suci, Makkah.

“Mau ke mana Engkau, wahai Suamiku?” Hajar bertanya pada Ibrahim yang terlihat akan meninggalkan ia dan putranya. Sungguh sesak hati Ibrahim saat meninggalkan keduanya. Lisannya seakan terkunci untuk mengucapkan kata perpisahan. Namun, ini adalah perintah Allah. Ia hanya mampu menengadahkan kedua tangannya untuk memohon penjagaan Allah atas anggota keluarga yang ia tinggalkan.

Dalam sulitnya menyampaikan perpisahan, ia meneruskan perjalanannya seakan tiada menggubris pertanyaan Hajar. Istrinya itu lalu mengubah pertanyaan, “Apakah ini perintah Allah?”. Ibrahim akhirnya berhenti dan menjawab, “Iya, ini perintah Allah.”. Mendengarnya, Hajar menjawab, “Kalau ini memang perintah Allah, pergilah. Allah tentu tidak akan menyia-nyiakan kami.”

Baca Juga: Tiga Metode untuk Memperkokoh Iman

Demikianlah Ismail memulai hari-harinya di Makkah dengan prasangka baik kepada Allah yang tiada bercelah. Apakah setelah itu, Allah segera mengirimkan hujan agar keduanya mendapatkan pasokan minuman? Jawabannya adalah tidak. Apakah setelah itu Allah mengirimkan awan menggantung agar keduanya selalu terhindar dari terik matahari? Jawabannya juga tidak.

Sebagaimana manusia lainnya, setelah berhari-hari di padang pasir, Hajar kehabisan makanan dan minuman hingga Ismail kesulitan untuk menyusu. Ismail kecil pun terus menangis karena rasa haus dan lapar yang terus menderanya. Melihat itu, Hajar lalu berlari ke sana kemari mencari air untuk putranya. Dia berlari di antara dua bukit, Shafa dan Marwah. Apakah Allah menyediakan sumber makanan atau minuman pada salah satu bukit tersebut? Jawabannya juga tidak.

Dalam kepanikan seorang ibu yang mendengar tangis kehausan bayinya, insting Hajar menuntunnya mencari sumber air ke tempat yang tinggi. Secara logika, hal ini diperlukan karena tempat yang tinggi akan memudahkan seseorang untuk melihat ke segala arah dan menavigasi keberadaan sumber air. Tatkala Hajar telah berlari bolak-balik dari Shafa dan Marwah, ia teringat putranya dan khawatir bahwa putranya itu terancam keamanannya karena terlalu lama ia tinggalkan.

Saat ia kembali, ia melihat Ismail menangis sambil berbaring dan menghentak-hentakkan kaki kecilnya ke tanah. Siapa sangka bahwa dari hentakan kaki kecil tersebut, muncullah air yang terus mengalir. “Zam-Zam,” kata Hajar. Artinya berkumpullah. Hingga saat ini, Zam-Zam menjadi sumber air yang mengumpul sehingga alirannya mudah untuk diorganisasikan. Kisah ini juga menjadi asal mula rukun ibadah haji yang dikenal dengan sa’i atau berlari-lari kecil sebanyak tujuh kali antara bukit Shafa dan Marwah.

Sedari awal, Hajar tidak tahu bagaimana Allah akan menyelamatkan hidupnya dan putranya dari kelaparan. Jika Hajar tahu bahwa Allah akan memunculkan sumber air dari kaki putranya, tentu ia tidak akan berlari bolak-balik, bahkan sampai tujuh kali, dari Shafa ke Marwah. Namun, Hajar tidak menyesali perjuangan yang ia lakukan.

Bagaimanapun, begitulah sifat pertolongan Allah pada orang beriman. Pertolongan itu datang setelah keyakinan dan perjuangan yang kadang tidak dapat diprediksi kapan akan berakhir. Lalu, seperti janji-Nya, setelah keyakinan dan perjuangan itu, pertolongan Allah sesungguhnya sangat dekat dan tidak disangka-sangka.

Siapa yang dapat mengira Zam-Zam akan muncul dari tempat di mana Hajar dan Ismail sejak awal menempatkan diri? Siapa yang mampu menduga bahwa Zam-Zam akan muncul dari hentakan bayi yang bahkan masih menyusu pada ibunya? Siapa yang dapat memprediksi bahwa sumber air itu menjadi awal mula sosialisasi Hajar dan bayinya dengan kafilah yang kemudian datang, tinggal, dan menempatkan keduanya sebagai tokoh penting dalam struktur masyarakat yang kemudian terbentuk?

Seorang bayi memang membutuhkan ibunya. Seorang istri memang memerlukan suaminya. Seorang teman mengharapkan sahabatnya. Namun sejatinya, yang diperlukan oleh semua insan adalah Tuhannya, Yang Menciptakannya, Yang Memeliharanya, dan Yang Maha Benar dengan segala firman-Nya.

Baca Juga: Perjuangan dan Pengorbanan dalam Pandangan Islam

Lahir dari orang tua yang mulia. Dibesarkan dengan keyakinan yang mulia. Ditempatkan pada tanah yang mulia. Dengan latar belakang itu, Ismail tumbuh menjadi sosok dermawan yang taat kepada Allah dan penuh bakti kepada orang tuanya. Ketika Ismail sudah menginjak usia remaja, melalui mimpi, Nabi Ibrahim mendapatkan perintah dari Allah untuk menyembelih putranya itu. al-Quran menyebutkan betapa besarnya prasangka positif Ismail atas semua ketentuan Allah melalui kesabarannya dalam menerima ketentuan Allah ini.

Muhammad, Penutup Para Nabi

Tiada cukup tulisan ini menjadi tempat untuk menuliskan sejarah keteladanan Muhammad, Nabi dan Rasul Allah yang terakhir. Nabi Muhammad saw. lahir pada tahun 571 M di Kota Makkah. Ia merupakan keturunan Nabi Ibrahim dari jalur Nabi Ismail. Beliau adalah utusan Allah yang menyempurnakan syariat agama Islam, di antara yang sangat penting adalah ibadah haji dan umrah sebagai pelaksanaan perintah Allah swt. dalam QS. al-Baqarah: 196.

Nabi Muhammad saw. bersabda:

خذوا عني مناسككم

Artinya, ambillah dariku manasik-manasik kalian”.

Hadis ini menunjukkan bahwa ibadah haji adalah ibadah mahdhah yang hukum asalnya adalah tauqif dan ittiba’, artinya tidak boleh dilakukan kecuali ada dalil-dalil yang ditetapkan dalam al-Quran dan as-Sunnah. Melakukan ibadah haji dan umrah tanpa mengikuti petunjuk yang tertuang dari keduanya hukumnya bid’ah dan tertolak.

Hikmah Ibadah Haji dan Umrah

Pada masa pandemi seperti sekarang ini, kita juga masih dapat memetik hikmah dari ibadah haji dan qurban. Keberadaan syariat kedua ibadah ini, diharapkan dapat meningkatkan kesiapan mental dalam menghadapi ujian. Kedua ibadah ini juga seharusnya mampu memantik kesediaan untuk saling berbagi, yang memiliki kelapangan dan kelebihan rezeki, seyogianya mau membantu dan berinfak sesuai kemampuan yang diberikan oleh Allah swt. kepadanya.

Baca Juga: Edaran PP Muhammadiyah Menjelang Idul Adha 1442 H/2021 H di Tengah Pandemi Covid-19

Meskipun dilanda kesulitan, sebagai seorang mukmin, kita diharapkan untuk tidak memiliki sikap egois yang dapat menimbulkan kemudharatan terhadap dirinya, dan juga terhadap orang lain. Hal tersebut bertentangan dengan prinsip-prinsip persaudaraan dan persamaan yang dikembangkan dalam ibadah haji dan qurban.

Tinggalkan Balasan