Hikmah Larangan Berduaan dengan Non-Mahram

Hikmah 4 Des 2021 0 245x

“Jangan sekali-kali seorang laki-laki menyendiri (khalwat) dengan perempuan kecuali ada mahramnya. Dan janganlah seorang perempuan bepergian kecuali bersama mahramnya” (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad, Ibnu Majah, Tabrani, Baihaqi, dan lain-lain).

Oleh: Wakhidah Noor Agustina

Sebagai agama yang sempurna, Islam telah mengatur semua segi dalam hidup umatnya, di antaranya adalah adanya aturan dalam berhubungan sosial antar sesama manusia. Interaksi sosial tersebut diatur pembatasannya antara laki-laki dan perempuan. Bagi lawan jenis yang bukan mahram, tidak diperbolehkan berkhalwat atau bersama antara dua orang berlainan jenis.

Ketika Allah swt. melarang atau memberikan perintah kepada hamba-Nya, pastilah terdapat hikmah yang terkandung di dalamnya. Namun sebagian besar manusia enggan memikirkan hikmah di baliknya. Larangan khalwat antar jenis kelamin non-mahram, dapat kita ambil hikmahnya sebagai berikut:

Pertama, naiknya sekresi hormon kortisol. Ilmuwan Valencia University dalam hasil penelitiannya menyampaikan, kebersamaan antara seorang lelaki dan perempuan dapat mengakibatkan bertambahnya sekresi kortisol. Sebagai hormon yang dihasilkan tubuh saat mengalami stres, sebetulnya kortisol memiliki peran dalam mengendalikan metabolisme.

Meskipun demikian, penting bagi kita untuk menjaga kadar hormon ini agar tetap proporsional, karena jika kelebihan kormon kortisol dalam tubuh dapat meningkatkan tekanan darah, kadar glukosa darah, yang akhirnya memicu diabetes, bahkan penyebab penyakit jantung, tekanan darah tinggi dan penyakit lainnya.

Hormon ini juga dapat menyebabkan stres, yang akan terjadi saat seorang lelaki berduaan dengan perempuan non-mahramnya, dan stres tersebut dapat terus meningkat jika si perempuan memiliki daya tarik yang lebih besar. Sebaliknya, saat sang lelaki bersama dengan perempuan mahramnya, kenaikan sekresi kortisol tidak akan terjadi.

Syeikh Ash-Shaabagh mengatakan, “Bagaimana seorang yang bertakwa kepada Allah ta’ala dan tahu kepada-Nya itu bisa rela jika istri atau anak perempuannya berkhalwat dengan laki-laki asing? Sesungguhnya Islam melarang tindak kriminal (dosa) serta mencegah sebab-sebab yang mengantarkan ke sana. Orang yang mengabaikan penyebab terjadinya sesuatu yang terlarang, maka dia akan terperosok ke dalam larangan. Barangsiapa menggembala di sekitar daerah larangan, niscaya akan mudah baginya untuk terjerumus ke dalamnya”.

Baca Juga: Bolehkah Perempuan Safar Tanpa Mahram?

Kedua, menjauhi godaan setan. Allah swt. memberikan ujian dan cobaan kepada hamba-Nya dengan kadar yang berbeda, untuk meningkatkan kadar keimanan seseorang di hadapan Allah. Godaan setan sebagai salah satu ujian berat dari Allah, sehingga manusia diperintahkan untuk senantiasa dzikrullah.

Menurut Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah, ada beberapa tahapan dalam menggoda manusia. Tahap pertama, mengajak manusia agar kafir atau musyrik; jika muslim, beralih ke tahap dua, mengajak amalan bid’ah. Bagi ahli sunnah, beralih ke tahap tiga, diajak melakukan dosa besar. Jika belum berhasil, tahap empat, diajak mengerjakan dosa kecil. Jika masih belum berhasil juga, beralih ke tahap lima, manusia disibukkan dengan perkara mubah hingga melalaikan amalan yang berpahala. Tahap terakhir, manusia akan disibukkan dengan amalan yang kurang utama agar meninggalkan amalan yang lebih utama, misalkan disibukkan dengan mengamalkan sunnah daripada amalan wajib.

Dalam QS. Al-A’raf [7] ayat 16-17 (yang artinya), “… (iblis) menjawab, karena Engkau telah menghukum saya tersesat, pasti aku akan selalu menghalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus. Kemudian pasti aku akan mendatangi mereka dari depan, dari belakang, dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur”.

Imam Al-Ghazali mengajarkan upaya seorang hamba dalam menggagalkan godaan setan, yaitu dengan membuat kurus setan, dengan cara memperbanyak dzikrullah; kemudian menghindari tempat-tempat kemaksiatan dan orang-orang yang munkar, karena dapat membawa kepada kesesatan; hendaknya selalu sadar bahwa sesungguhnya tujuan setan menggoda hanyalah ingin menjerumuskan manusia kepada kenistaan dan kemudharatan abadi; menyadari sifat pengecut setan, yang menginginkan banyak teman yang menemaninya dalam kesesatan yang akan membuatnya semakin puas; tidak terlalu banyak makan, karena dengan kondisi lapar yang dapat mempermudah hamba mengingatNya.

Ketiga, menghindari zina. Untuk menjadi muslimah yang mematuhi semua perintah dan menjauhi larangan-Nya merupakan perkara yang berat, karena di akhir zaman ini, sangat banyak godaan terutama bagi para remaja putri yang masih labil dalam proses pembentukan jati dirinya.

Salah satu godaan beratnya adalah munculnya ketertarikan terhadap lawan jenis, meskipun ini merupakan fitrah manusia, akan tetapi jika sampai tergelincir dan tidak dapat mengelolanya dengan baik, akan menjadi malapetaka besar bagi dirinya sendiri, bagi orang tua, dan bagi sang pujaan hati.

Suatu ketika Rasulullah bersabda (yang artinya), “sesungguhnya Allah menetapkan untuk anak adam bagiannya dari zina, yang pasti akan mengenainya. Zina kedua mata adalah melihat. Zina kedua telinga dengan mendengar. Zina lisan dengan berbicara. Zina tangan dengan menyentuh (meraba). Zina kaki dengan melangkah. Zina hati dengan menginginkan dan berangan-angan. Lalu, farji (kemaluan) lah yang akan membenarkan atau mengingkari yang demikian” (HR. Bukhari dan Muslim).

Jika diibaratkan zina sebagai sebuah tempat yang berpintu banyak dan terdiri dari beberapa lapisan, maka pasangan yang berpacaran dianggap sebagai pemilik semua kunci tersebut.

Keempat, ngerinya hutang zina. “Wa lā taqrabu az-zināa”, dan janganlah kamu mendekati zina (QS. al-Isra: 32). Sungguh, tidak sepatutnyalah kita meremehkan zina, karena dosanya sangat dahsyat dengan ancaman hukuman yang berat, baik di dunia maupun akhirat.

Dalam suatu kisah, seseorang bertanya kepada Imam Syafi’i, “mengapa hukuman bagi pezina sedemikian beratnya?” Wajah beliau pun memerah, dengan pipi merona kemudian berkata, “karena zina adalah dosa yang bala’ (besar risikonya). Akibatnya akan mengenai keluarganya, tetangganya, keturunannya, bahkan hingga tikus di rumahnya dan semut di ilalang sekitar rumahnya”.

Orang tersebut bertanya lagi, “mengapa pelaksanaan hukumannya dengan itu? sebagaimana firman Allah (yang artinya), “dan janganlah rasa ibamu pada mereka menghalangimu untuk menegakkan agama”. Maka Imam Syafi’i terdiam, menunduk, dan menangis. Setelah tangis berhenti, beliau berkata, “karena zina seringkali datang dari cinta dan cinta selalu membuat seseorang menjadi iba. Lalu setan datang untuk membuat kita lebih mengasihi manusia daripada mencintai-Nya”.

Orang itu bertanya lagi, “dan mengapa Allah berfirman (yang artinya), “dan hendaklah pelaksanaan hukuman mereka (pezina) disaksikan oleh sekumpulan orang yang beriman? Bukankah hukuman bagi pembunuh, orang murtad dan pencuri, Allah tidak mensyaratkannya menjadi tontonan?” seketika janggut Imam Syafi’i basah, beliau terguncang, lalu berkata, “agar menjadi pelajaran,” ucapnya sambil terisak. “Agar menjadi pelajaran,” beliau tersebu. “Agar menjadi pelajaran,” beliau kembali terisak. Kemudian bangkit dari duduknya dan matanya kembali menyala, dengan bersemangat beliau berkata, “sebab ketahuilah oleh kalian, bahwa sesungguhnya zina adalah utang. Dan sungguh utang tetaplah utang. Salah seorang dalam nasab/keturunan pelakunya pasti harus membayarnya”.

Sebagai muslimah, kita harus selalu menjaga kehormatan diri, terutama saat berkomunikasi atau berinteraksi dengan lawan jenis untuk menghindari bahaya maupun fitnah yang dapat ditimbulkannya. Karena dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah perempuan salihah (HR. Muslim).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *