Home Schooling Ala Captain Fantastic

Aksara 16 Sep 2021 0 67x
Captain Fantastic

Captain Fantastic

Oleh: Muhammad Ridha Basri

Kebijakan pemerintah yang meliburkan sekolah selama wabah Covid-19 tidak selalu disambut positif. Beberapa orang tua mengeluh karena tidak siap menghadapi anaknya selama 24 jam di rumah. Saya teringat dengan film Captain Fantastic (2016). Apa korelasinya?

Drama komedi Amerika Serikat yang ditulis dan disutradarai Matt Ross ini menceritakan perihal sebuah keluarga yang hidup di tengah hutan Northwest Pasifik selama 10 tahun. Ben Cash (Viggo Mortensen) sebagai ayah menjadi mentor yang mendidik enam anaknya: Bodevan (George MacKay), Kielyr (Samantha Isler), Vespyr (Annalise Basso), Rellian (Nicholas Hamilton), Zaja (Shree Crooks), dan Nai (Charlie Shotwell). Tiga laki-laki dan tiga perempuan.

Captain Fantastic dibuka dengan suasana tengah hutan yang asri dan sebuah adegan perburuan. Bodevan yang bermandikan lumpur berhasil melumpuhkan seekor rusa dengan sebilah pisau. Keberhasilan ini dirayakan bersama, dan menandai penobatan anaknya yang beranjak dewasa. Sang ayah menjadi kapten yang bertanggung jawab terhadap pertumbuhan anaknya. He prepare them for everyting expect the outside world. Mereka kadang gagap ketika harus bertemu dengan dunia nyata, di awal mula.

Di tengah hutan, mereka hidup di sebuah rumah sederhana berisi peralatan sederhana, namun dipenuhi buku dan kebutuhan dasar yang menunjang hidup, serta sebuah mesin jahit. Hanya ada barang yang dibutuhkan. Keseluruhan anaknya menguasai beberapa bahasa asing dan memiliki kemampuan berpikir analitis. Di usia muda, mereka sudah diharuskan membaca Middlemarch hingga The Brothers Karamazov. Anak berumur delapan tahun sudah mengenal Karl Marx hingga Noam Chomsky dengan konsep Sosialisme Libertarian.

Pendidikan home schooling di alam liar ini ternyata menuai hasil. Di kemudian hari, anak pertama, Bodevan, diterima di semua univeritas terkemuka dunia, termasuk di Harvard University. Dia mendaftar diam-diam. Zaja, di usia delapan tahun sudah mampu mengulas Bill of Right atau UU HAM Amerika. Anak ini sering menggemaskan dengan pernyataan dan tindakannya yang lugu khas anak-anak, namun dengan pengetahuan dan wawasan yang tidak biasa. Kali lain, di waktu sarapan tiba-tiba ia berujar, “Kita tak membenci nenek dan kakek, tetapi sisa dari kaum mereka adalah fasis kapitalis.”

Baca Juga: Memilih Pendidikan Terbaik bagi Anak

Di tengah hutan, Ben membuat kurikulum pendidikannya sendiri. Dimulai pada pagi hari, Ben mengajak anaknya untuk berolahraga atau melakukan yoga. Diajarkan cara bercocok tanam, berburu, dan meramu. Dilatih kemampuan tracking, fighting, hingga panjat tebing. Mereka mampu mempraktikkan pertolongan pertama pada kecelakaan, mampu membedakan makanan yang beracun dan bisa dimakan, membuat pakaian dari kulit hewan. Untuk memasak, mereka harus menyalakan api dengan batu. Semua ketrampilan dan praktik bertahan hidup ini dijalani dengan disiplin.

Di malam hari, mereka akan berkumpul di depan api unggun untuk membaca buku sesuai dengan jenjang usia. Masing-masing diberi standar buku yang harus dipelajari. Ben mengecek halaman dan sub bahasan yang dibaca. Jika ada yang tidak dipahami, mereka mengadakan diskusi dan saling memberi perspektif atas bacaan. Semua boleh bertanya apa saja. Di sela itu, mereka bermain musik bersama hingga tiba waktu istirahat dan menyongsong hari baru.

Pola hidup itu terjadi selama sepuluh tahun, sampai suatu ketika, istri Ben bernama Leslie Abigail (Trin Miller) yang menjalani hidup seorang bipolar dikabarkan meninggal dunia bunuh diri. Guna memperoleh informasi ini dan semua informasi dunia luar lainnya, dalam waktu tertentu Ben keluar hutan untuk jarak tertentu guna memenuhi kebutuhan, membeli buku dan majalah terbaru. Istri Ben sudah lama tinggal di sebuah rumah sakit jiwa. Namun kabar kematian ini merupakan pukulan berat.

Ayah Leslie (Frank Langella) menolak kehadiran Ben di upacara pemakaman Leslie. Ben dianggap aneh dan ia tak ingin malu di forum formal tersebut. Ben sempat tidak berminat datang ke kota dan memerintahkan anak-anaknya berlatih seperti biasa, seolah tidak terjadi apa-apa. Namun, mereka harus menghormati dan merayakan kematian Leslie. Apalagi terdapat sebuah surat wasiat yang harus dilaksanakan.

Dengan sebuah bus yang telah dimodifikasi layaknya ruang perpustakaan, mereka berangkat, dengan mengemban misi untuk membebaskan ibunya dari pemakaman. Bus tua yang diberi nama steve ini juga dilengkapi gantungan baju. Dari kemudi bus, Ben sebagai kapten meraih pengeras suara menjelaskan kehidupan dunia luar, tentang simbol-simbol demokrasi dan kapitalisme Amerika Serikat yang gagah berdiri di kiri kanan jalan. Percakapan yang terjadi juga tidak biasa. Di sela itu, si kecil mengajukan pertanyaan polos dan kritis setiap ada yang tidak dipahami, semisal: apa itu memperkosa? Naluri anak yang gemar mengajukan pertanyaan kritis ini diladeni dengan baik oleh Ben.

Sepanjang perjalanan menuju New Mexico untuk mencapai pemakaman Leslie, film ini menyuguhkan banyak adegan reflektif. Dalam perjalanan dengan suasana duka itu, mereka memperingati hari kelahiran Chomsky di pinggir jalan. Mereka terlebih dahulu menyusun strategi mencuri makanan untuk kebutuhan perayaan di sebuah super market. Toko berjejaring itu dianggap sebagai lambang kapitalisme.

Kali lain, mereka singgah menginap di rumah adik Leslie, Harper (Kathryn Hahn) dan suaminya (Steve Zahn). Anak-anak Ben terkaget dengan dunia baru. Mereka tidak mengetahui sama sekali tentang sepatu Nike dan Adidas serta barang bermerek yang menjadi keseharian Harper dan anak-anaknya. Mereka juga bingung ketika kedua anak Harper asyik bermain game dan sibuk dengan gawai.

Dalam sebuah makan malam, Nai yang berusia lima tahun bertanya kepada tantenya, Harper, “How did you kill those chickens? Dengan kapak atau pisau?” Tantenya tentu saja kelimpungan menjawab pertayaan polos dan tidak penting ini. Harper tidak pernah repot membunuh ayam, ia ke super market membeli daging yang siap dimasak dan juga makanan lain yang siap saji. Berbeda dengan Nai, jika ingin makan, ia harus mengeluarkan effort terlebih dahulu untuk berburu hewan dan mengolah sendiri.

Pertentangan nilai-nilai sosialisme yang dianut oleh Ben dan kapitalisme yang dianut Harper dan mertua Ben kerap terjadi sepanjang film. Ben sangat gigih mempertahankan nilai-nilai yang dianutnya dalam mendidik anak. Mertuanya menentang dan ingin merebut hak asuh atas cucu-cucunya. Di akhir, mertuanya menghargai keputusan Ben.

Tidak mengikuti agama orang tuanya, Leslie mempelajari agama Buddha. Namun menurut Leslie, agama itu tidak perlu terorganisir. Dalam surat wasiat, Leslie meminta jasadnya dikremasi dengan diiringi musik dan tarian. Setelah itu, abunya nanti dibawa ke tempat yang banyak penduduk untuk ditebar dan sisanya dibuang ke lubang toilet.

Di upacara pemakaman, Ben membaca surat wasiat. “Leslie mempelajari Buddhisme, yang baginya adalah filosofi dan bukan agama yang terorganisasi. Leslie tidak suka agama yang terorganisir. Baginya itu adalah dongeng paling berbahaya yang pernah diajarkan. Dirancang untuk memperoleh keimanan buta dan memberi ketakutan pada orang tak bersalah. Satu hal yang paling buruk bagi Leslie selain kematian adalah terkurung dan membusuk di kotak keranda, terkubur di bawah lapangan golf.”

Di hari pemakaman Leslie, Ben dan anaknya tiba di gereja dengan mengenakan pakaian cerah berbunga dan aneh di antara pelayat lain yang mengenakan pakaian serba hitam. Kedatangan mereka menarik perhatian. Ben meminta izin dan membacakan surat wasiat itu di tengah prosesi sakral. Ia pun diusir oleh mertuanya sendiri. Adengan ini seolah mengingatkan tentang paham sosialisme yang kerap mengkritik pemeluk agama yang kehilangan religiusitasnya.

Diusir tidak berarti misi mereka untuk melaksanakan wasiat Leslie gagal. Ben sudah hampir menyerah. Namun, anak-anaknya justru bersikeras ingin memenuhi permintaan ibunya. Akhirnya, pada suatu malam, Ben dan anaknya mendatangi dan menggali kembali kuburan Leslie. Keranda mayatnya dibawa dengan mobil untuk dikremasi di pinggir pantai sambil bernyanyi bersama. Kematian dirayakan sebagai pertanda keabadian jiwa dan kefanaan jasad.

Di tengah wabah corona, kita perlu berpikir kembali tentang alternasi pendidikan home schooling. Wabah ini mungkin tidak akan bertahan lama, namun perubahan pola pikir dan pola hidup masyarakat dunia akan segera terjadi. Kita harus bersiap menyongsong era baru yang unprecedented.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *