Pendidikan

Horor Masuk Perguruan Tinggi Negeri

(foto: pixabay)

Oleh: Ahsan Jamet Hamidi*

Bulan-bulan ini, banyak kisah seru yang dialami oleh mereka yang baru tamat Sekolah Menengah Atas. Mereka harus berburu untuk bisa masuk Perguruan Tinggi Negeri. Kisah seru itu tidak hanya dialami oleh para mantan siswa, tetapi juga para orang tua. Aku menjadi salah satunya. Pergolakan batin yang aku alami terasa nikmat, karena aku mengikutinya dengan kesadaran utuh.

Laman media sosial banyak terisi oleh ungkapan rasa bangga dari para orang tua yang anaknya berhasil masuk Perguruan Tinggi Negeri. Ada yang secara lengkap menyebutkan nama anak, nomer ujian, pilihan jurusan, sekaligus nama kampus negerinya. Kebanggaan yang lumrah, karena memang ada ”kelas” dalam fakultas dan jurusan yang tersedia di Perguruan Tinggi Negeri. Ada fakultas tertentu yang memiliki banyak peminat. Tentu dengan jumlah bayaran lebih tinggi juga. Akhirnya, kesan prestisius dan berkelas itu memang ada landasan pembenarnya.

Bersikap bangga atas prestasi sang anak adalah hal lumrah. Itu bagian dari rasa syukur atas prestasi anak yang harus diapresiasi. Keberhasilan itu adalah buah dari usaha bersama yang sungguh-sungguh.

Berkaca Pada Proses

Sejak semula, aku dan istri memberikan keleluasaan penuh kepada anak laki-lakiku dalam memilih jenis fakultas dan perguruan tinggi yang ia minati. Sebagai orang tua, aku tidak akan membebani anak, dengan menitipkan cita-cita. Apalagi cita-cita yang dulu gagal kucapai. Aku percaya, bahwa setiap anak punya harapan sendiri, yang mungkin berbeda dengan harapan orang tuanya. Aku harus mempercayai itu.

Aku hanya berpesan, “Kamu berusaha sungguh-sungguh, ya. Maksimal. Soal hasil, itu bukan urusanmu semata. Kuasa kita sebagai makhluk (ciptaan) itu sebatas usaha. Kepastian akhir dan hasil, itu kuasa Gusti Allah. Setelah berusaha lalu berdoa. Itu saja…”

Baca Juga: Ummah Aceh Berikan Kuota Beasiswa bagi Masyarakat Bireuen

Aku menceritakan kisah teman lamaku, Muhibuddin, anak Medan. Sejak nyantri di pondok, ia bercita-cita ingin sekali bisa kuliah di negeri Arab. Ia tekun belajar bahasa Arab. Tamat dari pondok, ia lulus seleksi dan mendapat beasiswa untuk kuliah di Saudi Arabia. Tiket sudah di tangan. Perayaan syukuran bersama saudara dan tetangga sudah dilangsungkan. Tiba-tiba pecah perang teluk. Semua calon mahasiswa yang hendak balajar di negeri Arab harus tertunda sampai dinyatakan aman.

Muhibuddin ikhlas menerima kenyataan itu. Dia memutuskan untuk kuliah Ilmu Hukum. Selesai kuliah, ia menjadi jaksa, dan pernah beberapa tahun bertugas di KPK. Selesai dari KPK, ia dipromosikan menjadi atase hukum di Saudi Arabia selama 5 tahun. Pada saat itulah, ia bisa bekerja sekaligus kuliah di Negeri Arab.

“Ingat ya, Le… Allah tidak mengabaikan harapan Muhibuddin. Allah hanya menundanya, hingga 25 tahun kemudian,” Aku menutup kisahku.

Membandingkan dengan Diri Sendiri

Selama proses seleksi masuk perguruan tinggi, sesekali aku mengintip kamar anakku. Aku melihat dia sedang belajar dengan penuh kesungguhan. Menyaksikan anakku mau belajar, membaca buku dengan serius, itu saja sudah membuatku bangga dan bersyukur. “Ya Allah, anakku sudah merintis usahanya dengan penuh kesungguhan. Dia sudah mulai belajar bertanggung jawab. Selanjutnya terserah Engkau. Aku tidak akan pernah berani mendekte-Mu…”

Aku hanya bisa membandingkan anakku dengan diriku sendiri. Ketika anakku mau belajar dengan tekun, itu saja sudah bagus. Beda dengan bapaknya dulu. Saat besok waktu ujian tiba, dia tidak pernah tau mata kuliah apa yang hendak diujikan. Saat itu, si bapak mau ikut ujian saja sudah bagus. Sekarang, ketika sang anak mau belajar dengan sungguh-sungguh untuk menghadapi ujian, berarti sang bapak sudah memperoleh kebaikan ganda. Sang anak sudah melampaui bapaknya. Sesederhana itu, sih rasa syukurku berwujud.

Perdebatan Kecil

Meski aku dan istri membebaskan, sesekali anakku mengajak diskusi soal pilihan fakultas dan jurusan. Ia sering merespons pandanganku dengan kalimat agak sinis. “Mau kerja apa kalau kuliah di jurusan itu, Pak?”

Menghadapi keraguan dan sinisme itu, sekali lagi, aku membandingkan dengan diriku sendiri.

“Bapakmu ini hanya mampu kuliah di Fakultas Tarbiyah IAIN Ciputat, Le. Kalau cara berpikirmu terlalu linier semacam itu, berarti peluang bapakmu hanya bisa mengajar di madrasah. Tapi takdir Allah telah membawa kita pada keajaiban-keajaiban di luar nalar secuil kita,” kataku.

“Kuliah di perguruan tinggi itu baru langkah rintisan awal, Le. Itu baru beberapa jengkal dari masa depanmu yang masih panjang. Ada jutaan langkah lagi yang harus kamu lalui. Jauh lebih penting buatmu untuk bersikap setia pada pilihan dan selalu bertanggung jawab pada setiap kewajiban yang kamu emban dalam setiap tahapan hidup,” desakku.

Aku melanjutkan, bahwa tanggung jawab utama seorang mahasiswa itu belajar. Tanggung jawab seorang pekerja itu bekerja sungguh-sungguh dengan jujur. Tanggung jawab seorang pemimpin itu berusaha mewujudkan keadilan. Harga diri dan nilai kemanusiaan seseorang akan terukur dari perilaku baik, taat azas, dan pemenuhan akan tanggung jawabnya. Itu saja.

“Iya, iya. Jadi panjang banget ngomongnya kan jadinya,” gerutunya.

Karena omonganku sudah membosankan, akhirnya aku menulis pesan melalui WhatsApp, sebagai berikut;

Hidup itu lucu

Yang dicari hilang

Yang dikejar lari

Sampai akhirnya

Kita lelah dan berserah

Kemudian

Tuhan menggerakan semesta bekerja

Ada yang hadir dalam rupa yang tak sama

Bahkan lebih baik dari apa yang kita sangka

Berbahagialah kita yang selalu mensyukurinya

*Ketua PRM Legoso – Ciputat Timur, Tangerang Selatan

3 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *