Hukum Jual Beli Ijon (1)

Hikmah 7 Mar 2020 0 239x

Oleh : Muhammad Khaeruddin Hamsin, Lc, LLM, PhD. (Kepala LPPI-UMY dan Dosen Fakultas Hukum UMY)

Jual beli merupakan kebutuhan yang tidak mungkin ditinggalkan di dalam kehidupan  manusia, hingga manusia tidak dapat hidup tanpa kegiatan jual beli, karena transaksi jual beli  merupakan sarana untuk memperoleh keuntungan. Namun demikian, terdapat jual beli yang dilarang oleh agama, salah satunya adalah jual beli yang di dalamnya ada unsur yang belum jelas (gharar), sesuatu yang bersifat spekulatif atau samar-samar, transaksi yang semacam ini haram untuk diperjualbelikan, karena dapat merugikan salah satu pihak yang berakad, baik penjual maupun pembeli. Jual beli yang dipraktikkan pada zaman Rasulullah saw yang memiliki unsur tersebut adalah jual beli yang disebut jual beli muhaqalah sebagaimana HR. Bukhari dari Anas bin Malik:

Dari Anas bin Malik ra (diriwayatkan) ia berkata: Rasulullah saw telah melarang jual beli Muhaqalah, Muzabanah, Mukhadarah, Mulamasah, dan Munabadzah [H.R. al-Bukhari].

Hadis di atas menyebutkan beberapa istilah yang terkait dengan jual beli yang dilarang oleh Rasulullah saw, yaitu: muhaqalah adalah menjual tanaman-tanaman yang masih di sawah atau di ladang yang belum siap dipanen; muzabanah ialah menjual/menukar buah yang basah dengan buah yang kering (menjual kurma yang kering dengan bayaran kurma yang basah); mukhadarah adalah jual beli tumbuh-tumbuhan yang masih hijau yang belum pantas dipanen (jual beli beli rambutan yang masih hijau, mangga yang masih kecil-kecil); mulamasah yaitu jual beli secara sentuh-menyentuh (jual beli di mana seseorang menyentuh sehelai kain, maka orang menyentuh berarti telah membeli kain tersebut); dan munabazah adalah jual beli yang terjadi hanya dengan cara penjual dan pembeli melempar barang yang dimilikinya, setelah terjadi lempar-melempar terjadilah jual beli, cukup dengan cara ini transaksi sudah terjadi dan mengikat tanpa adanya rasa saling suka di antara keduanya.

Dalam kaitannya dengan jual beli tumbuh-tumbuhan dan buah-buahan di atas, terdapat beberapa Hadis yang dapat dijadikan landasan untuk melihat status hukumnya, antara lain:

HR. Bukari dan Muslim dari Anas bin Malik: Dari Anas bin Malik ra (diriwayatkan), Rasulullah saw melarang penjualan buah-buahan (hasil tanaman) hingga menua? Para sahabat bertanya: Apa maksudnya telah menua? Beliau menjawab: Bila telah berwarna merah, kemudian Rasulullah saw bersabda: Bila Allah menghalangi masa panen buah-buahan tersebut (gagal panen), maka dengan sebab apa engkau memakan harta saudaramu (uang pembeli)? [HR Bukhari dan Muslim].

HR. Bukhari, Muslim dan At-Turmuzi dari Abdullah bin Umar: Dari Abdullah bin Umar ra (diriwayatkan) bahwasanya Rasulullah saw telah melarang penjualan buah-buahan sampai nampak masaknya (matang). Beliau melarang penjual dan pembelinya ”. [HR. Bukhari, Muslim dan At-Turmuzi]

HR. Muslim dari Abu Zubair: Dari Abu Zubair bin Abdullah (diriwayatkan) ia mendengar Jabir bin Abdullah mengatakan: Jika engkau menjual kurma kepada saudaramu (sesama muslim), lalu kurma tersebut tertimpa musibah/wabah, maka tidak halal bagimu untuk mengambil (harga) darinya sedikitpun. Karena engkau tidak dibenarkan mengambil harta saudaramu sendiri [HR. Muslim].

HR. Bukhari dan Muslim dari Salim bin Abdullah: Dari Salim bin Abdullah dari bapaknya ra (diriwayatkan) ia berkata: aku mendengar Rasulullah saw bersabda: Barangsiapa yang membeli pohon kurma setelah dikawinkan maka buahnya milik penjualnya kecuali bila disyaratkan oleh pembelinya. [HR. Bukhari dan Muslim]

Tullisan ini pernah dimuat pada Majalah Suara ‘Aisyiyah Edisi 1 Januari 2016, Rubrik An-Nur

Sumber Ilustrasi : https://pengusahamuslim.com/5043-kaidah-dalam-fiqh-jual-beli-bagian-11-jual-beli-ijon.html

Leave a Reply