Hukum Jual Beli Ijon (2)

Hikmah 7 Mar 2020 0 88x

Oleh : Muhammad Khaeruddin Hamsin, Lc, LLM, PhD. (Kepala LPPI-UMY dan Dosen Fakultas Hukum UMY)

Praktik jual beli seperti di atas masih terjadi di kalangan masyarakat yang dikenal dengan istilah Jual Beli Ijon. Sebenarnya, Ijon dalam bahasa Arab (dalam Hadis di atas) dinamakan ”mukhadlarah” yaitu memperjualbelikan buah-buahan atau biji-bijian yang masih belum matang (hijau), atau disebut juga ”muhaqalah” yaitu menjual hasil pertanian sebelum tampak atau menjualnya ketika masih kecil, sebagaimana HR. Bukhari dari Anas bin Malik (Rasulullah saw telah melarang jual beli Muhaqalah, Muzabanah, dan Mukhadharah).

Latar belakang timbulnya larangan menjual buah yang belum nampak baiknya (Hadis riwayat Zaid bin Tsabil ra) karena ada hikmah yang ada di balik larangan tersebut, antara lain: (a) mencegah timbulnya pertengkaran (mukhashamah) akibat kesamaran; (b) melindungi pihak pembeli, jangan sampai mengalami kerugian akibat pembelian buah-buahan yang rusak sebelum matang; (c) memelihara pihak penjual jangan sampai memakan harta orang lain dengan cara yang tidak benar, seperti ditegaskan dalam hadis riwayat Zubair: (…Jika engkau jual kepada saudaramu buah lalu ditimpa bahaya, maka tidak boleh engkau ambil daripadanya sesuatu, karena dengan jalan apa engkau mengambil harta saudaramu degan tidak benar); (d) menghindarkan penyesalan dan kekecewaan pihak penjual jika ternyata buah muda yang dijual dengan harga murah itu memberikan keuntungan besar kepada pembeli setelah buah itu matang dengan sempurna.

Larangan yang dimaksud di atas, tentu tidak berlaku untuk buah-buahan atau tanaman yang sudah dapat dimanfaatkan sekalipun masih hijau seperti jagung, mangga, pepaya, dan tanaman lain yag sejenis, karena buah atau tanaman seperti itu pada umumnya dapat dimakan selagi masih muda. Termasuk juga buah-buahan dan tanaman yang sudah siap dipanen karena tidak mengandung unsur gharar atau kesamaran yang dapat menimbulkan resiko yang dapat berakibat terjadinya kerugian dan permusuhan.

Dalam perkembangannya, jual beli/ijon yang ada saat ini di masyarakat pedesaan adalah dilakukan dalam bentuk perkreditan informal yang transaksinya dilakukan dalam bentuk variatif (tidak seragam). Pada umumnya, jual beli ijon dilakukan dalam bentuk kredit uang yang dibayar kembali dengan hasil pertanian. Jual beli tersebut mirip dengan “penggadaian” tanaman yang masih hijau yang masih belum waktunya untuk dipetik, dipanen. Jual beli ijon seperti ini dilakukan oleh pemberi kredit merangkap pedagang hasil panen yang menjadi pengembalian hutang. Siklus peredaran modal untuk jual beli ijon, biasanya dimulai pada setiap awal musim produksi, ketika pohon mulai berbunga. Pada saat itu pula, modal pinjaman dari tengkulak besar digelontorkan. Petani meminjam uang dan mengijonkan tanamannya kepada tengkulak untuk kebutuhan konsumtif (kebutuhan yang sangat mendesak) dan jangka pendek.

Dalam transaksi jual beli ijon tersebut di atas, tidak lagi hanya mengandung unsur gharar, namun ada unsur-unsur lain yang terkandung dalam jual beli yang dilarang (seperti riba). Sudah menjadi rahasia umum kalau tengkulak leluasa membeli hasil panen petani dengan harga rendah (sesuai keinginannya) sehingga keuntungan akan selalu berpihak kepadanya. Sebaliknya, petani akan selalu dirugikan karena terbebani hutang dengan bunga pinjaman tinggi.

Jual beli ijon (baik seperti yang dipraktikkan pada zaman Rasulullah saw yang disebut dengan jual beli muhaqalah atau mukhadharah atau jual beli ijon yang terjadi di masyarakat adalah termasuk jual beli yang dilarang dan haram hukumnya. Wallahu a’lam.

Sumber Ilustrasi : https://manggaraidami.blogspot.com/2018/03/ijon-manggarai-adalah-proses-penjualan.html

Leave a Reply