ICAS 2020 : Menyiapkan Generasi Muda ‘Aisyiyah yang Tangguh

Berita 4 Oct 2020 0 58x

Yogyakarta, Suara ‘Aisyiyah- Aisyiyah  secara resmi membuka forum International Conference on ‘Aisyiyah Studies (ICAS) 2020 pada Sabtu (3/10). Forum yang diadakan secara daring ini akan membahas isu-isu strategis yang mau tidak mau harus dihadapi oleh ‘Aisyiyah sebagai organisasi perempuan berkemajuan.

Mengawali webinar seri pertama, dengan mengangkat topik Looking Forward ‘Aisyiyah: Ideologiy Contextualization for Movement and New Generations, tokoh-tokoh besar seperti Amin Abdullah, Ari Anshori, Masyitoh Khusnan, dan Salmah Orbaniyah memberi pengantar seputar apa yang terjadi pada dunia Islam dan global saat ini, dan apa yang seharusnya dilakukan oleh ‘Aisyiyah.

Amin Abdullah menyampaikan bahwa apa yang telah dan sedang dilakukan oleh ‘Aisyiyah itu bagus dan otentik. Bahwa konsep Islam Berkemajuan yang di dalamnya memuat semangat moderasi dan kemajuan sebenarnya sudah dibicarakan lebih dari seabad yang lalu, sehingga perlu untuk dipertahankan. Apalagi di tengah menguatnya ideologi liberal dan konservatif.

Kompleksitas persoalan yang menghantui umat dan bangsa dewasa ini harus dihadapi dengan menggunakan worldview keislaman yang berorientasi pada; (a) berpikir secara logis-rasional, (b) menjunjung kedamaian hidup bersama, (c) menjaga dan merawat kehidupan yang harmonis, (d) memahami budaya lokal sehingga tidak terlepas dari jati dirinya, (e) mendukung gender mainstreaming, dan (f) mengakui kesederajatan manusia di hadapan hukum.

Menurut Amin, derasnya arus media sosial kian memperparah situasi. Ia mewanti-wanti, jangan sampai generasi muda ‘Aisyiyah menjadi rapuh karena badai media sosial. Dalam hal ini, ‘Aisyiyah harus segera bertindak untuk menyiapkan generasi tangguhnya dengan cara mempelajari kecakapan baru (new skills), menerima pendekatan baru (multidisiplin, interdisiplin, dan transdisiplin), dan menyiapkan strategi untk mengatasi perubahan sosial yang berkelanjutan.

Senada dengan Amin, Salmah Orbaniyah mengatakan, “tantangan yang dihadapi ‘Aisyiyah saat ini sangat kompleks”. Menurutnya, pada era globalisasi ini ada lima tren baru yang menuntut Muhammadiyah-‘Aisyiyah untuk terus mengupdate perubahan-perubahan yang terjadi di masyarakat, sehingga keduanya dapat memberi warna positif dalam perubahan tersebut.

Lima tren tersebut adalah; (a) tren yang semakin dinamis, (b) maraknya ketidakteraturan dan ketidakpastian, (c) muncul persoalan baru yang beragam dan multi dimensional, (d) teknologi yang berdampak begitu cepat, baik positif maupun negatif, dan (e) perubahan karakter masyarakat.

Untuk menghadapi itu, jelas Salmah, generasi Muhammadiyah-‘Aisyiyah harus punya pemahaman tentang ideologi organisasinya dan mampu mentransfer nilai-nilai ideologi itu ke masyarakat umum. Menurutnya, ada berbagai cara yang dapat dilakukan, mulai dari yang konvensional sampai modern. Dari internalisasi ideologi secara kognitif melalui buku-buku, menghadirkan role model yang telah mengimplementasikan ideologi dalam kehidupan sehari-hari, sampai mengenalkan ideologi melalui sarana-sarana seperti media sosial, youtube, video, film pendek, musik dan seni, dan/atau sarana lain yang menghibur.

Dalam forum yang sama, Ari Anshori selaku Ketua Majelis Pembinaan Kader PP Muhammadiyah menyampaikan bahwa kontribusi Muhammadiyah-‘Aisyiyah itu ikhlas untuk memperbaiki kondisi negeri. Kerja-kerja keikhlasan itulah yang akan membuat apa yang dilakukan Muhammadiyah-‘Aisyiyah abadi. Ari menyampaikan, selama ini Muhammadiyah-‘Aisyiyah itu kuat sebagai gerakan sosial. Artinya spirit teologi Al-Ma’un telah meresap ke dalam alam pikiran pimpinan, kader, dan anggotanya.

Terkait apa yang sudah dilakukan ‘Aisyiyah, Masyitoh Khusnan menegaskan bahwa lembaga pendidikan ‘Aisyiyah dapat bertahan dan terus berkembang itu karena; penyelenggaraannya didasarkan pada nilai-nilai yang bersumber pada AL-Quran dan Sunnah; memiliki ruh keikhlasan dan orientasi mencari ridha Allah; mengutamakan kerjasama dengan tetap memelihara sikap kritis; berparadigma tajdid; berpihak kepada kaum dlu’afa, mustadl’afin, dan yang termarginalkan; dan memegang prinsip tawazun, tawasuth, dan moderat.
Akan tetapi, Masyitoh Khusnan tidak hendak terbawa romantisisme masa lalu. Tantangan yang mesti dihadapi ‘Aisyiyah itu nyata adanya. Ia merekomendasikan agar ‘Aisyiyah; terus menguatkan pendidikan di sektor paling kecil namun utama, yakni keluarga; menyelesaikan persoalan dengan pendekatan multidisiplin; mengintegrasikan program kerja dan menguatkan kerja sama, dan; tidak berhenti mengembangkan inovasi.

Selain empat narasumber utama tersebut, forum yang dihadiri lebih dari tiga ratus peserta dari berbagai daerah di Indonesia ini juga mengundang M. Endi Saputro dari Institut Agama Islam Negeri Surakarta dan Siti Fatimah dari Universitas Negeri Padang. Dalam forum ini, Endi menyampaikan artikel yang berjudul Singiran Nasjiatoel ‘Aisjijah Motivasi Islam dan Syair Pendidikan Aisyiyah Surakarta, sedangkan Fatimah tentang Raisah: Representasi Pejuan Perempuan ‘Aisyiyah dari Kalangan Sub-Altern. Baik Endi maupun Fatimah, keduanya mengungkap fakta sejarah yang belum banyak diketahui oleh pimpinan, kader, maupun anggota ‘Aisyiyah. (Sirajuddin)

Leave a Reply