Wawasan

Idul Fitri di Tengah Suasana Covid-19

(foto: pixabay)

Oleh: Shoimah Kastolani

Idul Fitri 1 Syawal adalah hari bergembira menyambut kemenangan Ramadhan Mubarak. Kemenangan setelah kita berikhtiar meningkatkan kualitas takwa melalui berbagai ibadah, sebagai media taqarub ilallah dan setelah menyucikan Ramadhan dengan zakat fitri. Namun, karena kita masih berada dalam suasana pandemi Covid-19, maka kita harus ikhlas dan mafhum menjalani Idul Fitri dengan suasana yang berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

***

Biasanya, persiapan Idul Fitri identik dengan suasana mudik yang dilakukan oleh para sanak famili yang bekerja dan berdomisili di luar kota, bahkan luar negeri. Mereka biasanya memupuk niat jauh-jauh hari untuk silaturahmi pada Idul Fitri sehingga sudah mempersiapkan dana untuk keperluan membeli tiket transportasi serta souvenir bagi sanak famili, rekan, dan tetangga di kampung.

Dalam kondisi normal, tradisi mudik merupakan sesuatu yang positif karena merekatkan kekeluargaan dan kekerabatan serta merawat hubungan sosial lingkungan setempat. Namun,  dalam suasana Covid-19, tradisi mudik perlu menjadi pertimbangan agar tidak menjadi mafsadat dan madharat untuk diri sendiri maupun orang lain. Pemerintah dalam hal ini masih melarang mudik untuk dilakukan.

Selain persoalan mudik, suasana Idul Fitri biasanya juga tidak lepas dari kegiatan yang menimbulkan konsentrasi berkumpulnya manusia di suatu waktu dan tempat. Kegiatan itu antara lain takbir keliling, salat Idul Fitri, open house, dan syawalan yang biasa dilakukan oleh kantor resmi pemerintah, swasta maupun masyarakat dari tingkat RT sampai tingkat provinsi. Dalam hal ini, Muhamamadiyah sebagai organisasi sosial kemasyarakatan yang besar telah mengambil inisiatif untuk membuat panduan bagi masyarakat secara luas melalui “Tuntunan Idul Fitri dalam Kondisi Pandemi Covid-19”.

Baca Juga

PP Muhammadiyah Rilis Edaran Tuntunan Idul Fitri 1442 H dalam Kondisi Pandemi Covid-19

Salat Idul Fitri adalah sunnah muakkadah dan merupakan syiar agama yang amat penting. Namun, apabila tersebarnya Covid-19 belum mereda, salat Idul Fitri dan seluruh rangkaiannya (mudik, pawai takbir, halal bihalal, dan sebagainya) baiknya diselenggarakan di rumah masing-masing atau di lapangan terbuka dengan tetap mematuhi protokol kesehatan. Adapun kumandang takbir ‘Id dapat dilakukan di rumah masing-masing atau di masjid, tanpa harus berkeliling.

Masyarakat dapat mengkondisikan keluarganya bahwa Idul Fitri  1442 H akan dilalui dengan sederhana, khidmat, dan penuh makna kebersamaan dalam keharmonisan. Hidup sederhana tanpa menunjukkan kemewahan justru akan membawa kita lebih memahami makna empati terhadap saudara-saudara kita yang terdampak pemutusan kerja, kehilangan mata pencaharian, dan kesulitan ikhtiar mengais rizki.

Covid-19 mendidik kita untuk lebih peduli dan menumbuhkan solidaritas untuk berbagi rizki. Selain itu, juga mewujudkan kemenangan Ramadan dengan menebar kebaikan itu melalui Gerakan Ta’awun Sosial Dampak Covid-19.

Related posts
Berita

PCIA Hongkong Bantu Buruh Migran Indonesia Terdampak Covid-19

Hongkong, Suara ‘Aisyiyah – Ketua Pimpinan Cabang Istimewa ‘Aisyiyah (PCIA) Hongkong Sri Nasiati Umaroh menyampaikan berbagai kesulitan yang dihadapi oleh teman-teman Buruh…
Berita

Pandemi Belum Usai, PWA NTT Istikamah Bantu Pemulasaraan Jenazah Covid-19

Kupang, Suara ‘Aisyiyah – Sampai saat ini, fluktuasi pasien Covid-19 dengan berbagai varian masih saja terjadi. “Fakta di lapangan kami melihat sangat…
Wawasan

Kesehatan Mental dan Peran Keluarga: Fenomena Masalah Kesehatan Mental Pasca Pandemi Covid-19

Oleh: Lofty Andjayani “Family is not important thing, it’s everything!” Michael J.Fox Keluarga mempunyai peran yang sangat besar dalam hal pembangunan sumber…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.