Hikmah

Inklusi Sosial dalam Perspektif Islam

Inklusi Sosial
Inklusi Sosial

Inklusi Sosial (foto: istockphoto)

Oleh: Hamim Ilyas

Sesuai dengan pewahyuannya pada awal abad ke-7 M dengan tujuan untuk mewujudkan rahmat Allah bagi seluruh alam (al-Anbiya’ [21]: 107), Islam mengajarkan (i) persatuan (al-Baqarah [2]: 213 dan Yunus [10]: 19), (ii) persamaan (H.R. Ahmad), (iii) kemuliaan (al-Isra’ [17]: 70), dan (iv) kemerdekaan manusia (al-Ahzab [33]: 72). Dalam sejarah, ajaran-ajaran hebat ini kemudian menjadi bagian dari sumbangan Islam untuk pelembagaan hak asasi manusia (HAM) yang mulai tahun 1990-an dilakukan dengan gerakan inklusi sosial.

Di antara muatan gerakan inklusi sosial ada yang tidak sejalan dengan ajaran-ajaran Islam yang berkembang dalam tradisi fikih dan dianut umat secara luas. Tulisan ini menyajikan wawasan tentang Islam yang dapat dijadikan alternatif rujukan dalam memberi respons kreatif terhadap gerakan tersebut. Wawasan dimaksud meliputi hakikat Islam, kapasitas, dan aksi otentik dalam beragama Islam.

Inklusi Sosial

Inklusi sosial adalah kondisi ketika semua individu atau kelompok masyarakat dapat berpartisipasi dalam seluruh bidang kehidupan: sosial, agama, ekonomi, politik, pendidikan, dan lain-lain. Dalam partisipasi, mereka tidak hanya sekadar menjadi objek, tetapi juga subjek yang memberi kontribusi dalam kehidupan bersama dalam semua bidang kehidupan tersebut. Dalam ekonomi, misalnya, mereka tidak hanya sekadar diberi akses untuk mendapatkan pekerjaan, tetapi juga mendapatkan kesempatan yang luas untuk produksi dan menghasilkan barang dan jasa untuk mewujudkan kesejahteraan bagi semua warga.

Inklusi sosial, sebagaimana disinggung di depan, telah menjadi gerakan untuk merengkuh kaum tersisihkan yang selama ini dianggap “tidak ada” dan dieksklusi. Dalam kerangka gerakan ini, pemerintah melalui Kementerian Kordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) melaksanakan program peduli dengan membagi mereka menjadi enam kelompok, yaitu: korban diskriminasi, intoleransi dan kekerasan berbasis agama; korban pelanggaran HAM berat; waria; masyarakat adat dan lokal terpencil yang tergantung pada sumber daya alam; difabel; dan anak dan remaja rentan.

Islam Rahmatan Lil ‘Alamin

Telah umum diketahui bahwa Islam adalah risalah rahmatan lil ‘alamin. Hakikat Islam ini ditegaskan dalam al-Anbiya [21]: 107 sebagai berikut:

 وَمَآ أَرْسَلْنَٰكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَٰلَمِينَ

Ayat tersebut menunjukkan perasaan lembut (cinta) yang mendorong untuk memberikan kebaikan nyata kepada yang dikasihi. Berdasarkan pengertian ini maka Islam diwahyukan Allah kepada Nabi Muhammad untuk mewujudkan kebaikan nyata bagi seluruh makhluk Allah. Kebaikan nyata dalam pengertian yang paling luas adalah hidup baik yang dalam an-Nahl (16): 97 disebut hayah thayyibah dan hanya dapat diwujudkan dengan amal saleh dan menjadi orang beriman (mukmin).

Dalam tafsir sabahat, hayah thayyibah meliputi tiga kriteria: rizki halal (Ibn Abbas dalam satu riwayat), qanaah/kepuasan (Ali bin Abi Thalib), dan kebahagiaan (Ibn Abbas dalam riwayat yang lain). Tafsir sahabat ini sejalan dengan perolehan iman dan amal saleh yang disebutkan dalam al-Baqarah (2): 62 dan menjadi kriteria hayah thayyibah yang diajarkan al-Quran:

Pertama, lahum ajruhum ‘inda rabbihim (sejahtera sesejahtera-sejahteranya/arrafahiyyah kulluha); kedua, wa la khaufun ‘alaihim (damai sedamai-damainya/as-salamu kulluha), dan; ketiga, wa la hum yahzanun (bahagia sebahagia-bahagianya/as-sa’adatu kulluha) di dunia dan di akhirat.

Kapasitas Muhsin

Supaya hakikat Islam tersebut dapat diwujudkan dalam kenyataan, dalam an-Nisa’ (4): 125 diajarkan keberagamaan terbaik yang di antaranya meliputi kapasitas muhsin. Muhsin merupakan kata benda bentuk pelaku (ism al-fa’il) yang kata kerjanya adalah ahsana-yuhsinu, bentuk transitif dari hasuna-yahsunu-husn-hasan.

Arti kata husn, menurut al-Jurjani- meliputi tiga pengertian, yaitu (i) ‘keadaan sesuatu menarik bagi watak manusia’, seperti gembira; (ii) ‘keadaan sesuatu menjadi sifat kesempurnaan’, seperti ilmu; dan (iii) ‘keadaan sesuatu menjadi sandaran pujian’, seperti ibadah (al-Jurjani, 1971: 46).

Pengertian ini diikuti oleh Abdul Mun’im al-Hafni yang memberikan tambahan pengertian dan penjelasan dengan adanya perbedaan pada sebagian contoh. Ia menambahkan pengertian husn juga adalah ‘keadaan sesuatu sesuai dengan tujuan dan memberikan maslahat’. Selanjutnya, ia menjelaskan bahwa yang dimaksudkan dengan watak dalam pengertian itu adalah ‘watak manusia yang menyenangi manfaat dan menolak madharat’.

Baca Juga: Menjadi Inklusif melalui Ruang Perjumpaan Kelompok yang Berbeda

Selain itu, ia menjelaskan bahwa lawan dari husn itu adalah qubh, ‘buruk’. Sebagai lawan dari husn, qubh itu berarti ‘keadaan sesuatu yang tidak disenangi watak manusia’, seperti rasa pahit; menjadi sifat kekurangan, seperti kebodohan; dan sandaran celaan, seperti maksiat (Abdul Mun’im al-Hafni, 1990: 98-99).

Berdasarkan arti yang berkembang dalam bahasa dan filsafat ini, maka muhsin dalam an-Nisa’(4): 125 itu memiliki pengertian yang luas, yakni ‘orang yang memiliki kapasitas untuk melakukan dan menghasilkan kebaikan-kebaikan dengan kriteria-kriteria berikut’:

Pertama, kebaikan itu menarik watak manusia yang menginginkan manfaat dan menolak madharat, seperti kemajuan, kegembiraan, dan rasa manis. Kedua, kebaikan itu menyempurnakan hidup manusia sebagai makhluk kebudayaan, seperti ilmu pengetahuan, teknologi, dan kesenian.

Ketiga, kebaikan itu membuat hidup manusia terpuji, seperti akhlak dan ketaatan kepada Tuhan. Keempat, kebaikan itu mengantarkan manusia untuk mencapai tujuan hidupnya dan tujuan penyelenggaraan bidang-bidang kehidupan yang dikelolanya. Kelima, kebaikan itu memberikan maslahat berupa manfaat untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia, baik kebutuhan primer, sekunder maupun tersier.

Pengertian kebaikan yang luas itu tampaknya yang dimaksudkan oleh az-Zamakhsyari dan al-Baidlawi ketika menjelaskan bahwa muhsin adalah ‘orang yang melakukan kebaikan dan meninggalkan keburukan-keburukan’. Selain itu, yang dimaksudkan at-Thabari dalam memberi pengertian muhsin adalah ‘orang yang melaksanakan segala yang diperintahkan Tuhan, mengharamkan segala yang diharamkan dan menghalalkan segala yang dihalalkan-Nya’.

Di samping berhubungan dengan makna kata, keluasan pengertian muhsin juga berhubungan dengan bentuk transitifnya yang membutuhkan objek. Objek yang menjadi sasaran pelaksanaan kebaikan dalam ayat tersebut tidak disebutkan. Dalam tafsir ada kaidah ‘adam dzikr al-maf’ul bih yadull ‘ala al-‘umum, tidak disebutkannya objek menunjukkan bahwa cakupannya (objek) luas. Berdasarkan kaidah ini maka sasaran kapasitas melakukan dan menghasilkan kebaikan yang dimaksudkan dalam ayat itu luas meliputi diri sendiri dan pihak lain, baik sesama manusia maupun makhluk Allah yang lain.

Aksi Pelayanan

Muslim yang memiliki kapasitas muhsin, melakukan dan menghasilkan kebaikan secara nyata harus melakukan aksi pelayanan. Jika tidak, maka dia menjadi orang yang mendustakan agama sebagaimana yang ditegaskan dalam surah al-Ma’un. Dalam surah al-Qur’\an ke-107 ini diajarkan dua aksi pelayanan yang harus dilakukan muslim supaya dia tidak menjadi kaum pendusta agama, yaitu tidak yadu’’u al-yatim dan yahudldlu ‘ala tha’am al-miskin.

Yadu‘u yang biasa diterjemahkan menghardik, dalam bahasa Arab berarti ’menolak dengan keras’. Dalam penolakan keras itu ada sikap kasar dan kejam sehingga dalam beberapa kitab tafsir, kata itu dimaknai dengan ’anafa yang berarti ’memperlakukan dengan kejam tanpa belas kasihan’.

Selanjutnya, pengertian yatim yang umum diketahui adalah ’anak yang sebelum mencapai usia baligh atau dewasa, ayahnya telah meninggal dunia’. Namun, pengertian yang sebenarnya tidak hanya itu. Dalam bahasa Arab, yatim berarti ’orang yang sendirian (munfarid)’ (Al-Ashfahani, t.t.: 575). Dalam penggunaannya sebagai istilah teknis (dalam fikih), yatim diberi pengertian sebagai ’anak yang sebelum baligh hidup sendirian, terputus hubungan dari atau kehilangan ayahnya yang memberinya nafkah’ (al-Jurjani, 1971: 136).

Ungkapan yadu’u al-yatim (menghardik yatim) tidak sekadar menunjuk sikap kasar kepada anak yatim, tetapi menunjuk makna yang jauh lebih dalam, yakni ’menghina dan meremehkan orang lemah yang tidak memiliki pelindung’. Anak yatim merupakan representasi nyata dari manusia yang lemah dan memiliki kebutuhan yang tidak dapat dipenuhinya sendiri.

Pada zaman Nabi, di samping ada penyakit, kejahatan dan laki-laki yang tidak bertanggung jawab, juga banyak perang antar-suku dan negara dan banyak pengembaraan. Mengingat ini maka dapat dipastikan bahwa pada masa itu banyak anak yang menjadi yatim tidak hanya karena orang tuanya meninggal lantaran sakit, menjadi korban kejahatan atau gugur di medan perang, tetapi juga lantaran ayah mereka merupakan pria yang tidak bertanggung jawab atau pergi mengembara dan tidak kembali lagi ke rumah.

Oleh karena itu, pengertian yatim di zaman Nabi tentunya tidak terbatas pada pengertian pertama yang umum diketahui itu. Selain itu, dalam khazanah kearifan Arab terdapat perkembangan pengertian yatim yang tidak dihubungkan dengan pemenuhan kebutuhan ekonomi, tetapi dihubungkan dengan ilmu dan moralitas. Kearifan itu menyatakan:

لَيسَ الْيَتيِمُ الَّذِى قَدْ مَاتَ وَالِدُهُ بلِ الْيَتيِمُ دَبِ َ يَتِيمَ اْلعِلْمِ وَاْلأ دَبِ

Artinya: “Orang yatim itu bukanlah orang yang ayahnya telah meninggal, tetapi orang yang tidak memiliki ilmu dan budi pekerti.”

Berdasarkan pemahaman di atas, maka yatim yang seharusnya mendapatkan pelayanan bukan hanya anak yang terlantar secara ekonomi, tetapi juga anak yang terlantar pendidikan, pemeliharaan kesehatan, dan pembinaan akhlaknya. Mereka itu dapat meliputi anak-anak yang orang tua atau keluarga mereka, karena kemiskinan dan sebab-sebab yang lain, tidak dapat melaksanakan tanggung jawabnya sebagai pengasuh, seperti anak-anak TKI/TKW, anak-anak jalanan dan anak-anak yang menjadi korban trafficking (perdagangan manusia), narkoba, salah pergaulan, dan korban teknologi komunikasi.

Dengan memperhatikan substansi keyatiman itu adalah “kesendirian”, maka orang-orang yang dikucilkan masyarakat dengan alasan tertentu, seperti penyakit dan orientasi seksual, juga dapat dikelompokkan sebagai yatim. Mereka itu adalah ODHA (orang dengan HIV/AIDS), penderita lepra, waria, dan lain-lain. Dengan demikian, yatim yang berhak mendapatkan pengkhidmatan itu ada yatim geneologis dan yatim sosial.

Selanjutnya, yahudldlu berarti ’mendorong dan menganjurkan’. Maksud ungkapan ini di sini tidak sekadar bahwa mukmin yang membenarkan agama itu menghimbau orang lain untuk menyantuni orang miskin setelah ia sendiri melakukan penyantunan kepadanya, melainkan juga ketika ia tidak dapat memberi bantuan materi karena keadaannya, ia aktif meminta orang lain untuk memberikan santunan (Muhammad Abduh, 1341 H: 162).

Adapun tha’am berarti makanan yang menjadi kebutuhan primer yang harus dipenuhi supaya orang dapat hidup baik. Kebutuhan primer ini di zaman agraris dulu meliputi pangan, sandang, dan papan. Pada zaman industri sekarang ini, untuk dapat hidup baik orang harus memiliki pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan bersaing. Untuk itu, dibutuhkan pendidikan dan kesehatan.

Baca Juga: Filantropi: Atasi Kemiskinan, Wujudkan Kehidupan Berkeadilan

Berkhidmat kepada yang yatim dan miskin pada zaman sekarang ini tidak cukup hanya dengan memberikan pangan, sandang, dan papan (feeding), tetapi juga kebutuhan lain yang dapat membuatnya bertahan hidup, sehingga pelayanan itu juga meliputi pendidikan dan kesehatan.

Selanjutnya, kata miskin dalam bahasa Arab dibentuk dari sakana yang berarti ’tidak banyak bergerak’. Dalam penggunaannya, kata ini digunakan untuk menunjuk orang dengan masalah ekonomi berat dan sedang: orang yang tidak memiliki harta sedikit pun (Qunaibi) dan orang yang memiliki pekerjaan, tetapi penghasilannya tidak mencukupi.

Orang tidak memiliki harta sedikit pun karena banyak faktor, di antaranya adalah tiadanya lapangan kerja, disabilitas, dan diskriminasi. Berhubungan dengan ini, ada pekerjaan yang secara agama tidak halal, seperti pelacuran dan agen perjudian, tetapi kalau tidak melakukannya, orang menjadi tidak memiliki pekerjaan. Berdasarkan ini maka orang yang seharusnya mendapatkan pelayanan karena kemiskinannya sudah barang tentu adalah orang miskin yang sudah biasa diketahui (fakir). Selain mereka adalah kaum pengangguran dan disabilitas, juga agen perjudian dan pekerja seks komersial (PSK).

Berkaitan dengan komunitas tersisihkan karena memiliki pekerjaan yang tidak halal dan memiliki perilaku dan orientasi seksual yang tidak sesuai dengan norma Islam, perlu ditegaskan bahwa aksi pelayanan kepada mereka tidak berarti membenarkan pekerjaan dan perilaku yang mereka kerjakan, tetapi untuk memberdayakan supaya bisa terentas dari keadaan yang mereka alami. Pemberdayaan yang pas untuk mereka adalah melalui pendidikan dan pelatihan.

Pemberdayaan demikian sangat sesuai dengan Muhammadiyah. Hal ini karena Muhammadiyah merupakan gerakan Islam, dakwah, dan amar makruf nahi munkar yang memiliki peran sosial dan kultural dalam penegakan hukum, bukan sebagai negara yang memiliki peran struktural memaksakan berlakunya hukum.

Related posts
Berita

Hamim Ilyas: Inklusi Sosial Sejalan dengan Ajaran Islam

Yogyakarta, Suara ‘Aisyiyah – Program Inklusi PP ‘Aisyiyah menggelar Workshop Penyusunan Buku GEDSI dalam Pandangan Islam Berkemajuan. Kegiatan berlangsung pada Rabu (11/1)…
Liputan

Menjadi Inklusif melalui Ruang Perjumpaan Kelompok yang Berbeda

“Menjadi Indonesia artinya bersepakat untuk menerima segala perbedaan yang ada. Menjadi Indonesia itu bukan menerima satu agama, etnis, atau golongan tertentu saja,…
Berita

Muhammadiyah-Aisyiyah Berikan Contoh Nyata Pendekatan GEDSI dalam Gerakan

Yogyakara, Suara ‘Aisyiyah – GEDSI tidak lahir dari struktur masyarakat Indonesia, tetapi inti yang ingin diwujudkan dengan social inclusion adalah sama dengan…

9 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *