Inovasi dan Kreativitas, Jalan Dakwah ‘Aisyiyah

Liputan 5 Jun 2020 0 65x

Bertambahnya usia Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah dalam melakukan dakwah Islam, amar ma’ruf nahi munkar memerlukan upaya inovatif di berbagai bidang, seperti  bidang ekonomi, pendidikan, kemanusiaan, dan lainnya. Menurut Ririn Dewi Wulandari, Wakil Sekretaris Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah (PWA) Jawa Barat, inovasi adalah mengkaji  sesuatu yang berbeda atau membuat sesuatu yang belum ada sebelumnya, berdasarkan data-data yang dimiliki.

This image has an empty alt attribute; its file name is aisyiyah-rev1-1024x462.jpg
Foto bersama usai pertemuan Balai Sakinah Aisyiyah (BSA) Cakalang, MAMPU-Aisyiyah Kabupaten Bantaeng

Lebih lanjut Ririn yang dihubungi SA pada Sabtu (11/1) itu mengatakan bahwa inovasi dalam bidang advokasi dan pemberdayaan sangat dibutuhkan untuk mencapai goal yang dicanangkan. Biasanya inovasi lahir dari proses monitoring dan evaluasi sistem. “Ketika kita menemukan sesuatu yang kita lakukan sebelumnya ternyata tidak efektif dan efisien, ditentukanlah sebuah  inovasi” tuturnya. 

Ririn tidak menampik bahwa jalannya sebuah inovasi bisa mudah, tetapi juga bisa alot. “Ketersediaan data, kemampuan kita mengenal atau memetakan aktor, serta ketepatan metode memegang peran penting. Gebrakan- gebrakan baru yang kita lakukan biasanya akan mudah di-ingat dan mendapat poin plus dari para pemegang kepen-tingan” ujarnya.

Kendala dalam berinovasi itu, menurut Ririn, adalah manajemen pengetahuan. Seringkali kebijakan-kebijakan yang sudah dihasilkan di tingkat Pusat sudah luar biasa, tetapi implementasi di tingkat Daerah sampai Ranting masih mengalami banyak hambatan.

“Keberanian melakukan inovasi atau sesuatu yang berbeda masih jarang sekali kita temui.  Padahal, inovasi sangat dibutuhkan. Setiap daerah harus melakukan inovasi sesuai dengan konteks atau evidence base di daerahnya masing-masing,” jelas Ririn.

Ririn menjelaskan inovasi dalam dakwah menurutnya harus melihat pada tiga hal, yaitu (i) kebutuhan penerima manfaat, (ii) kekhasan isi atau content, dan (iii) metode yang digunakan. Semua itu, tegas Ririn, memerlukan data atau asesmenterlebih dahulu. “Posisi amal usaha harus jelas di mana, kemudian petakan target dan segmen konsumen dakwah kita. Tentunya setiap segmen akan memerlukan sentuhan yang berbeda,” tegasnya. 

“Jika semua hal di atas sudah dilakukan, konsistensi dalam implementasi, monitoring, dan evaluasi sistem juga harus kita lakukan,” ujarnya. Sayangnya, kata Ririn, ‘Aisyiyah masih memiliki kelemahan, terutama yang ada di grassroots atau Ranting. Kelemahan itu adalah kelemahan dalam melakukan asesmen, analisis, dan penentuan kebijakan. Padahal, hal itu penting untuk menjawab kebutuhan.

Perihal kurangnya asesmen, Ririn menjelaskan bahwa itu dapat terjadi apabila para kader kurang menguasai pengetahuan tentang asesmen ataupun skill pengelolaan program. Selain itu, dapat terjadi karena kebiasaan yang belum mengakar. Mengenai ruh dakwah, warga ‘Aisyiyah memang tidak perlu diragukan, tetapi akan lebih efektif apabila warga ‘Aisyiyah menguasai skill tersebut.

Ririn mengatakan, “Kalau kita tidak melakukan inovasi, kita bisa ditinggal oleh sasaran dakwah kita karena zaman dan sasaran dakwah terus berubah. Alasan kita ditinggalkan ialah   karena kebutuhan mereka tidak dapat kita penuhi.” Inovasi program dapat mengacu pada turunan atau kebijakan dari struktur di atasnya. Akan tetapi, dalam perencanaan kegiatannya harus berdasarkan hasil asesmen atau data di daerahnya masing-masing sehingga tepat memenuhi kebutuhan masyarakat yang dilayaninya. Hal yang perlu ditekankan ialah, ketika kita membuat kegiatan, jangan berdasarkan kemampuan atau mudahnya kita, tetapi kegiatan yang dapat  menjawab problem masyarakat.

Karena itu, Ririn mengimbau para kader untuk terus meningkatkan kemampuan, skills up to date, dengan kebutuhan kekinian. Ke depan, tantangan yang dihadapi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah membutuhkan peningkatan knowledge, skill, dan attitude. Proses meningkatkan kemampuan pengetahuan dan keterampilan, serta sikap dan perilaku harus jelas. Selain ideologi, manajemen program, dan skill pengelolaan amal usaha, warga ‘Aisyi-yah juga penting menguasai IT.

Inovasi dalam pandangan lain disampaikan oleh pebisnis Ahmad Najib Wiyadi atau yang kerap disapa Kang Gothang. Dalam melaksanakan gerakan inovatif dan kreatif dalam bidang pemberdayaan, Kang Gothang menyampaikan perlunya meneruskan kerja-kerja pemberdayaan dengan pengorganisasian komunitas. Artinya, penerima manfaat diberi kesadaran awal pada daya juang dan daya dobrak.

Semua disesuaikan dengan sifat penerima manfaat. “Jadi, intinya orang ini melihat kaum mustad’afin itu dengan kacamata kail. Mereka harus bisa melihat kebutuhan dasar dan selanjutnya diberi fasilitas. Tidak diberi ikan, tetapi diberi kail supaya dapat kontinu di kemudian hari. Inilah bentuk pemberdayaan oleh kelompok-kelompok dengan orientasi pemberdayaannya untuk life skill.

Menurut Kang Gothang, ‘Aisyiyah perlu merevitalisasi gerakan-gerakan penafsiran baru  dari al-Maun sehingga akan muncul tafsir bahwa produk kemiskinan yang ditimbulkan oleh struktur negara atau ruang ekonomi kapitalis dapat menjadi sasaran dakwah ‘Aisyiyah. “Dibutuhkan gerakan sosial baru di level dua atau tiga, menggunakan wacana pengorganisasian dan gerakan sosial yang menjurus pada penguatan lifeskill kepada penerima manfaat,” ungkapnya.

Muhammadiyah itu ruhnya adalah pro orang kecil. Dulu penafsiran pro orang kecil diaktualisasi lewat pendidikan dan kesehatan. Lambat laun Indonesia bertumbuh dan berkembang, maka mau tidak mau residu pembangunan bergerak ke arus ruang kemiskinan. (Syifa)

Sumber ilustrasi : https://www.mampu.or.id/mitra-kami/aisyiyah-3/

Baca selengkapnya di Rubrik Liputan Utama, Majalah Suara ‘Aisyiyah Edisi 2 Februari 2020

Leave a Reply