Berita

Jika Tidak Mau Ketinggalan, Muhammadiyah Harus Berlari Mengikuti Perubahan Zaman

Yogyakarta, Suara ‘Aisyiyah Tantangan dakwah Muhammadiyah abad kedua berbeda dengan tantangan di abad pertama. Di era yang serba digital ini, menurut Ketua PP Muhammadiyah Dadang Kahmad, Muhamamdiyah perlu mengambil peran dan berjuang.

Pernyataan itu ia sampaikan dalam forum Seminar Pra-Muktamar Muhammadiyah-‘Aisyiyah 2022. Menurutnya, tema “Media, Masyarakat Digital, dan Dakwah Muhammadiyah” yang diangkat dalam forum ini sangat relevan dengan kondisi sosial budaya masyarakat. Era teknologi digital telah melahirkan tantangan baru di berbagai bidang.

Mengutip pernyataan Anthony Giddens, Dadang menyebut bahwa dunia saat ini sedang berlari tanpa kendali. Perubahan tersebut, katanya, bukan hanya berimplikasi pada aspek sosial budaya, tetapi juga menusuk ke hampir seluruh aspek kehidupan manusia, termasuk aspek keagamaan yang sensitif.

Yang tidak kalah mengkhawatirkan dari perubahan tersebut adalah sikap keagamaan kalangan milenial yang mengalami pelunturan. Selain itu, merujuk berbagai penelitian mutakhir, kalangan milenial juga kurang mengenal organisasi-organisasi keagamaan seperti Muhammadiyah dan NU, dan lebih mengenal ustaz-ustaz di media sosial.

Baca Juga: Seminar Pra-Muktamar II: Mencari Formula Dakwah Muhammadiyah di Era Teknologi Digital

Oleh karena itu, kata Dadang, Muhammadiyah harus serius menghadapi perubahan zaman. Menurutnya, amal usaha Muhammadiyah yang eksis saat ini merupakan warisan masa lalu yang sangat berorientasi organik. Ia menilai Muhammadiyah kurang banyak berkreasi melahirkan amal usaha baru yang betul-betul merespons keberadaan masyarakat digital, seperti membuat sistem pendidikan, kesehatan, ekonomi pemberdayaan umat, dan sistem dakwah Islamiyah yang berbasis digital.

Menurutnya, Muhammadiyah setidaknya harus merespons minimal dengan tiga langkah, yakni antisipasi, adaptasi, dan inovasi. Langkah antisipasi adalah dengan mencermati perubahan masyarakat dari waktu ke waktu. Langkah adaptasi dengan menyesuaikan perangkat lama yang masih bisa direkonstruksi dengan tuntutan zaman. Dan langkah inovasi dengan berubah menyesuaikan diri dengan zaman.

“Ketika dunia lari, maka Muhammadiyah harus berlari mengimbangi perubahan tersebut. Jika tidak, kita akan ketinggalan zaman, dan akhirnya akan dilupakan,” terang Dadang pada Kamis (10/3).

Sebagai pungkasan, ia berharap seminar dapat menghasilkan output yang betul-betul bisa diaplikasikan oleh persyarikatan dalam menanggapi perubahan zaman yang serba cepat. Selain itu juga mampu memberikan arah dalam antisipasi, adaptasi, dan inovasi gerakan perjuangan dakwah amar makruf nahi munkar Muhammadiyah. (sb)

Related posts
Berita

Pembangunan Masjid Muhammadiyah di Aceh Dihentikan, Sekum PP Muhammadiyah Ikut Bersuara

Bireuen, Suara ‘Aisyiyah – Aparat gabungan dari Satpol PP. Sangso satu desa yang berada di Kecamatan Samalanga, Kabupaten Bireuen, Aceh, melakukan penghentian…
Berita

Sandiaga Uno Sebut Halal Entrepreneur sebagai Potensi Besar Perekonomian Indonesia

Bandung, Suara ‘Aisyiyah – Menurut data Dinas Kependudukan Catatan Sipil tahun 2022, terdapat 87% masyarakat muslim yang ada di Indonesia. Data tersebut…
Berita

Haedar Nashir: Muhammadiyah Harus Serius Memperkuat Basis Ekonomi Umat

Bandung, Suara ‘Aisyiyah – Memperkuat basis ekonomi umat adalah jihad fii sabilillah. Pernyataan itu disampaikan Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir dalam…

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.