Berita

Jumlah Anak Yatim Piatu Meningkat Akibat Covid-19, Muhammadiyah-Aisyiyah Minta Pemerintah Segera Turun Tangan

ilustrasi masker
ilustrasi masker

ilustrasi masker (freepik)

Yogyakarta, Suara ‘Aisyiyah – Pandemi Covid-19 melahirkan masalah baru, yakni meningkatnya jumlah anak yatim/piatu. Menanggapi peningkatan jumlah tersebut, Rita Pranawati selaku Komisioner KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia) menyatakan bahwa situasinya cukup rumit.

Menurutnya, jika terdapat satu keluarga terpapar Covid-19 atau ada salah satu di antara anggota keluarga yang meninggal akibat Covid-19, tetangga atau warga sekitar kemungkinan akan takut untuk memberikan bantuan, karena riwayat kematian yang diakibatkan Covid-19.

Baca Juga: Abdul Mu’ti Apresiasi Perhatian Nasyiatul Aisyiyah pada Isu Keluarga dan Anak

Rita menambahkan bahwa situasi tersebut memang tidak mudah, apalagi bagi anak yang ditinggalkan orang tuanya. Meski begitu, lanjutnya, anak-anak yang ditinggal orang tuanya tetap memiliki hak untuk mendapatkan pengasuhan terbaik, baik dari keluarga, atau melalui proses pengangkatan anak asuh, sampai dengan pilihan terakhir, yakni dikirim ke panti asuhan.

Di tengah situasi itu, Ridwan Furqoni selaku Ketua Majelis Pelayanan Sosial (MPS) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DI Yogyakarta (PWM DIY) menjelaskan bahwa Muhammadiyah ikut mengambil peran dalam permasalahan tersebut dengan melakukan proses pendataan jumlah anak yatim-piatu akibat pandemi Covid-19.

“Pertama, kita identifikasi melalui proses pendataan, baik mengenai nama, tempat tinggal, dan siapa orang tuanya. Dari data tersebut, kita akan melakukan assessment, sehingga kita bisa mengetahui kebutuhannya, kemudian kita bantu sesuai dengan kebutuhan tersebut. Kalau kebutuhannya sampai pada bantuan pengasuhan karena kehilangan kedua orang tua, ya nanti dicarikan orang tua asuh atau dibawa ke panti asuhan,” jawab Ridwan saat dihubungi mahasiswa magang Suara ‘Aisyiyah pada Rabu (4/8).

Baca Juga: Penanganan Covid-19 Berbasis Komunitas

Pimpinan Pusat `Aisyiyah juga turut merespons permasalahan ini dengan menggerakkan potensi yang dimiliki untuk mengupayakan perlindungan bagi anak-anak yang ditinggal orang tuanya akibat pandemi Covid-19.

“Peningkatan angka anak yatim piatu akibat Covid-19 cukup memprihatinkan, dan akan berdampak buruk kepada tumbuh kembang anak, baik dari sisi pemenuhan kebutuhan fisik maupun psikis anak, terlebih jika tidak ada penanggulangan tepat atau pemberian solusi terhadap masalah tersebut,” jelas Esty Martiana selaku Ketua Majelis Kesejahteraan Sosial PP `Aisyiyah saat dihubungi mahasiswa magang Suara ‘Aisyiyah pada Sabtu (7/8).

Mewakili pimpinan Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah, Ridwan dan Esty menyampaikan harapan agar pemerintah segera merespons permasalahan tersebut, sehingga proses tumbuh kembang anak tidak terhambat dan mereka tetap mendapatkan pemenuhan kasih sayang, baik dari anggota keluarga lain, orang tua asuh, atau dari pihak panti asuhan. (cheny/rizka)

Related posts
Berita

PCIA Hongkong Bantu Buruh Migran Indonesia Terdampak Covid-19

Hongkong, Suara ‘Aisyiyah – Ketua Pimpinan Cabang Istimewa ‘Aisyiyah (PCIA) Hongkong Sri Nasiati Umaroh menyampaikan berbagai kesulitan yang dihadapi oleh teman-teman Buruh…
Berita

Pandemi Belum Usai, PWA NTT Istikamah Bantu Pemulasaraan Jenazah Covid-19

Kupang, Suara ‘Aisyiyah – Sampai saat ini, fluktuasi pasien Covid-19 dengan berbagai varian masih saja terjadi. “Fakta di lapangan kami melihat sangat…
Wawasan

Kesehatan Mental dan Peran Keluarga: Fenomena Masalah Kesehatan Mental Pasca Pandemi Covid-19

Oleh: Lofty Andjayani “Family is not important thing, it’s everything!” Michael J.Fox Keluarga mempunyai peran yang sangat besar dalam hal pembangunan sumber…

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.