Kajian PRA Ngimbang: Perintah Berjilbab Masuk Kategori Ayat Muhkamat

Berita 11 Des 2021 0 92x

Tuban, Suara ‘Aisyiyah – Berbicara tentang al-Quran, ada ayat-ayat yang bersifat muhkamat dan ada yang bersifat mutasyabihat. Hal itu disampaikan Iwan Abdul Gani pada kajian dua pekanan yang diadakan oleh Pimpinan Ranting ‘Aisyiyah (PRA) Desa Ngimbang, Kecamatan Palang, Kabupaten Tuban. Jum’at (10/12/2021).

Menurut mubaligh Muhammadiyah asal Nusa Tenggara Timur itu, ayat-ayat muhkamat relatif mudah dipahami tanpa membuka kitab-kitab tafsir. Contohnya ayat terkait perintah mengenakan jilbab bagi perempuan.

“Ayat-ayat tentang kewajiban memakai jilbab itu muhkamat, bukan mutasyabihat. Maka sungguh aneh jika ada umat Islam yang masih berdebat masalah hukum memakai jilbab,” tandasnya.

Menurutnya, banyak persoalan umat yang lebih penting untuk dicarikan solusinya daripada menyibukkan diri berdebat hukum jilbab yang sudah jelas dalilnya.

Baca Juga: Bolehkah Perempuan Safar Tanpa Mahram?

Dia kemudia mengutip ayat ke 31 dari surat an-Nur tentang kewajiban memakai jilbab bagi perempuan. Pada ayat tersebut, kata dia, mengandung larangan dan juga perintah.

“Perintahnya kepada perempuan mukminat hendaknya memakai kerudung atau jilbab untuk menutup sampai ke dadanya. Larangannya tidak boleh menampakan perhiasan kecuali yang nampak kepada laki-laki yang bukan mahramnya,” kata dia.

Dia menjelaskan bahwa dalam kaidah fikih, hukum larangan adalah haram sampai ada dalil yang memalingkan keharamannya dan hukum perintah adalah wajib sampai ada dalil yang memalingkan kewajibannya.

“Jadi jelas ya ibu-ibu, jilbab hukumnya wajib bagi perempuan mukminat karena tidak ditemukan dalil yang memalingkan perintah tersebut,” tegasnya.

“Imam Nawawi rahimahullah berkata dalam Al-Bayan, jilbab adalah khimar yaitu penutup kepala dan izar yaitu kain penutup badan. Jadi jilbab adalah kain yang lebar seperti rida’ atau mantel, kain tersebut menutupi punggung dan dada perempuan,” tuturnya.

Menjawab pertanyaan mengapa perempuan enggan mengenakan jilbab, menurut dia, selain faktor hidayah juga karena faktor dari diri perempuan itu sendiri.

Kata dia, masih banyak perempuan yang merasa dirinya Islam, tetapi beranggapan bahwa mengenakan jilbab itu hak, bukan kewajiban.

“Repotnya ada yang menganggap jilbab itu hak karena menganggap tubuh itu miliknya bukan milik Allah. Ironis memang ada saudara kita yang menuntut hak di atas kewajiban dari Allah. Ini tugas kita semua untuk mendakwahkan mereka, tentu dengan hikmah dan mau’izah hasanah,” ujarnya

Dalam kajian tersebut, dia mengapresiasi PRA Ngimbang yang konsisten mengadakan kajian dua pekanan. Dalam catatannya, ‘Aisyiyah Ranting Ngimbang termasuk yang aktif di antara ranting-rantingan lainnya.

“Saya selalu mengikuti perkembangan ‘Aisyiyah, karena sering menulis berita tentang kegiatannya, ‘Aisyiyah ranting Ngimbang termasuk yang aktif dalam catatan saya,” tutupnya. (IAG)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *