Kampung Ramah Anak

Sosial Budaya 18 Apr 2020 0 220x

Dan orang orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (Kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.

(Al-Furqan: 74)

Qaryah Thayibah dari segi bahasa berarti desa/ kampung yang baik yang mampu memberikan rasa aman kepada seluruh warganya termasuk anak-anak. Setiap anak terlahir dalam keadaan fitrah. Orang tuanyalah yang sangat berperan dalam menjadikan anak seperti yang tersurat dan tersirat dalam ayat tersebut di atas.

Anak merupakan aset potensial penentu masa depan bangsa. Oleh karena itu, anak harus tumbuh secara wajar dan terpenuhi kebutuhan masa kanak-kanaknya. Undang-undang No. 23 tahun 2002 tentang Hak-hak Anak berbunyi, bahwa anak memiliki hak bermain dan berkreasi, anak berhak berprestasi, bebas beragama, bebas berkumpul dan bergaul; bebas berserikat, hidup dengan orang tua, berhubungan dengan orang tua bila dipisahkan, anak berhak mendapatkan kelangsungan hidup, tumbuh dan berkembang, serta bebas dari kawasan rokok.

Hak-hak anak tersebut harus terus disosialisasikan agar masyarakat memiliki kesadaran tentang kewajiban memenuhi hak-hak anak secara bersama-sama, serta mendapatkan dukungan dari pemerintah, baik pemerintah setempat maupun pemerintah daerah.

Faktor yang Mempengaruhi Tumbuh Kembang Anak

Meningkatnya permasalahan anak baik yang diakibatkan dari lingkungan maupun keluarga  menyebabkan anak menjadi korban adalah kurangnya perhatian terhadap hak-hak anak. Hunian yang semakin padat di sebuah kampung/desa menyebabkan lahan untuk menciptakan kawasan ramah anak menjadi semakin minim. Padahal menurut Dadang, dalam Ilmu Kedokteran Jiwa dan Kesehatan Jiwa bahwa tumbuh kembang anak seutuhnya dipengaruhi oleh empat factor yang saling berinteraksi satu sama lain, yaitu faktor organibiologik, psiko-edukatif, sosial budaya, dan spiritual (agama). Anak akan tumbuh sehat apabila keempat faktor tersebut dapat terpenuhi.

Tumbuh kembang anak secara kejiwaan yaitu IQ dan EQ sangat dipengaruhi oleh sikap, cara mendidik, makanan yang bergizi serta kasih sayang, perhatian, pendidikan, dan pembinaan. Pada hakikatnya anak memiliki daya kompetensi yang harus dikembangkan yaitu kemampuan untuk percaya kepada orang lain, sikap terbuka, dan kemampuan mengendalikan diri. Hal yang tidak kalah penting adalah pendidikan agama, karena terkandung nilai-nilai moral, etik, dan pedoman hidup yang universal agar menjadi generasi yang berilmu, cerdas, terampil, mandiri, dan beriman.

Mewujudkan Kampung Ramah Anak

Untuk merealisasikan adanya kampung ramah anak sebagai upaya pemenuhan kebutuhan dan jaminan terhadap hak-hak anak perlu adanya gerakan dan gebrakan mengubah lingkungan alam sekitar menjadi lingkungan ramah anak. Dalam mewujudkannya di setiap daerah, kampung/desa memiliki program kampung ramah anak yang dikonstruksikan sebagai bentuk perubahan sosial sebagai upaya memberikan penghargaan terhadap aspirasi anak dengan memberikan fasilitas yang memadai. 

Menurut Kevin bahwa kawasan yang baik adalah yang mampu memberikan akses kemudahan, kenyamanan, keamanan, dan keadilan bagi seluruh warganya serta dapat meningkatkan vitalitas, sumber daya serta potensi yang ada dalam masyarakat dan wilayah termasuk kebutuhan anak dalam bermain dan belajar.

Beberapa fasilitas yang perlu disiapkan untuk mewujudkan kampung ramah anak antara lain sebagai beikut. Pertama, sarana bermain yang memadai yang memberikan kesempatan kepada anak untuk berkreasi,  mengembangkan hobby dan menyalurkana bakatnya; kedua, sarana olah raga yang rekreatif; ketiga, terdapat taman pustaka anak dengan penyediaan buku-buku yang mendidik sesuai dengan perkembangan kecerdasan, kejiwaan, serta sosial; keempat,  sarana pengembangan seni budaya. Hal tersebut juga penting karena pada hakikatnya seni merupakan ilmu yang dapat membuka cakrawala baru dan bermanfaat, serta mampu menyingkap keindahan dan keajaiban dunia ciptaan Allah.

Sedangkan budaya memiliki banyak pemaknaan antara lain segala daya dan aktivitas manusia untuk mengelola dan mengubah alam; kelima, memberikan nuansa ramah anak pada fasilitas umum seperti sekolah, masjid/mushala, pasar, dan lainnya; keenam, mengubah lingkungan kampung/desa agar memiliki panorama yang indah, lingkungan yang harmonis, dan artistik, higienis, dan suasana tenang, nyaman, kondusif untuk pembelajaran.

Lingkungan yang demikian sangat pantas disebut kampung/desa yang ramah anak. Dari kampung yang seperti itu akan mampu menghadirkan generasi yang sehat jasmani, rohani, IQ & EQ tinggi, serta sehat secara sosial.. “…Allah menggembirakan hamba-hamba-Nya yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh. Katakanlah: “Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upahpun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan” (Asy-Syura:23) (Msn)

Tulisan ini pernah dipublikasikan pada Majalah Suara ‘Aisyiyah Edisi 8, Juli 2017, Rubrik Qaryah Thayibah

Sumber Ilustrasi : https://topvoxpopuli.com/2018/10/25/mahasiswa-stkip-ruteng-rintis-kampung-ramah-anak/

Leave a Reply