Karya Muhammadiyah untuk Visi Perempuan Berkemajuan (1)

Perempuan 4 Aug 2020 0 128x

Nyai DahlanSiti Walidah bersama Hoofdbestuur ‘Aisyiyah Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah memimpin Kongres Besar ‘Aisyiyah XVIII (Sumber : aisyiyah.or.id)

Oleh : Wawan Gunawan Abdul Wahid

Muhammadiyah adalah ormas Islam yang bertujuan menegakkan ajaran Islam dan mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-bebenarnya. Untuk mewujudkan cita-cita tersebut Muhammadiyah berkomitmen untuk menegakkan ajaran Islam di tengah masyarakat. Di antara ajaran Islam yang terus menerus digelorakan dan diejawantahkan Muhammadiyah adalah ajaran tentang Islam berkemajuan. Visi Islam berkemajuan yang dipahami Muhammadiyah disemburatkan ke berbagai gerak langkah organisasi. Dari sekian yang menjadi komitmen Muhammadiyah adalah visi perempuan berkemajuan. Visi Muhammadiyah tentang perempuan berkemajuan dapat dilihat pada karya-karya yang dihasilkan Muhammadiyah.

Ahmad Dahlan sebagai Tokoh Penggerak Kemajuan

Diyakini bahwa Ahmad Dahlan adalah manusia reformis yang gandrung dengan perubahan. Sosok reformis Ahmad Dahlan tidaklah muncul dengan tiba-tiba. Visi berkemajuan yang menghinggapi Ahmad Dahlan berawal dari kebiasannya mempertanyakan berbagai hal yang berada disekitarnya. Ia pun belajar dengan menyauk pelbagai bacaan dan pengalaman.  Sepulang belajar dari Pusat Wahabi Kerajaan Saudi Arabia, Ahmad Dahlan tidak hanya membaca kitab-kitab yang berfahamkan Wahabi. Ahmad Dahlan membaca berbagai kitab mazhab dan aliran. Sejak dari yang skriptualis hingga yang liberal. Mulai dari aliran Hanbali hingga Hanafi bahkan Mu’tazili. Yakinlah bahwa Ahmad Dahlan adalah manusia pembelajar atau manusia mujaddid.

Perspektif Mut’tazili yang reformis yang dipelajari Ahmad Dahlan terungkap saat Ia membaca kitab tafsir al-Manar yang lebih lengkap disebut sebagai Tafsir al-Quranil Hakim asy-Syahir bi Tafsir al-Manar yang disusun oleh Sayid Ahmad Rasyid Ridla dan Muhammad Abduh. Kiranya dari halaman-halaman tafsir inilah manusia Ahmad Dahlan mengambil pelajaran bahwa perempuan dan laki-laki setara dihadapan Allah. Yang membadakan keduanya adalah martabat dan kualitas  keimanannya. 

Dari bacaan itulah Ahmad Dahlan tiba pada simpulan bahwa sebagaimana halnya laki-laki perempuanpun  punya kewajiban untuk hadir di ruang publik. Ahmad Dahlan tegaskan bahwa “urusan dapur janganlah dijadikan halangan untuk menjalankan tugas dalam menghadapi masyarakat”. Kalimat yang tampak “biasa-biasa saja” jika dibaca saat ini tetapi  ia menjadi luar biasa pada saat pertamakali diucapkan oleh penuturnya. Sebab dari kalimat tersebut dapat difahami bahwa sebagaimana halnya laki-laki dibebani kewajiban berdakwah maka perempuan pun dikenai beban kewajiban yang sama. Karena itu pada saat yang sama alasan ini mencuatkan satu hal. Yaitu bahwa paham keagamaan Kyai Dahlan sangatlah progresif. Paham dimaksud adalah bahwa Kyai Dahlan meyakini bahwa Islam mengajarkan kesetaraan antara perempuan dan laki-laki. 

Karya-karya Muhammadiyah untuk Perempuan Berkemajuan 

Muhammadiyah adalah Ormas Islam yang memiiliki pengalaman panjang dalam mendesain berbagai langkah untuk memuliakan perempuan. Langkah-langkah dimaksud, utamanya dapat dibaca dalam berbagai dokumen yang dihasilkan Muhammadiyah. Berikut ini karya-karya terpenting dimaksud:

– ‘Aisyiyah Momentum Pertama Perempuan Berkemajuan

Di antara karya Muhammadiyah yang sarat dengan ajaran berkemajuan adalah ketika Kyai Ahmad Dahlan mendirikan ‘Aisyiyah pada tahun 1917. Aisyiyah mengasilkan buah karya seperti pendirian taman kanak-kanak yang kemudian dikenal dengan nama Taman Kanak-Kanak ‘Aisyiyah Bustanul Athfal. Tahun 1922 ‘Aisyiyah merintis pendirian tempat shalat khusus bagi perempuan di Kauman Yogyakarta dan dikenal dengan nama Mushalla ‘Aisyiyah. Tahun 1923 ‘Aisyiyah melakukan gerakan pemberantasan buta huruf Arab Latin dengan kegiatan belajar membaca dan menulis, yang salah satu pesertanya adalah Nyai Walidah sendiri.

Tahun 1926 diterbitkan Majalah Suara ‘Aisyiyah. Tahun 1930 ikut serta dalam mengadakan Kursus Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan setelah Kongres Pemuda tahun 1928 Tahun 1934 menyelenggarajkan Lomba Bayi Sehat bersamaan dengan pelaksanaan Kongres ‘Aisyiyah ke-26 di Yogyakarta. Visi perempuan berkemajuan yang diwarisi ‘Aisyiyah tampak pada hadirnya dua sosok Siti Hayinah dan Siti Munjiyah. Dua Srikandi ‘Aisyiyah ini  terlibat aktif dalam Kongres Perempuan Pertama pada tahun 1928. 

Dalam usianya yang ke-100 tahun ‘Aisyiyah sarat dengan berbagai karya yang membantu bangsa dan ummat. Sejak dari mensukseskan projek keluarga berencana hingga mengejawantahkan tuntunan keluarga sakinah. Yang paling dini visi berkemajuan ‘Aisyiyah terlihat pada pendirian Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta pada tahun 2016.

– Tuntunan Mencapai Isteri Islam Yang Berarti

Karya Muhammadiyah untuk visi perempuan berkemajuan terbaca pada upayanya membantu Ibu-ibu ‘Aisyiyah periode awal untuk Tuntunan Mencapai Isteri Islam Yang Berarti. Ini adalah buah Kongres ‘Aisyiyah ke-26 yang dilangsungkan di Yogyakarta.  Karya ini jika tidak dibaca secara menyeluruh terkesan sebagai karya biasa yang hanya menginformasikan tuntunan bagi warga ‘Aisyiyah khususnya dan perempuan Muslimah pada umumnya. Pengantar dokumen ini menerankan bahwa:  . . .

Bersambung ke Karya Muhammadiyah untuk Visi Perempuan Berkemajuan (2)

 

Leave a Reply