Karya Muhammadiyah untuk Visi Perempuan Berkemajuan (2)

Perempuan 4 Aug 2020 0 41x

Sumber Ilustrasi : tanjoengarafah.com

Lanjutan dari Karya Muhammadiyah untuk Visi Perempuan Berkemajuan (1)

Oleh: Wawan Gunawan Abdul Wahid (Anggota MTT PP Muhammadiyah (2015-2020))

Karya Muhammadiyah untuk visi perempuan berkemajuan terbaca pada upayanya membantu Ibu-ibu ‘Aisyiyah periode awal untuk Tuntunan Mencapai Isteri Islam Yang Berarti. Ini adalah buah Kongres ‘Aisyiyah ke-26 yang dilangsungkan di Yogyakarta.  Karya ini jika tidak dibaca secara menyeluruh terkesan sebagai karya biasa yang hanya menginformasikan tuntunan bagi warga ‘Aisyiyah khususnya dan perempuan Muslimah pada umumnya. Pengantar dokumen ini menerankan bahwa: 

Aisjijah sebagai salah satoe pergerakan kaoem iboe di Indonesia jang berasas Islam, bahagian dari Persjarikatan Moehammadijah, dengan tidak mengoerang-ngoerangkan akan gerakan dan oesahanja didalam mentjapai maksoednja, poen mengharapkan kepada kaoem iboe oemoemnja dan Moeslimat choesoesnja serta Aisjijah achasnnja soepaja sedikit-sedikitnja berboeat dan setidak-tidaknja bersifat sebagaimana jang berboeat dalam boekoe “Toentoenan” ini, jang mana sekarang dikobar-kobarkan dan telah dipoetoeskan didalam Congres.

Secara garis besar Tuntunan Isteri Islam yang Berarti memuat duabelas poin penting. Keduabelas poin penting tersebut adalah: (1) memelihara rumah tangga suaminya;(2) menggembirakan suaminya;(3) menurut perintah suaminya;(4) menjaga kesucian dirinya dan rumah tangganya;(5) mengasuh (momong) anak-anaknya;(6) membantu suami dalam mendidik anaknya;(7) menutup rapat auratnya;(8) tidak bertingkah (berlagak-lagu) yang tidak patut;(9) tidak bergaul dengan laki-laki yang bukan muhrimnya (sic. mahram);(10) kalau bepergian menetapi putusan Majelis Tarjih;(11) tetap tinggal di rumah dan jika keluar tidak sebagai perempuan jahiliyah;(12) berbuat baik kepada sanak kerabat, besan dan pelayan.

Bagian yang sangat berkemajuan dari tuntunan ini adalah dimuatnya dalil tentang tatacara bepergian yang dicantumkan  secara utuh. Itu disajikan dalam bagian sepuluh tuntunan. Yaitu Kalau bepergian supaya menetapiputusan Majelis Tarjih. Dalil-dalil dimaksud adalah:

“Tidak halal bagi perempuan bepergian sehari kecuali dengan mahramnya.”

Bahwa Nabi saw melarang perempuan bepergian perjalanan dua hari atau dua malam kecuali beserta suaminya atau mahramnya.  

Dengan kedua dalil tersebut di atas terkesan melarang perempuan melakukan perjalanan yang lebih dari dua hari kecuali disertai mahramnya. Lalu bagaimana dengan para isteri yang melakukan perjalanan lebih dari dua hari dua malam baik untuk tugas atau perjalanan demi tunaikan kewajiban agama? Tuntunan ini menjawab bahwa “perempuan boleh bepergian perjalanan sehari ke atasnya dengan seorang dirinya kalau untuk keperluan syara’ serta aman”. Tuntunan ini mendasarkan argumennya pada Hadis riwayat Bukhari dari Adiy bin Hatim. Hadis ini menegaskan bahwa Adiy menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri seorang perempuan yang menaiki unta sendirian. Ia tidak ada rasa takut kepada siapapun selain kepada Allah. Ia tunaikan thawaf sendirian dan seterusnya. Ini berarti bahwa karya Muhammadiyah yang bertajuk Tuntunan Mencapai isteri Islam yang Berarti secara implisit telah menuntunkan bahwa secara substantif persoalan mahram itu adalah adanya rasa aman yang dirasakan perempuan. 

Putusan ini penting dikemukakan untuk menjawab pandangan sebagian kalangan Muhammadiyah yang berpendapat bahwa perempuan yang lakukan perjalanan lebih dari dua hari dua malam mesti disertai mahram. Pandangan ini tentu saja dapat menyulitkan mereka lakukan perjalanan hingga berhari-hari berminggu-minggu bahkan hingga berbulan-bulan hinga masuk tahunan jika itu dikaitkan dengan seorang perempuan yang hendak malanjutkan studinya di luar negeri tanpa disertai mahramnya.

– Adabul Mar’ah fil Islam

Berselang tigapuluh tujuh tahun Muhammadiyah menghasilkan karya sangat penting yang bertajuk Adabul Mar’ah fil Islam, Etika Perempuan dalam Islam. Karya ini dihasilkan Muktamar Tarjih Muhammadiyah di Garut tahun 1976. Bagian terpenting dari kitab ini adalah  dimuatnya prinsip-prinsip musawah, persamaan antara laki-laki dan perempuan. Ini dijelaskan sebanyak dua kali. Pertama ketika tuntunan ini mengantarkan buku ini pada halaman awalnya dan kedua saat menjelaskan hukum perempuan menjadi hakim. Prinsip-prinsip dimaksud adalah:

(1)  “Islam memberikan hak yang sama kepada laki-laki dan perempuan, yang artinya masing-masing itu mempunyai hak dan mempunyai kewajiban, walaupun di dalam beberapa hal ada perbedaannya disebabkan perbedaan jenisnya”;

(2) “Di sisi Allah wanita dan laki-laki masing-masing bertanggungjawab atas perbuatannya tentang amal shalih yang mendatangkan pahala atau perbuatan dosa yang menyebabkan hukuman”.

Dua poin tentang kesetaraan ini penting untuk dikemukakan dengan dua tujuan. Pertama, Tuntunan Adabul Mar’ah fil Islam sejak awal nyata-nyata telah menyajikan prinsip-prinsip kesetaraan yang para ahli disini baru memperbincangkannya pada awal tahun sembilan puluhan. Kedua, prinsip-prinsip tadi menjadi bingkai para ulama Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah dalam melahirkan beberapa poin ketentuan hukum berkaitan dengan kegiatan perempuan di ruang publik. Yaitu bahwa perempuan diperbolehkan menjadi hakim, terlibat secara aktif dalam panggung politik, terlibat aktif di medan jihad, berkontribusi dalam kancah ilmu pengetahuan dan dunia kesenian. 

Wallahu A’lam bish-Shawab.

Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Suara ‘Aisyiyah Edisi 4 April 2016, Rubrik Hikmah

Leave a Reply