Keberadaan, Peran, dan Tantangan Masa Depan Ulama (2)

Kalam 12 May 2020 0 74x

Oleh : Aly Aulia (Direktur Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta)

Misi kenabian yang dilanjutkan oleh ulama, sebenarnya bertujuan untuk  melestarikan (ajaran) agama dari kepunahan dan penyimpangan. Dengan merujuk tesis yang sejalan dengan teori fungsional ini, maka ulama sebagai figur yang paling sempurna dalam hirarki masyarakat beragama juga menjalankan fungsi agama.  

Pertama, karena agama mendasarkan perhatiannya pada hal-hal yang berada di luar jangkauan manusia yang melibatkan takdir, kesejahteraan, terhadap mana manusia memberi tanggapan serta menghubungkan dirinya, menyediakan bagi pemeluknya suatu dukungan, pelipur lara, dan rekonsiliasi, maka ulama harus dapat mentransformasikan semua hal yang rumit itu sehingga dapat dipahami umat. Di sinilah peran  ulama diuji. Hal ini disebabkan karena kebutuhan manusia akan dukungan moral di saat menghadapi ketidakpastian, pelipur lara di saat berhadapan dengan kekecewaan, dan membutuhkan rekonsiliasi dengan masyarakat bila diasingkan dari tujuan dan norma-normanya.

Kedua, karena agama menawarkan suatu hubungan transendental melalui pengabdian dan upacara ritual peribadatan, sehingga dengannya manusia memperoleh keamanan psikologis dan identitas religiusitas yang khas, maka ulama berperan sebagai penafsir yang menjembatani dunia yang indifined sakral nonempiris dengan yang defined profan. Melalui dogma-dogma yang otoritatif tentang keyakinan dan nilai, agama menyediakan kerangka referensi semua permasalahan yang dihadapi manusia. Oleh karenanya, agama sebagai penyumbang adanya stabilitas, ketertiban, kedinamisan, dan pemelihara “status quo” dalam bidang ibadah dan akidah.

Ketiga, karena agama mensucikan norma-norma dan nilai masyarakat yang telah terbentuk, mempertahankan dominasi kemaslahatan umat di atas keinginan individual dan kelompok tertentu, maka ulama sebagai penjaga moral harus tampil sebagai uswah dan pendidik umat.

Keempat, karena agama mengan-dung fungsi risalah yang sering menjadi sumber protes sosial terpenting melawan norma dan kondisi yang telah mapan, maka ulama berperan sebagai pewaris risalah harus mengantisipasi dengan upaya menjaga kemurnian dalam bidang akidah dan ibadah, serta upaya redifinisi dan pembaruan dalam masalah lainnya secara kontekstual.

Kelima, karena agama menekankan identitas yang khas melalui serangkaian dogma, ritual peribadatan dan doa, maka purifikasi merupakan keharusan. Untuk melaksanakan agenda ini, peran ulama sangat menentukan.

Keenam, karena agama bersangkut-paut dengan pertumbuhan dan kedewasaan manusia, maka ulama dituntut untuk memahami perkembangan tingkat keberagamaan masyarakatnya. Hal ini dirasa penting untuk dijadikan pertimbangan proses sosialisasi dan internalisasi agama, sehingga ulama dapat menjalankannya secara hikmah.

Akumulasi dari terselenggaranya semua fungsi ini memungkinkan terciptanya masyarakat yang menjadikan Islam sebagai way of life dalam kehidupannya.

Dengan demikian, ulama berkewajiban menyampaikan “wahyu” kepada umat dan memberikan penafsiran terhadap dogma agama itu sesuai dengan semangat Islam, memberikan keputusan hukum terhadap persoalan yang dihadapi oleh umat, dan harus mampu sebagai uswah (public figur) bagi umat. Agar dapat mengemban peran-peran ini, ulama harus berbekal kualitas keilmuan yang memadai (capable) dan integritas kepribadian yang dapat dipertanggungjawabkan (credible), seperti berakhlak mulia dan senantiasa menunjukkan keberpihakannya kepada kebaikan dan kebenaran serta kemaslahatan umat.

Ketika dua kualifikasi ini secara konsisten telah dimiliki dan dipertahankan secara sosiologis oleh seseorang, lazimnya masyarakat kemudian memberikan penghormatan kepadanya dan mengakuinya sebagai ulama (acceptable). Sebaliknya, ketika peran-peran itu telah disalahgunakan, seperti untuk menjustifikasi kepen-tingan komunitas penguasa dengan mengabaikan keberpihakannya pada kebenaran dan kepentingan umat, maka sejak itu label `ulamā’ as-sū’ mulai diberlakukan kepada yang bersangkutan.

Saat ini, ulama semakin memerlukan penghayatan dan peningkatan sense of mission dan sense of orientation yang mulia dan menjanjikan. Memasuki era baru dari khidmah yang dilakukan sosok seorang ulama, membawa konsekuensi pengembangan bahkan pembaruan peran dan keberadaannya. Kehadirannya sebagai kekuatan “global civil society” dalam arus “global (good) governance”, mensyaratkan untuk mengembangkan wilayah tajdid dan ijtihad yang menjadi watak distingtif-nya, sebagai sosok yang mengemban dakwah dan amar ma’ruf nahi munkar.

Hal ini dikarenakan masyarakat di mana ulama kini berada, adalah masyarakat yang tengah bergerak dari masyarakat informasi (information society) menuju masyarakat ilmu pengetahuan (knowledge society), di mana segenap lapisan masyarakat fasih berselancar di internet dan terbiasa bersosial media. Bahkan sekarang telah memasuki era Revolusi Industri 4.0 bahkan 5.0 dan 6.0 masyarakat dunia telah beranjak kepada Era Millennial, Post Colonial, Disruptive Society, dan bahkan Post Truth.

Pada era ini, ulama setidaknya harus menguasai tiga kompetensi agar mampu membimbing masyarakat dengan kebutuhan dan problematika yang semakin kompleks. Kompetensi itu menjadi syarat ulama di masa kini dan mendatang.

Baca selengkapnya di Majalah Suara ‘Aisyiyah Edisi 1 Januari 2020

Sumber ilustrasi : https://steemit.com/opini/@kharisma.seloe/islam-dan-tantangan-masa-depan

Leave a Reply