Kekerasan pada Anak dan Remaja: Fenomena Gunung Es (Part 3)

Anak 1 Apr 2020 0 151x

Upaya Pencegahan

Orang tua perlu mengembangkan komunikasi efektif dengan anaknya. Komunikasi dikatakan efektif bila dua pihak yang berkomunikasi bisa memahami pesan yang disampaikan. Tentu saja orang tua perlu menggunakan strategi komunikasi yang disesuaikan dengan usia anak. Perlu dikembangkan dialog sehingga belum diperbolehkannya anak mengendarai kendaraan bermotor, misalnya  tidak dipersepsikan sebagai sebuah pengekangan.

Pemilihan tempat dan waktu untuk melakukan komunikasi juga perlu diperhatikan. Pilihlah waktu yang nyaman, misalnya selesai makan malam, atau anak sedang tidak padat aktivitas. Apabila orang tua dan anak dalam suasana yang nyaman maka komunikasi akan berkembang dengan baik.

Orang tua harus bisa mengkongkritkan nilai-nilai yang bersifat absrak tadi yaitu dengan contoh-contoh yang ada dalam masyarakat. Misalnya, jumlah kecelakaan di jalan raya akibat kelalaian dalam mengendarai kendaraan roda dua. Kemudian dijelaskan, untuk mencegah hal itu maka pemerintah membuat aturan bahwa untuk mengendarai kendaraan bermotor harus memiliki Surat Ijin Mengemudi (SIM).

SIM hanya boleh dimiliki oleh masyarakat yang telah berusia 17 tahun yang telah lolos ujian SIM. Sanksi-sanksi yang dijatuhkan pemerintah  bila masyarakat melanggarnya. Melalui dialog semacam  ini maka anak akan bisa memiliki pemahaman mengapa belm boleh mengendarai kendaraan bermotor. 

Dalam menghindari cyber crime, orangtua perlu melakukan apa yang disebut media literacy kepada anak-anaknya sedini mungkin. Media literacy adalah kemampuan seseorang dalam menerima atau mencerna informasi tidak hanya dari segi permukaan saja tapi juga makna di balik itu. Media literacy juga dimaksudkan agar seseorang ketika sedang mengunggah atau menyampaikan informasi memperhatikan sebab dan akibatnya.

Anak-anak perlu diberikan pemahaman mengunggah status atau komentar di media sosial atau mengunggah sesuatu melalui internet tidak bisa dihapuskan. Setiap kata-kata yang dirangkai dalam kalimat yang diunggah akan mencerminkan karakter sesorang, tulisan mencerminkan karakter sesorang. Di sinilah orangtua perlu mengajari anaknya bagaimana menuliskan kalimat dengan baik, bermakna. 

Selain itu anak-anak juga perlu diberi pemahaman bagaiman merespon informasi melalui media sosial sehingga anak-anak tidak mudah terjebak atau tergiring lantas menjadi korban pelecehan di media sosial. Media literacy ini juga bisa dilakukan di lingkungan sekolah. Sekolah perlu secara khusus memberikan pemahaman bagaimana memanfaatkan media secara positif, rambu-rambu yang harus diperhatikan ketika akan meng-upload status atau komentar kita di media sosial.

Kamajuan teknologi informasi yang diiringi dengan semakin longgarnya nilai-nilai dalam masyarakat mengharuskan kita untuk lebih banyak melakukan komunikasi dengan anak secara intens, supaya anak tidak keluar dari rambu-rambu nilai akidah, maupun aturan-aturan yang ada dalam masyarakat. (berbagai sumber, susi)

Tulisan ini pernah dimuat pada Majalah Suara ‘Aisyiyah Edisi 2 Februari 2017, Rubrik Idea

Sumber Ilustrasi : https://www.mamamag.com.au/2018/10/11/5-ways-to-help-your-child-manage-anger/

Leave a Reply