Kalam

Kekuatan Karakter, Belajar dari Akhlak Ismail

Ismail
Ismail

(ilustrasi: istockphoto)

Oleh: Anisia Kumala Masyhadi

Kisah nabi Ibrahim dan Ismail ‘alaihimassalam menjadi kisah utama dari pengabdian dan ketundukan kedua hamba Allah kepada Rabb-nya. Namun demikian, sebenarnya pada Ibrahim dan Ismail ‘alaihimassalam, banyak sekali hikmah yang dapat kita petik untuk direfleksikan dalam kehidupan sehari-hari.

Ibrahim merupakan salah seorang nabi yang memiliki posisi khusus di mata Allah, sehingga beliau pun bergelar khalilullah, teman Allah, dan juga sekaligus bapak/ayahnya para nabi (abu al-anbiya’). Putra pertama beliau yang kelahirannya ditunggu dengan sangat lama, adalah Isma’il ’alaihissalam.

Ismail lahir dari rahim Hajar. Sedangkan istri yang lain, Sarah, kemudian juga diberikan karunia putra pada saat kemungkinan untuk mendapatkan keturunan sangat kecil jika dilihat dari ukuran dan logika manusia. Pasalnya, Ibrahim dan Sarah saat itu sudah berusia sangat lanjut. Meskipun demikian, Allah memberikan seorang keturunan, dari Sarah, seorang nabi yang cerdas bernama Ishaq ’alaihissalam.

Dari keturunan Nabi Ishaq inilah kemudian lahir beberapa nabi, yakni Ya’qub, Yusuf, Ayyub, Musa, Harun, Daud, Sulaiman, Ilyas, Yunus, Zakariya, Yahya, sampai pada Isa ‘alaihimussalam. Sementara itu, garis keturunan Ismail sampai pada Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Ismail dan Ishaq, dua saudara ini, membuat silsilah keturunan yang berbeda; Ismail menjadi cikal bakal bangsa Arab Hijaz, sementara Ishaq menjadi cikal bakal bangsa Bani Israel yang tinggal di Palestina dan sekitarnya.

Pengharapan Ibrahim atas kehadiran buah hati direkam dengan baik dan detil dalam Q.S. as-Saffat: 100-101,

رَبِّ هَبْ لِيْ مِنَ الصّٰلِحِيْن . فَبَشَّرْنٰهُ بِغُلٰمٍ حَلِيْمٍ

Artinya,Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang yang saleh. Maka Kami beri kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak yang sangat sabar (Ismail)”.

Pada ayat tersebut, malaikat utusan Allah pun memberikan kabar gembira dengan akan hadirnya seorang putra yang halim. Berbeda dengan saudaranya, Nabi Ishaq ‘alaihissalam, yang oleh Allah dijanjikan menjadi anak yang cerdas, Ismail ‘alaihissalam sudah dinobatkan oleh Allah menjadi anak yang halim, artinya penuh dengan kesabaran, kebijaksanaan, kemampuan meregulasi emosi dan dirinya dengan baik (self regulated).

Baca Juga: Millah Ibrahim: Tuhan Hanya Satu, Allah Semata

Karakter Ismail yang seperti itu tidak lepas dari karakter ayah dan ibunya. Ibrahim ‘alaihissalam juga dijuluki Allah sebagai orang yang halim sebagaimana termaktub dalam Q.S. Hud: 75:

اِنَّ اِبْرٰهِيْمَ لَحَلِيْمٌ اَوَّاهٌ مُّنِيْبٌ

Artinya, “Ibrahim sungguh penyantun, lembut hati, dan suka kembali (kepada Allah)

Begitu juga karakter Hajar yang ditunjukkan ketika Ibrahim membawa istrinya, Hajar, dan bayi Ismail ke gurun tandus di dekat Baitullah. Kala itu, Hajar ditinggalkan di lokasi yang masih asing baginya dan harus berjuang seorang diri mendapatkan asupan untuknya dan putranya. Hajar tahu bahwa Ibrahim meninggalkannya saat itu untuk memenuhi perintah Allah, sehingga sedikit pun Hajar tidak berkeluh kesah.

Inilah potret ketangguhan seorang perempuan yang bersama suaminya berjuang dalam rangka mamatuhi Allah. Ia tidak menunjukkan komplain pada suami karena ia sendiri tahu persis bahwa suaminya sedang dalam perjuangan. Inilah bentuk pengorbanan Hajar yang dicontohkan untuk ketangguhan keluarga.

Keteguhan Hati

Dalam Q.S. Ibrahim ayat 37, cerita Ibrahim meninggalkan istri dan anaknya di padang tandus ditutup dengan kalimat pengharapan dan doa agar mereka kelak menyembah Allah dengan menegakkan salat. Ibrahim juga berdoa agar negeri tandus dan mereka yang tinggal di sana memiliki daya pikat tersendiri bagi orang-orang.

Rupanya Allah mengabulkan doa tersebut. Sampai detik ini, negeri Ismail tidak pernah terjeda atas kunjungan manusia dari seluruh penjuru dunia, dan menjadikan hati manusia selalu merindukan tempat tersebut.

رَبَّنَآ اِنِّيْٓ اَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِيْ بِوَادٍ غَيْرِ ذِيْ زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِۙ رَبَّنَا لِيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ فَاجْعَلْ اَفْـِٕدَةً مِّنَ النَّاسِ تَهْوِيْٓ اِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِّنَ الثَّمَرٰتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُوْنَ –

Artinya, “Ya Tuhan, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, Ya Tuhan (yang demikian itu) agar mereka melak-sanakan salat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur”.

Keteguhan hati dan kepasrahan Hajar kepada Allah diganjar dengan munculnya mata air di dekat hentakan kaki Ismail, yang sangat deras melimpah ruah di tengah gurun nan tandus. Hingga saat ini, mata air itu pun mampu memproduksi air sebesar 11-18,5 liter/detik, hingga per menit dapat mencapai 660 liter atau 40.000 liter/jam, dan dapat dinikmati oleh jutaan pengunjung haji dan umrah sepanjang tahun. Inilah mukjizat sumur Zam-Zam yang diturunkan oleh Allah ribuan tahun lalu, dan disaksikan sepanjang sejarah dan sepanjang masa.

Dari mata air itulah, Hajar dan Ismail yang awalnya tinggal berdua di gurun kering kemudian memunculkan kehidupan baru. Kabilah dari Suku Jurhum asal Yaman datang ke tempat tersebut, dan kemudian menetap serta membentuk masyarakat. Ismail pun dirawat dan dibesarkan di tengah-tengah suku ini, yang kemudian menjadi cikal bakal bangsa Arab hingga saat ini kita kenal. Dari suku Jurhum ini pun pada akhirnya nanti berkembang bahasa Arab. Itulah mengapa Ismail dijuluki sebagai Abu al-‘Arab.

Ismail kecil merupakan seorang anak yang tumbuh sebagai anak yang cerdas dan bijaksana. Ismail merupakan sosok yang memiliki karakter lemah lembut dan penuh empati kepada orang lain.

Ismail kecil tergerak untuk membantu ayahnya yang sedang meambangun kembali Ka’bah/Baitullah, mengambil batu-batu yang kemudian disusun oleh ayahnya dari tempatnya berdiri (maqam Ibrahim). Bahkan Ismail kecil beristirahat di dekat ayahnya bekerja. Tempat itulah yang sekarang kita kenal sebagai salah satu tempat di dunia yang paling mustajab untuk berdoa, yaitu Hijr Ismail.

Potret ini seakan-akan menggambarkan kepada kita bahwa Ibrahim memang sedang mengkader putranya, Ismail, untuk meneruskan perjuangannya. Ibrahim membawa Ismail dalam perjalanan-perjalanan penting kenabiannya. Hingga akhirnya, Ismail pun diangkat menjadi penerus kenabian oleh Allah dan juga membawa risalah-Nya. Tentu, proses itu bukan tanpa uji kompetensi dari seorang Ismail, sekaligus ujian keikhklasan, ketundukan, dan kepatuhan kepada Allah.

Baca Juga: Siapa Anak Nabi Ibrahim yang Dikurbankan, Ismail atau Ishak?

Sifat yang disematkan oleh Allah berupa halim ini juga menemukan buktinya pada beberapa peristiwa yang juga direkam dengan baik oleh al-Qur’an. Kita mulai saja dengan kisah yang paling fenomenal di kala Ismail masih anak-anak. Saat itu, ayahnya, Ibrahim, melalui mimpinya diperintahkan oleh Allah untuk menyembelih putra semata wayang yang dinantikannya sekian lama itu.

Ketika Ibrahim menceritakan mimpi yang berisi perintah Allah itu, Ismail dengan tenang nan bijak merespons dan bahkan memberikan kekuatan bagi ayahnya, Ibrahim, untuk melaksanakan tugas maha berat itu. Pada situasi yang tentu tidak mudah itulah, Ismail justru menjadi pendukung, dengan mengatakan, “InsyaAllah, engkau (Ibrahim, ayahku) akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.

Ujian ketaatan, ketundukan, dan kepatuhan kepada perintah Allah ini dapat ia lalui dengan sangat mulus, tanpa ada gejolak apapun yang ditam-pillkan dari responnya. Itulah salah satu keistimewaan Ismail yang sampai hari ini semua umat muslim di belahan dunia memperingatinya dalam hari Idul Adha.

Ismail telah mencontohkan tentang sifat mulia, yaitu sabar, bijak, tenang dalam bertindak dan sangat bisa meregulasi dirinya, mengontrol diri sehingga dapat merespons situasi dengan tepat dan adekuat. Berbicara tentang regulasi dan kontrol diri, secara psikologis, hal itu merupakan esensi dari perilaku manusia, sekaligus juga salah satu indikator penting dari sehat atau tidaknya individu secara psikologis.

Kontrol diri merupakan kemampuan seseorang untuk membimbing, mengatur emosi, dan mengarahkan perilaku yang dapat membawa ke arah tindakan yang positif. Kontrol diri terkait erat dengan bagaimana seseorang dapat mengendalikan emosinya maupun dorongan-dorongan dari dalam dirinya selama proses kehidupan, untuk menghadapi kondisi yang terdapat di sekelilingnya.

Dalam aktivitas sehari-hari, setiap individu tak bisa lepas dari kontrol diri tersebut. Ia dibutuhkan untuk dapat merencanakan, menyelesaikan masalah, ataupun mengambil keputusan. Dengan kontrol diri, individu juga dapat membangun hubungan yang baik dengan orang lain dan memiliki perilaku bertanggung jawab.

Beberapa keistimewaan sifat lain yang dimiliki oleh Ismail ‘alaihissalam juga dinyatakan dalam al-Qur’an. Dalam Q.S. Maryam: 54, Allah meminta Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menceritakan kepada kita tentang Ismail, dan menyatakan bahwa Ismail benar-benar seorang yang menepati janjinya, serta ia diangkat oleh Allah sebagai seorang Nabi dan Rasul.

Lalu di ayat berikutnya (Q.S. Maryam: 55), dinyatakan lagi bahwa Ismail adalah sosok yang diridhai di sisi Allah subhanahu wata’ala. Mardhiyya (diridhai di sisi Allah) merupakan posisi yang paling dinantikan oleh semua hamba Allah. Pada hakikatnya, inilah maqam tertinggi yang dinanti-nanti.

Artinya, “Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka) kisah Ismail (yang tersebut) di dalam al-Quran. Sesungguhnya ia adalah seorang yang benar janjinya, dan dia adalah seorang rasul dan nabi. Dan ia menyuruh ahlinya untuk bersembahyang dan menunaikan zakat, dan ia adalah seorang yang diridhai di sisi Tuhannya. (Q.S. Maryam ayat 54-55).

Ayat ini menunjukkan pujian Allah kepada Ismail atas integritas yang melekat pada pribadinya. Sifat ini sebenarnya dimiliki oleh semua nabi dan rasul, namun Allah menyematkannya pada cerita Ismail karena sifat ini menjadi salah satu keunggulan Ismail. Saat ia berjanji untuk bersabar ketika Ibrahim diperintahkan untuk menyembelihnya, ia pun memenuhi janji itu dengan baik.

Pada kisah yang  lain dari Ismail, diceritakan bahwa suatu hari Ismail berjanji untuk mendatangi tempat seseorang. Ismail lalu datang sesuai dengan waktu yang dijanjikannya itu. Sayangnya, tuan rumah yang didatangi lupa akan perjanjian tersebut dan ia tidak ada di tempat. Maka, demi menepati janjinya itu, Ismail menunggunya sampai ia datang keesokan harinya.

Teladan dalam Karakter

Kisah di atas memperlihatkan kepada kita betapa Ismail adalah sosok yang sangat setia dengan janjinya meskipun untuk menepati janji tersebut, ia membutuhkan pengorbanan pribadi. Semua yang diucapkan oleh Ismail akan menjadi perbuatan yang ia lakukan.

Begitulah pentingnya integritas; satunya kata dan perbuatan. Sebuah karakter yang sangat mendasar bagi seorang mukmin, yang dengannya ia tidak hanya bisa dihormati oleh siapapun yang ada di dunia, tetapi dengannya, ia juga dirahmati oleh yang ada di langit. Karakter yang sekarang ini justru cenderung luntur karena sebagian kita tidak lagi mempedulikan keselarasan ucapan dan perbuatan, tidak peduli pada konsistensi dari perkataannya, yang pada akhirnya justru membawanya kepada kebinasaan. Seakan-akan, sebagian kita lupa pada peringatan Allah:

كَبُرَ مَقْتًا عِندَ ٱللَّهِ أَن تَقُولُوا۟ مَا لَا تَفْعَلُونَ

Artinya,Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan (Q.S. as-Shaff: 3).

Pada Q.S. Maryam: 55 di atas, Allah juga menceritakan bahwa di samping ketaatan pribadinya kepada Allah dan perintah-Nya, ia pun menyeru keluarganya untuk menegakkan kedua kewajiban tersebut. Ia ingin agar kepatuhan pada Sang Pencipta juga menjadi karakter keluarganya.

Baca Juga: Pendidikan Karakter Takwa dalam Keluarga Sakinah

Ayat ini seolah-olah juga menunjukkan pada kita bahwa urusan kepatuhan menjalankan perintah beragama tidak hanya menjadi urusan pribadi masing-masing, tetapi setiap kita memikul tanggung jawab untuk menyemai kepatuhan dan ketaatan itu kepada pihak lain terutama orang-orang terdekat. Dalam ayat lain, kita juga diharapkan dapat melindungi keluarga dari siksaan Allah akibat ketidakpatuhan itu.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلٰۤىِٕكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُوْنَ اللّٰهَ مَآ اَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ

Artinya,Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan (Q.S. at-Tahrim: 6).

Secara institusional, keluarga merupakan pilar pertama bagi keimanan, ketakwaan, dan keberagamaan seseorang. Setiap kita bertanggung jawab untuk menyemai dan menyuburkannya. Upaya manusia untuk menyemai hal tersebut bisa dilakukan melalui upaya meneladani Nabi Ismail ‘alaihissalam yang senantiasa mengajakan kepatuhan dan ketundukan kepada Allah. Namun juga tidak lepas dari pengharapan kepada-Nya untuk memberi hidayah dan memperkuatnya, sebagaimana diajarkan oleh Ibrahim ‘alaihissalam, yang terus berdoa untuk anak keturunannya:

رَبِّ اجْعَلْنِيْ مُقِيْمَ الصَّلٰوةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِيْۖ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاۤءِ

Artinya, “Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang yang tetap melaksanakan salat, Ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku”.

Itulah beberapa teladan yang diajarkan kepada kita dari Ismail dan orang tuanya, Ibrahim dan Hajar. Sebuah karakter kuat yang menampakkan integritas, kokoh pendirian, sekaligus kelembutan hati dan kesabaran. Keikhlasan dan ketundukannya pada Allah tidak mudah digoyah oleh siapapun bahkan pada situasi tersulit bagi dirinya. Namun di sisi lain, kelembutan, kepekaan, dan kebijaksanaannya juga membuatnya dapat menjadi pribadi yang tenang dan terkendali, sekaligus tinggi empati. Semoga kita semua dapat meneladani karakter Ismail ‘alaihissalam. Wallahu a’lam bisshowab.

Related posts
Berita

SMP Muhammadiyah Keling Bina Karakter Siswa melalui Apel Pagi

Jepara, Suara ‘Aisyiyah – Sebagai bentuk pembiasaan karakter sejak dini, SMP Muhammadiyah Keling mengadakan apel pagi pada Rabu (20/7). Bertindak sebagai pembina…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.