Keluarga, Pondasi Perlindungan Anak

Parenting 4 Jan 2021 0 40x

Sumber Gambar: dakta.com

Era industrialisasi dan teknologi informasi yang diiringi terjadinya perubahan di berbagai bidang khususnya sosial-ekonomi turut membuka kran bagi meningkatnya masalah sosial terkait anak. Hal tersebut disebabkan karena dinamika kehidupan masyarakat yang berdampak pada berkurangnya nilai-nilai sosial di masyarakat. Keterlibatan kedua orang tua dalam pemenuhan kebutuhan ekonomi menjadi faktor pendorongnya.

Werdi Wyandani selaku Kepala Bidang Perlindungan Perempuan dan Anak BPPM DIY menjelaskan, keluarga punya peran vital dalam memastikan anak dapat berfungsi secara sosial. Menurutnya, keluarga mempunyai hak untuk mengintervensi anak dalam 3 (tiga) hal: pencegahan, penanganan, dan pemberdayaan. Tiga bentuk intervensi ini bertujuan untuk melindungi dan memenuhi hak anak. Jangan sampai anak yang posisinya masih berada dalam lindungan keluarga tidak terpenuhi hak-haknya.

Anak, lanjut Werdi, harus dilindungi oleh orang tua. Setiap orang tua mesti memposisikan diri sebagai orang tua yang baik bagi anak-anaknya; memahami perkembangannya, baik secara fisik maupun psikologis; menjadi tempat kembali ketika anak mengalami keadaan susah; serta mendapat perhatian sebagaimana mestinya. “Karena anak itu kan sebenarnya meminta perhatian tanpa syarat. Bukan ketika baik saja mereka harus diperhatikan. Akan tetapi, apa pun dia, anak ingin diperhatikan.” jelas Werdi.

Ketika anak merasa diacuhkan oleh keluarganya, ia akan mencari perhatian dan kenyamanan di luar rumah, bisa di sekolah atau di lingkungan sosial lain yang membuatnya merasa nyaman. Kondisi ini menurut Werdi sebenarnya tidak baik bagi perkembangan anak.

Mengingat keluarga merupakan sumber pendidikan paling awal,
menurut Werdi, dasar-dasar pendi-dikan yang baik semestinya didapat dari keluarga, di samping dari sekolah maupun lingkungan di sekitarnya.

Literasi Digital

Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Susanto, membenarkan bahwa dewasa ini, ikatan antara orang tua dengan anak semakin melemah. Selain itu, di tengah perkembangan teknologi yang kian pesat, literasi digital orang tua terlihat masih kurang. Maraknya permainan, baik online maupun offline yang tidak jarang bermuatan sadis-me sering tidak disadari oleh orang tua. Sehingga orang tua tidak mampu menstimulasi perilaku anak. Sadar atau tidak, anak akan menirukan apa yang ia serap dari adegan dalam permainan tersebut. Dampaknya bisa sangat fatal. Apalagi ketika didukung oleh lingkungan sosial yang seakan membiarkan dan/atau membenarkan perbuatan tersebut.

Perkembangan dunia digital menurut Susanti di satu sisi memang menggembirakan, sebab akses untuk memperoleh dan menyebarkan informasi semakin mudah, tetapi di sisi lain dapat membawa efek negatif. Dampak tersebut bukan hanya dirasakan oleh anak-anak, tetapi juga orang dewasa. Bukan hanya oleh orang-orang di perkotaan, tetapi juga di desa. Mereka yang tinggal di desa biasanya akan mengalami shock culture. Gagap menerima informasi yang sedemikian membludak, sedangkan tidak diimbangi dengan kemampuan menyaring informasi.

Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk mempunyai literasi
digital. Lebih dari itu, menurut Susanto, lingkungan keluarga semestinya membudayakan komunikasi yang positif. Komunikasi ini berperan sebagai kontrol supaya anak tidak menjadi korban dan/atau pelaku terjadinya masalah di lingkungan sosial.

Ketahanan Keluarga

Menurut Heru Triyono selaku Kepala Bagian Peningkatan Kualitas Keluarga BPPM DIY, keluarga harus mempunyai konsepsi yang jelas tentang arah dalam mendidik anak, yang itu harus disiapkan sebelum (pra-nikah). Konsep ini menurutnya tidak dimiliki oleh mereka yang menikah di usia anak. Tidak jarang di antara mereka yang menikah anak sebenarnya belum siap untuk menjadi orang tua.

Maka edukasi bagi keluarga untuk kembali peduli pada anak menjadi penting. Tidak hanya keluarga yang mesti berperan, masyarakat sekitar pun demikian. Ketahanan keluarga layak menjadi prioritas demi keberlangsungan kehidupan anak, pungkas Werdi. (Sirajudin).

Dimuat di Majalah Suara ‘Aisyiyah Edisi 11, November 2019

Leave a Reply