Keluarga Utuh dan Tangguh

Keluarga Sakinah 13 Feb 2021 0 46x
Keluarga Sakinah

Keluarga Sakinah

Keluarga utuh dan tangguh menjadi dambaan setiap orang, dan itu hanya bisa terwujud apabila terdapat ikatan keluarga yang kokoh dan yang diwarnai adanya hubungan yang harmonis antara suami istri dan orang tua dengan anak.

***

Globalisasi membawa pengaruh pada pola kehidupan keluarga di Indonesia yang diakibatkan perubahan sosial yang cepat. Hal itu tergambar dalam bergesernya budaya adiluhung bangsa yang bercorak religius, menjunjung tinggi gotong-royong atau kebersamaan, saling menolong, santun, cinta damai, dan kehidupan yang teduh bergeser menjadi kehidupan yang penuh ketegangan. Kondisi seperti itu menyebabkan rapuhnya ikatan kekeluargaan, sehingga yang terjadi bukan keluarga utuh dan tangguh, tetapi retak dan rapuh.

Selain kondisi perkawinan orang tua, kepribadian orang tua juga mempengaruhi perkembangan jiwa anak bahkan ada yang mengakibatkan kelainan kepribadian. Keluarga bisa memberikan rasa aman, tetapi juga bisa menjadi sumber stres. Kondisi keluarga yang tidak sehat, yang membuat goncangnya jiwa anak menurut Dadang Hawari antara lain: keluarga yang tidak utuh, kesibukan orang tua, ketidakberadaan dan ketidakbersamaan orang tua dan anak di rumah, hubungan interpersonal antar anggota keluarga yang tidak baik, dan substitusi ungkapan kasih sayang orang tua kepada anak lebih pada materi daripada kejiwaan.

Menjauhi Hal-hal yang Merusak Perkawinan

Kegagalan perkawinan banyak disebabkan tidak adanya tafahum, tasamuh, dan mahabbah (saling memahami, saling toleransi, dan saling mencintai). Dalam sebuah keluarga terdiri beberapa manusia yang mempunyai latar belakang yang tidak sama, kebiasaan yang berbeda, dan bekal pengalaman yang berbeda pula. Sejak memasuki dunia perkawinan, masing-masing harus pandai mengintegrasikan berbagai kepribadian yang berbeda itu.

Akan tetapi, tidak semua orang bisa melakukannya secara mulus. Selain itu, masing-masing juga kurang menyadari hak dan kewajibannya, bahkan kadang terlalu menuntut hak, dan melupakan kewajibannya. Ada yang merasa lebih sempurna dari lainnya dan ingin selalu menang dalam setiap percaturan rumah tangga. Sering pula terjadi penelantaran, kekerasan, penistaan, dan pengkhianatan suami atas istri, orang tua terhadap anak, dan lain-lain.

Rasulullah memperingatkan dalam salah satu hadits, “kafā bil mar’i itsman an yudhoyyi man yaqūtu” (cukuplah menjadi berdosa seseorang yang menelantarkan orang yang menjadi tanggungannya).

Rasulullah saw. melarang seseorang melakukan beberapa perilaku kasar, seperti terurai dalam sabdanya, “jangan memukul atau menampar muka dan tempat-tempat yang cepat membawa ajalnya”, dan “jangan menjelek-jelekkan istri, baik dengan mengutuk ataupun mengucapkan ucapan-ucapan yang tidak layak didengar”.

Menyiapkan Generasi Tangguh

Tidak dapat dimungkiri bahwa anak yang tumbuh secara sehat jasmani, rohani, dan sosial, serta tangguh dalam menghadapi tantangan zaman terlahir dari keluarga yang sakinah. Sebuah keluarga yang kedua orang tuanya memberikan hak-hak anaknya, antara lain menanamkan aqidah, memberikan pendidikan yang memadai, termasuk pendidikan akhlak, serta memberikan haknya dalam pemenuhan kebutuhan jasmani dan rohani berupa asupan gizi yang cukup dan seimbang, kasih sayang, perhatian, dan berbuat adil terhadap anak-anaknya.

i’dilū baina abnāikum, i’dilū baina abnāikum, i’dilū baina abnāikum” (Berlaku adillah terhadap anak-anakmu…3x).

Hal itu sejalan dengan sebuah hadits riwayat al-Hakim, sebagai berikut: “kewajiban orang tua terhadap anaknya adalah memberi nama yang baik, membaguskan akhlaknya, mengajar baca tulis, mengajari berenang dan memanah atau menembak, memberi makan yang halal, dan menikahkannya bila telah dewasa dan orang tua mampu”.

Dalam kata ‘berenang’ dan ‘memanah’ mengandung kedalaman makna tentang bagaimana menyiapkan anak/generasi yang tangguh, yang mampu menghadapi berbagai tantangan kehidupan. Pada masa kini berwujud dalam penguasaan berbagai keterampilan hidup sesuai dengan tuntutan zaman, “didiklah anak-anakmu sesuai zamannya”.

Luqman al-Hakim juga menyampaikan nasehat kepada anaknya. Di antara dua puluh lima nasehatnya adalah: “hai anakku, ketahuilah, sesungguhnya dunia ini bagaikan lautan yang dalam, banyak manusia yang tenggelam di dalamnya. Berlayarlah di lautan itu dengan perahu yang bernama taqwa, muatannya iman, layarnya adalah tawakkal kepada Allah. Mudah-mudahan engkau akan selamat”.

Apa yang sudah kita lakukan dalam menjaga keutuhan keluarga dan menyiapkan generasi yang tangguh? (MSN)

Sumber: Majalah Suara ‘Aisyiyah Edisi 06 Tahun 2012

Leave a Reply