Sosial Budaya

Kemubadziran Pemenuhan Energi Rumah Tangga Harus Segera Diakhiri

Energi Rumah Tangga
Energi Rumah Tangga

(foto: pixabay)

Oleh: Rahadi*

Lantaran potensi sumber daya energi terbarukan yang tidak terurus secara serius, maka pemerintah Indonesia rugi. Untuk impor energi dalam pemenuhan kebutuhan energi rumah tangga, ambil contoh pemenuhan Liquified Petroleum Gas (LPG). Sejak tahun 2007, pemerintah mulai mengimplementasikan program konversi minyak tanah ke LPG, oleh karena itu konsumsi LPG terus menunjukkan peningkatan. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, sejak tahun 2008 impor LPG tumbuh signifikan karena produksi dari dalam negeri tidak mencukupi.

Berdasarkan data Kementerian ESDM, produksi LPG pada 2020-2024 diperkirakan tetap pada kisaran 1,97 juta ton per tahun. Sementara Menurut Pemen ESDM Nomor 16/2020 tentang Rencana Strategis Kementerian ESDM tahun 2020-2024, kebutuhan kebutuhan LPG setiap tahunnya hingga 2024 diperkirakan terus meningkat.

Menteri ESDM memperkirakan kebutuhan LPG domestik pada tahun 2020 bakal mencapai 8,81 juta ton. Angka ini diperkirakan masih akan naik menjadi 9,51 juta ton pada 2021 dan 10,27 juta ton pada 2022 (lokadata.id). Dari angka tersebut, sudah jelas berapa uang negara dipergunakan untuk impor LPG.

BPS mengatakan nilai impor untuk komoditas gas sepanjang Januari-Oktober 2020 mencapai US$2,081 miliar. Sementara itu, PT Pertamina (Persero) menyatakan target penyaluran LPG 3 kilogram (kg) bersubsidi tahun 2021 sebanyak 7,5 juta metrik ton. Angka itu naik dari realisasi 2020 yang sebanyak 7,14 juta metrik ton.

Nilai subsidi LPG 3 kg yang disiapkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2021 untuk memenuhi target itu sebesar Rp40,29 triliun. Angkanya naik tipis dari realisasi subsidi LPG 3 kg pada 2020 yang sebesar Rp40,25 triliun (cnnindonesia.com).

Ini baru pada energi rumah tangga dari LPG, belum lagi kalau kita melihat dari pemenuhan kebutuhan listrik dan BBM. Itulah kenapa bangsa ini tekor hanya untuk pemenuhan kebutuhan energi rumah tangga rakyatnya.

Seharusnya tidak perlu terjadi hal demikian, jika bangsa ini mampu mengelola sumber daya alam yang masih banyak kemubadziran. Indonesia merupakan negara yang diberkahi oleh Allah swt. dengan ribuan pulau dan dilewati garis khatulistiwa.

Kondisi geografis ini sangat menguntungkan karena sumber-sumber energi terbarukan sangat besar sekali. Energi terbarukan itu meliputi sumber energi surya, sumber energi air dan mikrohidro, sumber energi angin, sumber energi panas bumi, sumber energi gelombang laut, dan sumber energi biomassa.

Dalam konteks pembangunan berkelanjutan, konsumsi energi saat ini juga memiliki potensi untuk efisiensi dan konservasi energi.  Jika potensi energi terbarukan ini dikelola dengan baik, maka penyediaan energi dalam negeri terutama di daerah-daerah yang belum memiliki akses terhadap energi dapat dipenuhi dengan potensi-potensi lokal. Meski begitu, saat ini penggunaan energi bersih dan terbarukan di Indonesia baru mencapai kisaran 6% dari bauran energi nasional.

Mengapa Energi Biomassa Tidak Dilirik Lagi?

Sumber energi Biomassa adalah sumber energi yang berasal dari berasal dari makhluk hidup, termasuk tanaman, hewan, dan mikroba. Inilah sumber-sumber energi yang dapat diperbarui, dengan catatan kita sebagai manusia mengusahakannya. Masyarakat Indonesia khususnya yang tinggal di pedesaan tidak asing menggunakan biomassa dalam mencukupi kebutuhan energi rumah tangganya.

Teknologi pemanfaatan energi biomassa yang akrab dengan masyarakat pedesaan berupa tungku kayu, anglo arang, dan pelita dari buah jarak untuk memenuhi kebutuhan energi. Namun teknologi pemanfaatan energi biomassa ini tidak berkembang seiring masuknya sumber energi baru yang dianggap lebih modern, sehat, dan bersih.

Cilakanya, energi baru yang dianggap modern itu tidak mampu dipenuhi dengan produksi dalam negeri. Akhirnya kita tergantung dan terkontrol oleh penguasa sumber energi. Begitulah seperti kata Henry Kissinger, “control oil and you control the Nations”. Jadi beralihnya sumber energi dari Biomassa yang dapat diusahakan sendiri ke sumber energi bergantung adalah urusan ekonomi politik global.

Baca Juga: Beralih ke Teknologi Ramah Lingkungan, Bisakah?

Sumber-sumber energi biomassa ini tidak akan ada habisnya di Indonesia. Biomassa yang berasal dari tanaman tidak akan pernah habis, karena kondisi geografis dan iklim di Indonesia yang memungkinkan biomassa berkembang pesat, seperti pesan lagu Koes Plus ‘kayu dan batu akan tumbuh menjadi tanaman’.

Ambillah contoh, jika kita hanya memanfaatkan limbah hasil pertanian saja, sudah lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan energi rumah tangga pedesaan. Apalagi, jika pemerintah dalam level kecamatan atau kota mampu mengkonvensi sampah kota menjadi energi, maka kebutuhan energi seluruh rakyat akan dapat dipenuhi.

Bagaimana dengan biomassa dari ternak? Tampaknya mengalamai hal yang sama. Menurut hitungan para ahli, potensi limbah tenak yang dapat dikonvensi menjadi biogas adalah 39 juta ton per hari. Jika dibuat rerata, dalam setiap kilogram limbah ternak dapat dikonversi menjadi energi biogas setara 0,050 M3, maka dalam satu hari kita akan mendapatkan gas bio sebesar 1.950 juta M3 per hari atau setara dengan 1,4 juta ton gas.

Dari potensi gas yang sangat besar ini, hanya termanfaatkan sebesar 1,24 persen saja. Sangat penting untuk diingat juga, bahwa potensi energi ini juga memiliki potensi sumber efek gas rumah kaca. Jika gas metana dalam limbah ternak ini tidak dimanfaatkan maka akan lepas ke udara dan mengikis lapisan ozon.

Ini belum lagi jika kita mengkonversi feses dari manusia. Jika setiap orang membuang kotoran (feses) sebesar 2 ons setiap pagi hari, maka 278 juta bangsa Indonesia jumlah feses bangsa Indonesia setara dengan  55. 600.000 Kg. Ini potensi yang luar biasa, jika diolah menjadi Gas Bio.

Pertanyaannya adalah mengapa potensi energi yang sedemikian hebat tidak pernah dilirik? Ambil contoh terkait biogas, mengapa negara Indonesia belum memiliki rencana biogas nasional seperti Cina. Bahkan target penyebaran biogas masih tergabung dengan target bioenergi di Rencana Umum Energi Nasional dan Rencana Aksi Nasional Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca. Namun, dalam implementasinya, tidak ada koordinasi dan sinergi yang jelas antara BAPPENAS, ESDM, dan kementerian lain.

Ubah Cara Pandang

Ada beberapa hal yang harus dirubah, jika kita sebagai bangsa menginginkan potensi energi Biomassa ini menjadi mainstreaming (arus utama, -red) dalam pemenuhan energi rumah tangga di Indonesia. Pertama, pemanfaatan energi terbarukan adalah penghematan anggaran impor LPG. Harus ada perubahan cara pandang dalam melihat pemanfaatan energi terbarukan dalam kacamata politik ekonomi.

Sebutlah jika kita bisa mengkonversi limbah ternak menjadi biogas. Katakanlah 50 % saja dari potensi gas yang dihasilkan sebesar 1,4 juta ton gas, maka akan ada 7 juta ton gas yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat. Artinya, pemerintah dapat menghemat subsidi gas sebesar 7 juta ton gas dan atau pemerintah dapat menghemat anggaran untuk impor 7 juta ton gas LPG.

Kedua, pindahkan subsidi ke insentif. Pemerintah sebaiknya segera merubah kebijakan subsidi ke insentif bagi pengguna biomassa. Asumsinya sederhana, jika ada yang menggunakan energi biomassa baik itu berupa limbah kayu atau biogas, mereka akan tidak menggunakan energi LPG.

Baca Juga: Fikih Tata Kelola Agraria: Solusi Perubahan Iklim

Jika dalam satu bulan setiap rumah tangga menghabiskan 3 tabung LPG 3 Kg, dan itu disubsidi oleh negara, maka dalam 1 tahun warga pengguna biogas atau biomassa dapat membantu pemerintah mengurangi subsidi sebesar 36 tabung atau 108 Kg LPG per orang.

Jika ada 1 juta warga menggunakan biogas, maka anggaran subsidi negara cukup besar untuk mensubsidi sebanyak 108 juta kg LPG rumah tangga. Lalu kemana uang subsidi Gas LPG harus dialihkan? Sebaiknya uang subsidi dialihkan ke dalam bentuk insentif, misalnya potongan pajak, dan atau insentif asuransi kesehatan bagi setiap warga yang mengkonversi biomassa sebagai energi pengganti LPG. Insentif juga dapat diberikan kepada sektor privat atau NGO yang memfasilitasi masyarakat dalam pemanfaatan biomassa sebagai energi rumah tangga.

Pengembangan Teknologi Tepat Guna

Problem utama pemanfaatan biomassa adalah adaptasi dan adopsi teknologi tepat guna yang mampu mengkonversi biomassa menjadi energi rumah tangga. Kita sangat tertinggal dengan Cina dan India dalam pengembangan teknologi pemanfaatan biomassa sebagai energi rumah tangga.

Di beberapa negara, teknologi gasifikasi biomassa sudah berkembang. Sehingga masyarakat dapat menggunakan kayu bakar atau limbah pertanian, layaknya menggunakan LPG di dapur tanpa asap dan dapur tetap bersih. Begitupun dalam pengembangan teknologi Biogas. Teknologi tepat guna adalah kunci dalam meningkatkan minat masyarakat untuk menggunakan biomassa dalam pemenuhan kebutuhan energi rumah tangga.

Sebenarnya tidak sulit mengembangkan teknologi tepat guna dalam pemanfaatan biomassa sebagai energi. Kuncinya ada pada penghargaan atas teknologi tepat guna yang dihasilkan. Dan tugas pemerintahlah untuk mempromosikan teknologi tepat guna tersebut. Jadi, jika kita mengabaikan potensi energi biomassa yang sangat besar tersebut, maka akan terjadi kemubadziran. Dan setiap tahun, APBN akan tekor untuk impor energi dan subsidi.

*Ketua Badan Pengurus Yayasan Lembaga Pengembangan Teknologi Pedesaan (LPTP)

Related posts
Berita

GreenFaith Bangun Kesadaran Komunitas Agama di Indonesia Beraksi untuk Keadilan Iklim

Jakarta, Suara ‘Aisyiyah – Krisis iklim yang melanda dunia saat ini membutuhkan lebih banyak lagi orang-orang dan organisasi yang peduli, kritis, dan…
Berita

Rusak Lingkungan, Haedar Nashir Ajak Masyarakat Indonesia Kelola Sampah dengan Baik

Bandung, Suara ‘Aisyiyah – Sampah menjadi ancaman nyata umat manusia. Dalam laporan World Bank Group yang bertajuk “What a Waste 2.0: A…
Berita

Muhammadiyah Selenggarakan Seminar Lingkungan dan Keberagaman

Jakarta, Suara ‘Aisyiyah – Tokoh lintas iman dan pegiat lingkungan menghadiri perayaan Hari Lingkungan Hidup se-Dunia dalam rangkaian acara Seminar, Sarasehan Lintas-Agama,…

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *