Kenali Dirimu, Ketahui Musuhmu: Mengatasi Quarter Life Crisis

Wawasan 28 Des 2021 0 128x
quarter life crisis

quarter life crisis (foto: freepik)

Oleh: Rheviana Dian Miranti

So scared of getting older, i’m only good at being young. So I play the numbers game, To find a way to say that life has just begun” – John Mayer, Stop this Train

Ada yang relate sama lagu ini? Saat seseorang memilih menjadi dewasa, ia dihadapkan dengan 1001 permasalahan dan pertanyaan. Kapan lulus, kapan kerja, kapan menikah, tujuan hidupnya apa, dan banyak pertanyaan klasik lainnya. Bagi orang yang memiliki mental baja, pertanyaan itu akan dianggap angin lalu dan basa-basi saja. Namun bagi orang yang mentalnya lemah, pertanyaan tersebut akan mendorongnya ke fase quarter life crisis.

Quarter life crisis merupakan krisis identitas akibat ketidaksiapan seseorang dalam memenuhi tuntutan perkembangan masa dewasa, yang mengakibatkan kebimbangan identitas, khawatir pada relasi interpersonal, dan pekerjaan. Biasanya quarter life crisis terjadi di rentang usia 18-30 tahun. Banyak dari kita saat memasuki usia tersebut mulai ragu dengan kompetensi yang dimiliki, sering membandingkan dengan pencapaian orang lain, overthinking, dan bingung dengan tujuan hidup.

Semakin sering mendapat tuntutan, kita akan merasa emosi dan berpikir negatif terhadap diri sendiri. Terutama saat ekspektasi keluarga yang kadang sering membandingkan dengan saudara atau anak tetangga. Apalagi jika melihat teman seusia sudah meniti karir dan memiliki kisah hidup yang bahagia. Hal ini bisa menjadi salah satu penyebab kesehatan mental kita terganggu.

Banyak tuntutan, putus asa, lingkungan yang tidak stabil dan perubahan lainnya menjadi penyebab seseorang mengalami quarter life crisis. Ada 2 faktor yang mempengaruhi seseorang mengalami quarter life crisis:

Faktor Internal

Faktor ini terdiri atas beberapa aspek, meliputi: pertama, identity exploration. Kita terus berusaha mencari identitas diri secara serius, mengeksplorasi dan fokus menghadapi masa depan. Proses pencarian identitas ini kadang membuat kita merasa bimbang dan cemas, karena identitas diri akan membangun kesadaran pada berbagai pilihan dalam hidup.

Kedua, instability. Kita mengalami perubahan hidup secara terus menerus. Gaya hidup zaman orang tua kita berbeda dengan gaya hidup generasi millenial saat ini, sehingga berdampak pada kita yang masih belum memiliki kesiapan dalam menghadapi perubahan gaya hidup dan tuntutan hidup yang tidak sesuai dengan apa yang direncanakan.

Baca Juga: Remaja, Gaya Hidup, dan Pendidikan Kehormatan

Ketiga, being self focused. Dituntut lebih dewasa dari sebelumnya, mampu memutuskan, dan bertanggung jawab dengan keputusan yang diambil. Hanya diri sendirilah yang benar-benar tahu apa yang diinginkan.

Keempat, feeling in between. Sering merasa pribadi sudah cukup dewasa, namun di sisi lain merasa masih remaja dan belum memenuhi tahap dewasa untuk memutuskan pilihan.

Kelima, the age of possibilities. Berbagai harapan di masa depan sering menghantui. Di sini kita mulai mempertanyakan apakah harapan dan mimpi itu berhasil atau justru tak sesuai ekspektasi.

Faktor Eksternal

Sering kita melihat pencapaian orang lain di media sosial yang sudah lebih baik, bahkan selangkah lebih maju. Faktor ini biasanya berasal dari teman, relasi dengan keluarga, karir dan pekerjaan, hubungan asmara, dan tantangan akademik.

Lalu bagaimana strategi kita dalam menghadapi quarter life crisis? Berikut tips-tips menghadapi quarter life crisis: pertama, menerima jika proses adaptasi tidak harus langsung tahu semuanya, kelola ekspektasi semaksimalnya agar tidak menimbulkan kecemasan dan keraguan.

Kedua, chill dan realistis, pilihan pasti ada yang salah dan benar. Cobalah kesempatan apapun yang datang. Kita bukan Tuhan yang selalu benar. Dalam hidup pasti ada hikmah dibalik semua peristiwa dan jawabannya tidak harus sekarang. Atau bahkan sebenarnya tuntutan lingkungan itu tidak ada, tetapi kita yang ngotot memenuhi ekpektasi tersebut dan menyebabkan kita tidak enjoy dalam menjalani pilihan tersebut.

Ketiga, kelola mindset, jalani proses kehidupan dengan santai. Semua orang mempunyai jalannya sendiri. Jangan terpengaruh dengan penilaian orang lain, yang baik bagi orang lain belum tentu baik bagi kita.

Keempat, kurangi membandingkan diri dan lebih self love. Jika ingin membandingkan diri, bandingkan dengan keadaan kita yang dulu, bukan dengan orang lain. Membandingkan diri dengan orang lain akan membuat mental kita semakin down. Kuncinya adalah terus melatih pola pikir dalam mengambil keputusan, jangan terburu-buru, dan jangan terlena dengan pressure social.

Kelima, jangan bosan untuk terus mengenali diri karena manusia selalu berubah. Dengan mengenali diri, bisa menjadikan hal itu sebagai pegangan dalam menghadapi krisis-krisis yang terjadi, tahu apa yang penting dan diprioritaskan.

Keenam, buatlah daftar prioritas hidup dan atur prioritas hidup kita. Yang penting prioritas itu dapat dijalankan dahulu. Satu-persatu, semua ada waktunya, tidak ada yang menyuruh kita untuk lari. Mulailah dari hal-hal yang paling sederhana dahulu.

Ingatlah masing-masing dari kita memiliki garis start dan finishnya sendiri. Semua sudah Allah desain dalam garis kehidupan kita, dan Allah tahu kapan keinginan kita akan terwujud. Bukankah Allah Maha Mengetahui? Serahkan dan percayakan semua kepada-Nya, karena tempat terbaik dalam menaruh kepercayaan dan harapan hanya kepada-Nya. Menjadi dewasa adalah memilih, kita selalu bisa berkembang menjadi lebih baik dan kita selalu punya kesempatan itu, take your time and chill.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *