Kenali Perbedaan Penyakit Demam Berdarah dan Virus Zika

Gaya Hidup Info Sehat 16 Mar 2021 0 160x

Nyamuk Aedes Aegypti

Oleh: Masita, S.SiT, M.Kes

Virus zika merupakan salah satu ragam virus yang datang dari seekor nyamuk. Virus ini pertama kali ditemukan pada seekor monyet di hutan Zika, Uganda pada tahu 1947. Tepat di tahun 1952 ditemukan kasus manusia pertama yang terinfeksi virus zika ini. Sementara di Indonesia sejak tahun 1981 hingga 2016, tercatat 5 kasus infeksi pada manusia yang disebabkan oleh virus zika.

Penularan Virus oleh Nyamuk

Penularan Virus Zika sama seperti virus demam berdarah, yaitu oleh gigitan nyamuk Aedes Aegypti yang menjadi pembawa virus Dengue yang menyebabkan penyakit demam berdarah dengue (DBD). Selain menjadi vektor atau pembawa virus Dengue dan virus Zika, nyamuk ini juga membawa virus Chikungunya. Seperti infeksi virus pada umumnya, pada awalnya, pasien akan merasakan demam mendadak, lemas, kemerahan pada kulit badan, punggung dan kaki, serta nyeri otot dan sendi. Beda dengan infeksi virus Dengue, pada infeksi ini mata pasien akan merah karena mengalami radang konjungtiva atau konjungtivitis. Pasien juga akan merasakan sakit kepala. Pemeriksaan laboratorium sederhana biasanya hanya menunjukkan penurunan kadar sel darah putih seperti umumnya infeksi virus lainnya.

Perbedaan DBD dan Virus Zika

Berbeda dengan infeksi demam berdarah, infeksi virus Zika tidak menyebabkan penurunan kadar trombosit. Masa inkubasi hampir mirip dengan infeksi virus Dengue yaitu beberapa hari sampai satu minggu. Perbedaan utama terjadi pada kelainan darah yang terjadi. Pada virus Zika tidak akan terjadi penurunan kadar trombosit. Selain itu Juga pada virus Zika tidak akan terjadi hemokonsentrasi darah yang berakibat terjadinya perdarahan luas pada mukosa dan kulit orang yang mengalami virus demam berdarah. Infeksi oleh virus Dengue lebih berbahaya dari pada virus Zika. Namun, apabila virus Zika menginfeksi ibu hamil maka berdampak pada terjadinya kelainan janin. Hal ini berdasarkan laporan di luar negeri khususnya di Brasil, penyakit infeksi virus Zika ini dihubungkan dengan bayi dengan kepala yang kecil (mikrosefali). Ibu hamil yang terinfeksi virus bisa melahirkan bayi dengan kelainan kepala sehingga perkembangan otaknya terganggu.

Masyarakat harus dapat mengenali gejala virus Zika yaitu demam tinggi mendadak, nyeri sendi atau otot, disertai kemerahan di kulit atau rash di badan punggung dan kaki serta mata merah akibat konjungtivitis. Saat ini, memang vaksin untuk virus ini belum ada. Tidak ada kendala dalam penanganan infeksi virus Zika. Infeksi oleh virus Zika tidak menyebabkan kematian secara langsung. Pengobatan lebih banyak bersifat suportif, istirahat cukup, banyak minum, jika demam minum obat penurun panas dan tetap mengonsumsi makanan yang bergizi. Pencegahan sama seperti pencegahan infeksi demam berdarah yaitu pemberantasan sarang nyamuk. Panyakit virus Zika sama seperti infeksi virus demam berdarah yaitu penyakit yang kita bisa tekan kasusnya jika kita dapat melakukan pemberantasan sarang nyamuk, temukan jentik, dan sosialisasikan 3 M (Mengubur, Mengurus dan Menutup) yang sudah menjadi slogan Kemenkes: Mengubur barang bekas, Menguras tempat penampungan air, Menutup tempat penampungan air dan pemberian abate.

Pencegahan Virus Zika

Sampai saat belum ada vaksin untuk pencegahan virus Zika, cara yang paling efektif untuk mencegah virus ialah menjaga perkembangan nyamuk dengan menghindari adanya genangan air di lingkungan, pengaturan perangkap nyamuk, dan mungkin melakukan semprot nyamuk secara masal. Penggunaan AC dan jaring-jaring pada jendela telah berhasil mencegah penyakit ini menjadi wabah di Amerika. Gunakan anti nyamuk, kenakan baju dan celana panjang, serta tidurlah menggunakan kelambu di malam hari meskipun nyamuk yang menularkan Zika kebanyakan terbang di siang hari. Bila setelah kembali dari suatu negara dan mulai merasa sakit apapun yang berkaitan dengan gejala Zika, pastikan untuk memberitahu dokter dan perawat tentang tujuan perjalanan yang telah lalu. Gejala Zika memang mirip dengan banyak penyakit lain seperti pilek atau penyakit nyamuk lain, sehingga perlu waspada.

Pencegahan Infeksi Virus Zika 

Meski penyakit Zika ini dikategorikan sebagai “penyakit ringan” namun yang menjadi masalah adalah baik vaksin maupun obat untuk penyakit Zika ini belum ada. Baik untuk mengobati atau mencegah infeksi virus Zika. Karena itu untuk menangani pasien yang menderita penyakit Zika ini, yang dapat dilakukan adalah dengan mengobati gejalanya. Beberapa langkah pengobatan penyakit Zika yang disarankan adalah : 1. Cukup beristirahat, 2. Banyak minum air putih untuk mencegah kemungkinan terjadinya dehidrasi (kekurangan cairan tubuh), 3. Bisa digunakan obat-obatan yang berfungsi untuk meringankan demam dan sakit, misalnya obat jenis Acetaminophen atau parasetamol, 4. Sangat tidak disarankan untuk mengkonsumsi Aspirin dan obat anti-inflamasi non-steroid (NSAIDs), seperti ibuprofen dan naproxen.  Obat Aspirin dan NSAID harus dihindari untuk mengurangi risiko kemungkinan terjadinya perdarahan. Sudah sepatutnya kita memulai hidup sehat agar terhindar dari segala macam wabah virus yang merugikan diri kita meski virus Zika ini belum ada di Indonesia, “Mencegah lebih baik dari pada mengobati” karena sehat itu mahal harganya.

 

Tinggalkan Balasan