Keniscayaan Puritanisme-Pluralis

Aksara 24 Mar 2020 0 330x
Judul Buku: Pluralisme Positif: Konsep dan Implementasi dalam Pendidikan Muhammadiyah
Penulis: Abdul Mu’ti & Azaki Khoirudin
Tebal: 207 halaman
Cetakan: I, Agustus 2019
Penerbit: MPI PP Muhammadiyah Bekerjasama dengan Universitas Muhammadiyah Jakarta

Buku Pluralisme Positif: Konsep dan Implementasi dalam Pendidikan Muhammadiyah karya Abdul Mu’ti dan Azaki Khoirudin (2019) ini, tampaknya lanjutan dari buku sebe-lumnya, Kristen Muhammadiyah: Konvergensi Muslim dan Kristen dalam Pendidikan karya  Abdul Mu’ti dan Fajar Riza Ul Haq (2009). Bersama Fajar Riza Ul Haq, Abdul Mu’ti telah menemukan suatu fakta sosial unik di tengah praktik kehidupan antar-umat beragama dengan latar belakang yang kompleks dalam lingkungan Muhammadiyah di Nusa Tenggara Timur (NTT).      

Dari sudut pandang visi dan misi organisasi, keberadaan amal usaha —khususnya di bidang pendidikan— tidak  bisa lepas dari peran dakwah Islamiyah yang telah menjadi identitas gerakan Muhammadiyah. Namun, kasus di NTT, Muhammadiyah lewat amal usaha pendidikannya mampu bersinergi dengan kelompok mayoritas penganut agama Katolik. Bentuk sinergi lebih spesifik dalam penyelenggaraan sekolah-sekolah Muhammadiyah di area minoritas muslim tersebut. Para pengelola amal usaha (sekolah) dan murid-muridnya mayoritas non-muslim.

Jika membaca realitas sosial yang demikian menggunakan kacamata konvensional, tentu saja praktik penyelenggaraan sekolah-sekolah di NTT dinilai menyeberang dari tradisi organisasi. Sebab, selain sebagai gerakan Islam dan gerakan tajdid, Muhammadiyah adalah gerakan dakwah. Keberadaan amal usaha menjadi salah satu pilar dalam perkaderan Muhammadiyah. Apakah gerakan dakwah Muhammadiyah melalui sekolah-sekolah dapat disebut Islamisasi di tengah mayoritas non-muslim? Apakah para pengelola dan murid di sekolah- sekolah Muhammadiyah di NTT dapat disebut sebagai aktivis atau kader Muhammadiyah? Inilah fakta sosial yang sangat kompleks dan memerlukan penjelasan teoretis dan praktis tentang hal yang sebenarnya sedang terjadi di sekolah-sekolah Muhammadiyah di NTT.   

Bahwa Muhammadiyah sebagai gerakan Islam berhaluan puritan yang pluralis atas dasar prinsip egaliter mampu bersanding —bahkan berkolaborasi— dengan para penganut agama Katolik adalah suatu keniscayaan (hlm. 81-91). Inilah fakta sosial yang rupanya tidak hanya ditemukan di NTT, tetapi juga ditemukan di Kawasan Papua melalui kehadiran Perguruan Tinggi Muhammadiyah-‘Aisyiyah (PTMA) yang mayoritas pengelola dan para mahasiswanya non-muslim. Karena itu, diperlukan teoretisasi dengan mencari rumusan dan konsep tentang pluralisme untuk menjelaskan fakta sosial di NTT dan Papua tersebut.

Pluralisme yang selama ini distigmakan secara negatif (konvensional), ternyata memiliki varian baru yang justru memiliki makna sebalik-nya (non-konvensional). Dengan meminjam kerangka konseptual pluralisme menurut Kuntowijoyo (hlm. 115-116), praktik pluralisme yang terjadi di Muhammadiyah NTT dan Papua adalah bentuk pluralisme yang positif. Buku Pluralisme-Positif karya Abdul Mu’ti dan Azaki Khoirudin bermaksud untuk memberikan rumusan konseptual dan implementasi dalam pendidikan Muhammadiyah secara lebih komprehensif.

Selama ini, persepsi umat Islam tentang wacana pluralisme memang cenderung negatif. Pluralisme masih dimaknai sebagai kecenderung-an untuk berpindah-pindah, mencampuradukkan atau tidak berterus terang terhadap keyakinan agama. Padahal, dalam implementasinya pluralisme dapat berwujud sikap terus terang dan berpegang teguh pada suatu keyakinan, namun pada saat yang bersamaan dapat menerima orang lain yang berbeda keyakinan. Konteks pertama bentuk pluralisme yang bernilai negatif karena tidak memiliki pendirian, mencampuradukkan keyakinan yang sudah pasti berbeda, bersikap tegas, serta jujur. Konteks kedua adalah bentuk pluralisme bernilai positif karena bersikap tegas dan jujur, berpegang teguh pada keyakinan sendiri, tetapi sekaligus membuka ruang toleransi untuk orang lain yang berbeda keyakinan (hlm). Inilah teori pluralisme-positif yang pernah digagas Kuntowijoyo (Muslim Tanpa Masjid, hlm. 288-289) yang menginspirasi lahirnya buku ini.

Fakta sosial unik di lingkungan Muhammadiyah di kawasan Indonesia Timur (NTT dan Papua) memang dapat menjadi semacam model hubungan harmonis dan kolaboratif antara berbagai kelompok keyakinan dengan menempatkan Muhammadiyah sebagai kohabitasi atau ‘payung besar’ tanpa harus kehilangan identitas. Justru, identitas baru muncul dalam praktik toleransi otentik yang dilakukan para pengurus Muhammadiyah di kawasan NTT dan Papua. Proses adaptasi yang baik telah mengubah cara pandang baru dalam memaknai hakikat dakwah islamiyah kepada kelompok non-muslim yang tidak mengharuskan mereka menjadi muslim. Dakwah Islamiyah, demikian pula penyampaian mata pelajaran al-Islam, Kemuhammadiyahan, dan Bahasa Arab (ISMUBA) di sekolah-sekolah Muhammadiyah setempat mengalami proses modifikasi secara total. Selain sekolah-sekolah Muhammadiyah di NTT yang mayoritas guru dan murid-muridnya non-muslim, di kawasan Papua juga bertebaran amal usaha di bidang pendidikan tinggi yang mayoritas dosen dan mahasiswanya non-muslim. Seperti dalam kasus sekolah-sekolah Muhammadiyah di NTT, mata kuliah Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) di Perguruan Tinggi Muhammadiyah di Papua juga mengalami proses modifikasi secara total (hlm. 168-173).

Inilah praktik toleransi otentik Muhammadiyah sebagai gerakan Islam dengan Manhaj Salafi-Reformis yang ternyata mampu berkolaborasi dengan kelompok non-muslim (puritan yang pluralis). Lebih jauh lagi, Muhammadiyah telah mempraktikkan toleransi otentik lewat jalur pendidikan dengan seperangkat komponennya (manajemen, kurikulum, dan lain-lain) yang tidak bertujuan untuk mengislamkan warga Katolik di NTT dan Papua, tetapi hanya cukup untuk mengenal Islam dan Muhammadiyah sehingga terbangun prinsip saling memahami perbedaan antar keyakinan. Inilah jalan moderasi dengan desain yang soft sehingga tidak menimbulkan gejolak dan gesekan konflik antara keyakinan. Buku ini sangat direkomendasikan bagi para aktivis, pendidik, pegiat dialog antar keyakinan, baik di lingkungan Muhammadiyah maupun umat Islam di Indonesia.  

*) Mahasiswa Program Doktoral UIN Sunan Kalijaga

Sumber Ilustrasi : https://ibtimes.id/muhammadiyah-dan-pluralisme-yang-substansial/

Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Suara ‘Aisyiyah, Edisi 12 Desember 2019, Rubrik Aksara

Leave a Reply