Kepemimpinan Amanah Perlu Evaluasi Diri Terus Menerus

Kalam 3 Apr 2020 0 299x

Oleh :  Syamsul Hidayat (Majelis Tabligh PP Muhammadiyah, Kaprodi Ilmu Al-Quran dan Tafsir UMS Surakarta)

Kepemimpinan, baik dalam makna al-imamah, al-ri’asah dan al-ri’ayah maupun al-khilafah  pada dasarnya pemegang amanah ilahiah sekaligus amanah insaniyyah-ijtima’iyyah. Sebagai imamah, pemimpin senantiasa di depan memberi komando kepada anggota dan jamaah, sehingga gerakan menjadi kompak, serasi, rapi, dan kuat. Sebagai ri’asah, pemimpin adalah kepala dari sebuah badan atau organisasi yang menjadi penanggungjawab seluruh kegiatan dan kebijaksanaan dalam sebuah kesatuan organisasi maupun negara.

Adapun  sebagai ri’ayah, pemimpin merupakan penggembala, pengayom, pelindung, dan pengarah bagi anggota dan jamaah, sehingga setiap anggota dan jamaah menjadi nyaman, terlindungi semua hak-hak dan kepentingannya, tersalurkan aspirasinya dan terarah kepada suatu tujuan tertentu dari suatu gerakan. Sedangkan sebagai khilafah, pemimpin merupakan wakil amanah dari Allah Rabbul alamin, sekaligus sebagai penerus dari kepemimpinan sebelumnya, sehingga ia harus bertanggungjawab kepada Allah, menjalankan tugas dan amanah dari Allah, serta berusaha menjaga kesinambungan dari kepemimpinan-kepemimpinan sebelumnya.

Oleh karena itu, kepemimpinan baik dalam konteks kepemimpinan politik kenegaraan, maupun kepemimpinan kemasyarakatan dan keummatan harus senantiasa dilihat sebagai sebuah amanah dari Allah, sekaligus dari umat, yang ditunaikan dengan penuh tanggung jawab, profesional, seluruh aktivitasnya dijalankan dengan sistematis dan sistemik, dan terukur.

Tentang kepemimpinan ini Allah menegaskan dalam QS al-Nur ayat 55 :

Dan  Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka menjadi pemimpin di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka sebagai pemimpin, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan aku. dan Barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, Maka mereka Itulah orang-orang yang fasik.

Pada ayat di atas sangat jelas,  bahwa kepemimpinan adalah amanah ilahiah, amanah yang diberikan oleh Allah, dan karenanya hanya diberikan kepada orang-orang yang beriman kepada-Nya. Artinya keimanan kepada Allah dan ketaatan menjalankan agama karena Allah merupakan syarat mutlak sebagai pemimpin. Hal ini disebabkan seorang pemimpin akan berfungsi sebagai pembina, pembimbing, pengarah serta pengayom bagi jamaah dan anggotanya dalam meneguhkan ketaatan kepada Allah dengan menjalankan syariat agama Allah. Dengan ketaatan yang tinggi kepada ajaran agama baik di kalangan para pemimpin, maupun para jamaah dan anggota akan dapat menciptakan kehidupan yang aman, tenteram, kondusif, dan jauh dari kekacauan yang menimbulkan ketakutan.

Profesional dan Amanah

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam karyanya al-Siyasah al-Syar’iyyah menjelaskan kriteria pemimpin yang baik dengan pernyataannya :

وينبغي أن يعرف الأصلح في كل منصب فإن الولاية لها ركنان : القوة والأمانة

Dan selayaknya diketahui bahwa yang paling pantas dan paling maslahat untuk posisi setiap jabatan. Karena kepemimpinan yang ideal, itu memiliki dua sifat dasar: kuat (mampu) dan amanah.

Pernyataan ini oleh Ibn Taimiyah dirujukkan kepada al-Qur’an surat al-Qasas: 54 yang berbunyi :

إنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ الْأَمِينُ

“Sesungguhnya manusia terbaik yang anda tunjuk untuk bekerja adalah orang yang kuat dan amanah.” (QS. al-Qashas: 26).

Dalil lainnya, pujian yang diberikan oleh penguasa Mesir kepada Nabi Yusuf,

إِنَّكَ الْيَوْمَ لَدَيْنَا مَكِينٌ أَمِينٌ

“Sesungguhnya kamu (mulai) hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi (kuat secara posisi) lagi dipercayai pada sisi kami.”. (QS. Yusuf: 54).

Kata kunci al-qawiyyu yang memiliki makna kuat, bisa dimakna dengan kekuatan dalam memimpin dengan kemampuan manajerial, kemampuan komunikasi, dan seluruh keterampilan dalam kepemimpinan yang dapat disetarakan dengan profesionalisme. Kepemimpinan yang profesional dalam arti memiliki segudang kemampuan yang didukung dengan kemauan dan tekad yang kuat untuk menunaikan tanggung jawab. Kepemimpinan profesional adalah kepemimpinan yang memiliki kemampuan tata kelola dan kinerja yang baik sehingga dapat mendinamisasi organisasi dan menggerakkan seluruh anggota dan jamaahnya menuji tujuan organisasi.

Sedangkan kata kunci al-amin, yang kata dasar (masdar)-nya adalah al-amanah. Terkandung makna integritas pribadi yang benar-benar menjaga amanah karena keimanannya kuat kepada Allah, yang bahkan mencapai kualitas ihsan, sehingga dalam menjalan tugas kepemimpinan senantiasa dengan keyakinan bahwa seluruh gerak hati, pikiran, lisan, dan tindakannya selalu mendapatkan pengawasan dari Allah. 

Menurut Ibnu Taimiyah sifat amanah itu kembali kepada kesungguhan orang untuk takut kepada Allah, tidak memperjualbelikan ayat Allah untuk kepentingan dunia, dan tidak takut dengan ancaman manusia. Kriteria inilah yang Allah jadikan standar bagi setiap orang yang menjadi pemimpin dan penentu hukum bagi masyarakat.

Evaluasi Diri

Khalifah Umar bin Khattab ra. berpesan, “Hisablah (evaluasilah) diri kalian sebelum kalian dihisab, dan timbanglah amal kalian sebelum ditimbang pada hari kiamat. Karena yang menjadikan beban kalian ringan kelak di hari kiamat adalah bila kalian mau mengevaluasi diri kalian di dunia saat ini.” Dalam konteks kepemimpinan yang profesional dan amanah, evaluasi diri akan meringankan pada saat pertangungjawaban di akhir kepemimpinan, karena dengan evaluasi diri sebuah kepemimpinan akan dapat melakukan perbaikan-perbaikan pada masa kepemimpinan berikutnya. Dan pada saat kepemimpinan berakhir akan mendapatkan akhir yang baik.

Perbaikan diri dalam konteks akhlak Islam adalah proses pertobatan yang selanjutnya akan membawa sebuah kepemimpinan yang husnul khatimah karena dosa-dosa kepemimpinan telah terhapuskan oleh perbaikan-perbaikan yang dilakukan, oleh karena itu yang didapat adalah pengampunan dari Allah serta balasan yang baik di akhirat kelak dengan mendapat keuntungan.

Allah menegaskan dalam QS. An-Nur: 31 sebagai berikut:

وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ (٣١)

“Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.”

Evaluasi diri hakekatnya adalah melalukan introspeksi diri, dan koreksi diri. Introspeksi adalah mengaca diri mencari, meneliti, dan merenungi diri sendiri dan jajaran kepemimpinannya sehingga dapat ditemukan kelebihan dan kelemahan yang dimilikinya, di sinilah kita memasuki tahap istighfar dalam kepemimpinan yang diemban, yang selanjutnya diikuti dengan koreksi diri yakni segala kelebihan, kebaikan dan kekuatan yang dimiliki dikembangkan terus, dan segala kelemahan, kesalahan serta kekurangan ditutup, diakhiri dan diperbaiki dengan program dan kegiatan yang lebih baik dan di sinilah kita memasuki tahap pertobatan dengan taubat nasuha. Insya Allah dengan demikian akan menghasilkan kepemimpinan yang dapat membawa organisasi dan jamaahnya menuju yang lebih baik dan terbaik. Nasrun Minallah wa Fathun Qarib.

Tulisan ini pernah dimuat pada Majalah Suara ‘Aisyiyah Edisi Februari 2017, Rubrik Kalam

Sumber ilustrasi : https://4tmaj4.wordpress.com/2012/01/11/kepemimpinan/

Leave a Reply