Keragaman dan Perbedaan dalam Sejarah Manusia

Sejarah Wawasan 26 Apr 2021 0 54x
Keragaman dan Perbedaan dalam Sejarah Manusia

Keragaman dan Perbedaan dalam Sejarah Manusia (foto: shutterstock.com)

Oleh: Al Makin

Kapan dunia ini ada dan tercipta? Banyak tradisi dan konsep kuno, sebelum dan di samping Islam, Kristen, dan Yahudi, membahas konsep permulaan dunia, berupa konsep penciptaan (kosmogoni dan kosmologi). Kapan manusia tercipta dan hadir di dunia? Berbagai keyakinan, mitos kuno, dan tradisi masyarakat, dari peradaban Mesopotamia hingga Islam memiliki sudut pandangnya sendiri mengenai kapan manusia tercipta dan hadir di dunia.

Bagaimana dunia dipahami? Seberapa luaskah alam ini? Begitupun tentang persepsi dunia sangat banyak, seperti menurut peradaban kuno Mesopotamia, Sumeria, dan Babilonia. Di kebudayaan itu ada tablet (batu bertulis) kuno tentang kisah Gilgamesh (seorang raja yang mencari keabadian). Di dalamnya juga terdapat cerita banjir yang melanda dunia. Kisah banjir termaktub juga dalam Bibel Perjanjian Lama dan kemudian di dalam al-Quran. Persepsi manusia tentang dunia terus berubah dan berkembang hingga kini.

***

Dunia ini beragam, tidak berisi satu warna, tetapi kompleks. Alam raya ini dipenuhi warna; dunia penuh warna dan perbedaan rupa; itu menciptakan keindahan. Susunan berbagai warna melahirkan seni. Keindahan adalah keanekaragaman dan berbagai perbedaan; keanekaragaman merupakan kenyataan yang tidak bisa dipungkiri: perbedaan itu alami. Teratur itu rapi, tapi keteraturan itu bukan penyeragaman mutlak. Keteraturan itu harmonisasi dari perbedaan-perbedaan sehingga membentuk susunan yang dengan mudah mata kita menangkap bentuk.

Begitupun dengan sejarah manusia, bahwa sejarah manusia itu beragam dan dipenuhi dengan perbedaan. Sejarah dari satu tradisi ke tradisi lain mengalami perkembangan, pengurangan, dan penambahan. Tradisi manusia bergulir dari satu zaman ke zaman lain: diwarisi oleh satu dinasti, dilupakan oleh dinasti lain. Tetapi tradisi itu bisa diterangkan dan dikaitkan dengan tradisi lain. Tradisi yang masih bertahan terkait dengan tradisi lain yang telah sirna.

Misalnya, Islam adalah agama di mana unsur-unsur ragam ada di dalamnya. Islam sejak hadir di dunia 1500 tahun yang lalu telah dipeluk oleh bermilyar-milyar manusia yang silih berganti, menempati ruang dan waktu yang berbeda. Islam pada setiap generasi mengalami kontekstualisasi dan perkembangan yang tidak sama dengan generasi lain. Di Indonesia, masa Kerajaan Demak menawarkan situasi yang berbeda dengan Islam pada masa Yogyakarta zaman Belanda.

Membaca Sejarah

Keragaman dan perbedaan telah mengakar dalam sejarah, pengetahuan, dan tradisi keagamaan. Hal ini dapat dipelajari dari bagaimana tradisi kuno nun jauh di sana di Mesopotamia, Mesir, Yunani, Romawi, India, Arab, dan Indonesia, yang saling berkelindan serta diwarisi manusia hingga saat ini. Tradisi beriman dan berpikir dalam budaya yang terpisah itu bisa kita pahami, dan dengan begitu bisa kita tempatkan manusia saat ini, dan juga budayanya, dalam sejarah manusia yang panjang, 2,5 juta tahun.

Kita juga bisa memahami perpindahan dan kelanjutan tradisi tersebut, serta mengenali bagaimana para pemikirnya bertanya dan menjawab (sebagaimana kita saat ini juga) tentang dunia, alam semesta, dan Penciptanya. Karena kreasi dan kemampuan berpikir itulah manusia terdorong dalam perkembangan tradisi keimanan, pengetahuan, dan peradaban. Manusia membangun tempat ibadah, kota, dan negara; para penguasa menyokong secara ideologi dan militer; para intelektual berkarya dan memberi ideologi pada dinasti; itulah jalannya sejarah dunia.

Maka penting berkelana dari abad ke abad lain, zaman ke zaman lain, peradaban ke peradaban lain, tradisi keagamaan ke tradisi lain, pemikir ke pemikir lain untuk menghargai bagaimana usaha manusia dalam perjuangannya selama bertahan di planet bumi. Usaha itu telah melahirkan keragaman dan perbedaan dalam tradisi keagamaan, pengetahuan, dan budaya. Pemahaman dan penghargaan semua khazanah sejarah, dari era kuno, klasik, dan masa lalu sangat diperlukan karena masa sekarang adalah cerminan masa lalu, serta masa lalu memberi fondasi bagi masa sekarang dan selanjutnya.

Baca Juga

Sejarah ‘Aisyiyah: Kelahiran Perempuan Muslim Berkemajuan

Pandangan sejarah tersebut berguna untuk refleksi masa kini. Masa lalu adalah awal masa kini, masa lalu menjadi fondasi masa kini, namun juga sekaligus diciptakan pada masa kini. Dengan kata lain, masa lalu membentuk kita, tapi juga kita bentuk. Kadang kita terkejut dengan masa lalu, bahwa pengetahuan tertentu telah ada di masa lalu.

Cerita banjir sudah ada ribuan tahun sebelum termaktub dalam kitab suci. Dengan memandang masa lalu, kita dapat memahami dunia, manusia, tradisi, agama dalam peradaban. Seolah kita diajak menggambar peta dunia dan sejarahnya, juga membayangkan bagaimana dunia ini berkembang hingga sepeti ini dan itu dimulai dari masa lalu.

Refleksi: Pentingnya Meluaskan Cakrawala Pengetahuan

Ada kisah, yakni ketika penulis mengajar sering menemui tantangan cara berpikir mahasiswa yang cenderung kurang menyadari bagaimana sejarah dunia. Mereka kadang tidak menyadari hubungan antar budaya, peradaban, dan kesulitan dalam menyusun kronologi sejarah. Penulis temui para mahasiswa berpikir homogen yang hanya berpatokan pada suatu pandangan bahwa dunia ini bermula dari tradisi agama yang dipeluknya. Tidak ada dunia sebelumnya, dan tidak ada dunia sesudahnya.

Misalnya, mahasiswa muslim tidak bisa membayangkan apa yang terjadi sebelum Islam, yaitu abad tujuh masehi. Dikira tidak ada peradaban, tidak ada tulisan, tidak ada hiruk pikuk agama-agama, politik, dan budaya sebelum era itu. Kebanyakan mereka berasumsi semua bermula dari Makkah dan Madinah, selain itu tidak ada apapun. Ini sama dengan membayangkan sebelum era itu adalah zaman vacuum, void.

Penting menempatkan bagaimana cara kita berpikir secara majemuk dan beragam sesuai dengan bukti sejarah, sehingga menggiring kesadaran bahwa kita tidak sendirian di dunia ini. Sejarah manusia sudah panjang, namun sejarah peradaban masih muda; lebih muda lagi sejarah tradisi budaya dan beragama; dan lebih muda lagi pengetahuan dan teknologi.

Diolah dari Majalah Suara ‘Aisyiyah Edisi Januari 2017

Tinggalkan Balasan