Keteladanan Luqmanul Hakim dalam Pendidikan Anak

Kalam 14 Mar 2020 0 76x

Oleh: Nur Hidayani, SH.MH. (Ketua Devisi Mubalighat, Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Aisyiyah)

اَلْحَمْدُ لله الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَـقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ ، أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلهَ إِلاَّ الله وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ الله.اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى ألِه وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ.

Segala puji bagi Allah yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang benar, untuk memenangkannya di atas segala agama, walaupun orang musyrik  menyebar kebencian. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Ya Allah, semoga keselamatan terlimpah kepada nabiyyina Muhammad saw., kepada keluarganya, dan para sahabat semua yang tetap istiqamah hingga akhir kiamat nanti.

Pentingnya Keteladanan

Keteladanan berasal dari kata “teladan” yang menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) bermakna “sesuatu yang patut ditiru atau baik untuk dicontoh.”  Oleh karena itu, seseorang yang berhak diteladani adalah seseorang yang memiliki akhlak  mulia, jujur, selaras antara perkataan dan perbuatan. Bahkan tanpa berkata pun, perilaku seorang teladan itu dapat dijadikan contoh untuk ditiru, misalnya dalam hal keteguhan iman, keikhlasan, kesabaran, empati, dan kehalusan budinya.

Sebagai orang tua, baik buruknya akhlak akan dicontoh oleh anak-anaknya. Orang tualah yang pertama dan utama dikenal dan paling dekat keberadaannya. Belajar dan terus mengkaji banyak hikmah, merupakan suatu keniscayaan sebagai upaya memantaskan diri untuk menjadi teladan. Pada kesempatan ini, mari kita ambil pelajaran dari keteladanan Luqmanul Hakim yang meskipun bukan rasul maupun nabi, akan tetapi namanya diabadikan di dalam al-Quran.  

Mengenal Luqmanul Hakim

Bicara soal Luqman al-Hakim memang tidak ada habisnya, mulai dari perbedaan pendapat ulama tentang kenabiannya, sampai asal-usulnya. Dalam riwayat Ibnu Abbas (3-68 H), Luqman berasal dari Ethiopia. Menurut riwayat Sa’id bin Musayyab (15-94 H) dan Jabir bin Abdullah (16-78 H), ia berasal dari Nubia, Mesir atau Sudan. Ia berkulit hitam, berhidung pesek, pendek, dan berbibir tebal, menurut sebagian besar riwayat. (Imam Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qurân al-‘Adhîm, Riyadl: Dar Thayyibah, 1999, juz 6, h. 333)

Meskipun dalam beberapa riwayat Luqman digambarkan sebagai seorang yang tidak menarik penampilannya, namun dia adalah seorang bijak bestari hingga dimuliakan oleh Allah dalam al-Quran. Hal ini membuktikan bahwa semua orang punya peluang yang sama menjadi kekasih Allah yang Maha Rahman dan Rahim, tanpa memandang warna kulit, latar belakang, dan muasal kelahirannya. Ia tidak sekadar memberi inspirasi, tapi inspirasi itu sendiri.

Jejaknya terus hidup, mengajarkan semangat pada generasi setelahnya, terutama orang-orang yang berkeadaan sepertinya. Dalam satu riwayat, ketika seorang berkulit hitam datang, Sa’id bin Musayyab berkata, “Jangan bersedih karena kau berkulit hitam. Karena sesungguhnya ada tiga manusia terbaik (berkulit hitam) dari Sudan: Bilal, Mahja’ maula (budak) Umar bin Khattab, dan Luqman al-Hakim, ia orang kulit hitam dari Nubia.” (Imam Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qurân al-‘Adhîm, juz 6, h. 333).

Luqman memiliki hati yang tulus dan akhlaknya sangat mulia.  Kata-kata hikmah sebagai nasihat selalu keluar dari lisannya. Kemuliaan seseorang di hadapan Allah swt. tidak tergantung kekayaannya, paras wajahnya, kedudukan atau jabatannya, warna kulitnya dan lainnya, akan tetapi pada ketakwaan dan  akhlaknya.

 إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal..(Q.S. al-Hujurat: 13).

Dari Ibnu Abbas r.a. berkata: Saya mendengar Rasulullah Saw bersabda: Luqman bukanlah  seorang Nabi,  tetapi beliau adalah  seorang hamba yang banyak berpikir  secara bersih dan penuh keyakinan  sehingga  ia mencintai Allah dan Allah pun mencintainya, maka dilimpahkan kepadanya al-Hikmah. (H.R. al-Qurthuby)

Dari penuturan Ibnu Abbas ini, dapat kita ketahui bahwa berpikir, belajar, hingga menjadi orang cerdas saja tidak cukup tanpa membersihkan pikiran yang mengotori keyakinannya kepada Allah swt. Kecintaan Luqmanul Hakim kepada Allah diwariskan kepada anak-anaknya dalam bentuk nasihat yang disampaikan dengan cara bijak dan penuh hikmah. Luqman al-Hakim dipilih Allah sebagai sosok orang tua panutan yang diabadikan namanya menjadi sebuah nama surat dalam al-Quran yaitu surat Luqman yang merupakan surat ke-31.

Baca selengkapnya di Majalah Suara ‘Aisyiyah Edisi 10 Oktober 2019, Rubrik Maret.

Sumber Ilustrasi :  https://www.bacaanmadani.com/2017/10/kisah-dan-nasehat-nasehat-lukmanul-hakim.html

Leave a Reply