Sejarah

Keterlibatan Aisyiyah dalam Konferensi Islam Asia Afrika Pertama

Konferensi Islam Asia Afrika

Indonesia menjadi tuan rumah Konferensi Islam Asia Afrika (KIAA) pertama yang digelar pada 6-14 Maret 1965. Acara yang berlangsung di Gedung Merdeka, Bandung, ini diikuti oleh setidaknya 35 perwakilan dari negara Asia-Afrika dan beberapa wakil dari negara peninjau. Sifat konferensi ini adalah non-pemerintah, yang dalam hal ini melibatkan partai politik Islam atau organisasi massa yang berbasis Islam.

Dari Indonesia, hadir mengikuti KIAA perwakilan dari Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, Perti, Al-Washliyah, PSII, Gasbiindo, dan Al-Washliyah. Perwakilan Muhammadiyah dalam konferensi tersebut berjumlah 7 (tujuh) orang, terdiri dari 5 (lima) laki-laki dan 2 (dua) perempuan. Tiga di antaranya adalah Ahmad Badawi selaku Ketua Umum PP Muhammadiyah, KH. Farid Ma’ruf, dan Siti Baroroh Baried.

Dalam laporan Siti Baroroh, konferensi itu dibuka dengan amanat Presiden Republik Indonesia, Soekarno. Amanat tersebut dinilai punya arti besar terhadap umat Islam di seluruh dunia, khususnya di Asia-Afrika. “Karena dalam amanatnya itu Presiden menekankan bahwa sekarang sudah waktunya ummat Islam bangkit, bersatu, menjusun kekuatan untuk menghadapi imperialisme, kolonialisme dan neokolonialisme,” tulis Baroroh (Suara ‘Aisyiyah, No. 2, 1965, hlm. 7).

Amanat Presiden Soekarno mendapat sambutan positif dari berbagai delegasi yang hadir. Mereka pun memandang KIAA ini sebagai titik tolak kebangkitan dunia Islam dan langkah awal untuk menyusun sebuah dunia baru. Dalam konferensi itu pula, secara aklamasi Presiden Soekarno diberi gelar Pahlawan Islam dan Kemerdekaan.

Selepas pembukaan, masing-masing delegasi menyampaikan pandangan umum mengenai persoalan umat Islam di berbagai negara. Berbagai persoalan tersebut selanjutnya akan dibahas lebih lanjut dalam sidang komite (committee). Ada 5 (lima) komite dalam konferensi tersebut, yakni: pertama, Komite Politik dan Organisasi; kedua, Komite Minoritas; ketiga, Komite Sosial dan Ekonomi; keempat, Komite Pendidikan, Da’wah, Kebudajaan dan Penerangan, dan; kelima, Komite Wanita.

Baca Juga: Fonds-Dachlan: Program Internasional Pertama Muhammadiyah

Dalam kesempatan tersebut, Siti Baroroh terlibat dalam dua komite, yakni Komite Empat dan Komite Lima. “Komite IV berdjalan dengan lantjar, karena umumnja para delegasi membawa konsep jang sama dalam bidang tersebut,” (hlm. 8). Kelancaran sidang itu, dalam pantauan Siti Baroroh, tidak dapat dilepaskan dari diadakannya lobbying sebelum sidang komite dimulai.

Ada 2 (dua) keputusan penting yang dihasilkan oleh Komite Empat, yakni: pertama, akan mendirikan Pusat Tabligh Islam, dan; kedua, akan mendirikan Pusat Penerangan Islam yang bertugas untuk (a) memajukan dakwah Islam, (b) memupuk dan mengembangkan kebudayaan Islam, dan (c) mengadakan tukar-menukar mengenai kegiatan dan keadaan umat Islam di negara-negara Asia-Afrika. Pusat Tabligh Islam dan Pusat Penerangan Islam ini nantinya berada di bawah naungan Organisasi Islam Afrika Asia.

“Keputusan ini tentu sangat menggembirakan ummat Islam semua, karena kita akan memiliki suatu badan international jang akan mengurusi segala sesuatu mengenai Da’wah. Dengan demikian negara jang telah madju dan kaja akan dapat membantu jang lemah dan kurang mampu dalam pembeajaan,” tulis Siti Baroroh (hlm. 8).

Sementara itu, Komite Lima diikuti oleh perwakilan dari kaum perempuan. Mereka berasal dari Nigeria, Irak, India, Jepang, Republik Rakyat Tiongkok, dan Indonesia. Ada 18 peserta yang mengikuti Komite Lima.

Menurut Siti Baroroh, prasaran yang disampaikan delegasi Indonesia menjadi pokok pembicaraan dalam sidang komite ini. Pembicaraan juga mencakup kondisi kemajuan perempuan di berbagai negara delegasi. Dalam pengamatannya, tingkat kemajuan perempuan Indonesia tidak kalah dibandingkan dengan negara-negara Asia-Afrika lain. Bahkan, dalam beberapa bidang, perempuan Indonesia lebih maju, seperti dalam bidang kegiatan sosial, organisasi, dan pendidikan.

Sayangnya, Komite Lima belum mencapai kesepakatan bersama dalam rangka memajukan perempuan Islam di Asia-Afrika. Oleh karena itu, ada beberapa keputusan yang nantinya bisa ditindaklanjuti oleh para delegasi. Pertama, KIAA mengikutsertakan perempuan dalam segala kegiatannya. Kedua, KIAA mendorong kemajuan perempuan Islam. Ketiga, memajukan posisi perempuan Islam di negara-negara Asia-Afrika.

Keempat, mengusahakan agar lebih banyak kesempatan yang diberikan kepada perempuan untuk giat dalam segala bidang, terutama bidang pendidikan, dakwah, dan kebudayaan. Kelima, KIAA mengusahakan dengan gigih agar perempuan Islam Asia-Afrika mendapatkan hak-haknya, seperti hak memilih dan dipiilih dalam pemilihan umum, hak perlindungan dalam hal perkawinan dan perceraian. Keenam, mendorong agar perempuan Islam diberi hak ikut salat di masjid-masjid, bahkan mendapatkan tempat yang khusus untuk berjamaah sendiri. Ketujuh, KIAA akan mendirikan Organisasi Wanita Islam Afrika Asia yang bernaung di dalam organisasi Islam Afrika-Asia.

Keputusan ini, menurut Siti Baroroh, sebenarnya sudah diterapkan di Indonesia. Oleh karenanya ia menuturkan, “dalam hal ini kita harus berpangkal kepada wanita Islam sdr2 kita di Afrika ataupun Asia jang masih terbelakang, bahkan djauh dibelakang kita. Sebab belum semua negara2 Afrika Asia mengikut sertakan para wanita dalam segala lapangan”.

Atas segala keputusan itu, Siti Baroroh meminta agar warga ‘Aisyiyah melaksanakan hasil dari KIAA pertama tersebut. “Kita semua wanita Islam Indonesia harus optimis akan berhasilnja semua itu,” tulisnya (hlm. 10). Seruan untuk melaksanakan hasil KIAA juga dipertegas di dalam keputusan Muktamar Ke-36 ‘Aisyiyah di Bandung. PP ‘Aisyiyah menginstruksikan untuk “melaksanakan keputusan KIAA terutama dibidang wanita”. (siraj)

Related posts
Sejarah

Muktamar Ke-37 Yogyakarta, Muktamar Pertama Aisyiyah sebagai Organisasi Otonom Muhammadiyah

‘Aisyiyah berdiri pada 27 Rajab 1335 H atau bertepatan dengan 19 Mei 1917 M. Nama ‘Aisyiyah bermakna pengikut ‘Aisyah, istri Nabi Muhammad…
Tokoh

Andi Rasdiyanah, Rektor Perempuan Pertama Perguruan Tinggi Islam Negeri Itu adalah Kader Aisyiyah

Andi Rasdiyanah lahir di Bulukumba, Sulawesi Selatan pada 14 Februari 1935. Ia merupakan anak bungsu dari empat bersaudara. Ayahnya meninggal ketika ia…
Berita

Cerahkan Peradaban Bangsa, RSIJ Cempaka Putih dan Muhammadiyah-Aisyiyah Gelar Semiloknas

Jakarta, Suara ‘Aisyiyah – Muhammadiyah-‘Aisyiyah melalui Majelis Kesehatan PP ‘Aisyiyah, MPKU PP Muhammadiyah, dan RSIJ Cempaka Putih mengadakan kegiatan Seminar dan Lokakarya…

3 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.