Keluarga

Ketika Pasangan Pergi

Oleh: Ahsan Jamet Hamidi*

Bulan lalu, suami kerabat perempuan saya berpulang, tidak lama setelah kanker paru-paru menggerogoti tubuhnya yang nampak sehat, sejak 4 bulan sebelumnya. Awalnya, ia hanya mengalami batuk kecil yang tidak kunjung sembuh. Mungkin batuk itu biasa. Untuk itu, ia tidak mengurangi kebiasaan merokok. Setelah beberapa kali periksa ke dokter, melalui beberapa kali tes laboratorium, ia dinyatakan positif kanker paru-paru. Sang istri kaget, sementara suami tetap berusaha tegar.

Sebagai pekerja di bidang IT (Information and Technology), bekerja dalam kesendirian hingga larut malam, adalah pilihan waktu terbaiknya. Rokok, kopi, makanan kecil mampu menstimulasi tubuh agar tetap segar. Apakah kebiasaan itu yang menjadi pemicu? Ilmu pengetahuan saya tidak cukup untuk menyimpulkannya. Pastinya, itu kehedak Allah. Tentu ada maksud baik di baliknya.

Setelah divonis kanker, suami kerabat saya berusaha tetap tenang, sambil menghitung kamampuan finansial. Cukup besar biaya yang dibutuhkan untuk pengobatan jangka panjang, hingga kemungkinan bisa survive. Dia memutuskan tidak mengikuti saran dokter untuk berobat secara medis. Asuransi kesehatan istri dan BPJS miliknya tidak akan cukup. ”Saya tidak akan meninggalkan anak-istri jatuh miskin, menderita saat kematian nanti,” ujarnya pasrah.

Sejak saat itu, setiap desahan nafasnya adalah zikir penuh kepasrahan total. Ia hanya meminum obat pereda rasa sakit. Ia terus berjuang sekuat tenaga  menyiapkan batin menyambut kedatangan malaikat maut. Akhir Mei 2023, pukul 3.45 pagi, malaikat itu benar-benar datang menjemputnya pulang. Dia sudah terbebas dari rasa sakit, dan dari permainan dunia yang semu penuh tipu daya.

Menjelang shubuh, saat hendak membangunkan suami untuk salat, ia sudah tebujur kaku. Mulutnya tak lagi bisa berucap, meski suhu tubunya masih hangat. Nafasnya berhenti, pertanda jantung tidak lagi berdetak. ”Papa sudah pergi, Nak,” tangis sang istri sambil memeluk erat putri tunggalnya.

Baca Juga: Mencegah dan Mengatasi Perselingkuhan

Saya ikut memasukkan mayat ke liang lahat, sementara sang istri terus menangis. Kesedihan memuncak ketika mayat sudah benar-benar terkubur di dalam tanah. Para kerabat dekat menuntunnya pulang ke rumah. Kami para kerabat berusaha menenangkan istri yang masih terus menangis. Ketika satu-persatu kerabat pergi, rumah itu terasa sepi sekali. Saya menghampirinya sambil berpesan.

Nduk, setahuku, Allah memberikan ujian kepada manusia sesuai kadar kekuatannya. Kamu pasti kuat. Kepergian suamimu adalah yang terbaik. Bebanmu sudah cukup berat sebagai pencari nafkah tunggal di rumah ini. Putrimu sebentar lagi kuliah. Kamu harus sehat, produktif untuk menahkodai kapal ini sampai ke pulau tujuan,” ucap saya.

Hilang Untuk Menumbuhkan

Seorang karibku, perempuan di dunia pergerakan Hening Parlan, juga mengalami nasib yang sama. Ia dulu ditinggal suami saat usia 32 tahun. Dua anak (laki dan perempuan) yang belum juga sekolah TK menemani hidupnya. Awalnya, dunia juga terasa gelap. Suami meninggal saat belum genap 10 tahun bekerja di Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Sementara istri bekerja di lembaga non pemerintah yang penuh ketidakpastian.

Namun benarlah firman Allah di atas, bahwa dibalik ujian yang dianggap orang lain sangat berat,  ternyata sudah sesuai dengan kadar ukuran para pelakunya. Gelap yang dirasakan itu tidak bertahan lama. Ketika sumber penerangan yang ditinggalkan almarhum suaminya semakin redup, Allah memberikan energi baru. Sinar bulan di malam hari itu menjadi penerang baru. Ketika sinar bulan mulai redup, sinar matahari yang lebih terang menggantikanya. Energi dari keduanya tidak pernah ada habisnya.

Jikapun harus ada pergantian antara terang dan gelap, antara bulan dan matahari, itu hanyalah pesan sederhana, bahwa manusia tidak akan mampu mengatur hidup mereka, apalagi alam sekitarnya sesuai kehedaknya sendiri. Hanya kekuatan Tuhan yang mampu mengatur semuanya dengan penuh kepastian.

Ternyata, hajat hidup para perempuan dan anak-anak yang selama ini dipenuhi oleh suami, tidak otomatis berhenti setelah kepergiannya. Itu juga pertanda, bahwa sesungguhnya bukanlah manusia (suami atau istri) sebagai sumber rezeki. Fungsi pasangan hanyalah sebagai perantara bagi aliran rezeki dari sang Maha Pemberi Rezeki. Kematian di satu pihak, adalah pertumbuhan di pihak lain. Besar kecilnya tidak akan bisa ditakar oleh manusia.

Baca Juga: Menyiapkan Dana Pensiun Sedini Mungkin

Mengapa? Karena kehendak manusia itu tidak pernah berbatas. Seberapapun besarnya nikmat Allah, manusia tidak akan pernah merasa cukup jika tidak mensyukurinya. Untuk itu, besar-kecilnya rezeki tidak lagi penting untuk ditakar-takar. Manusia hanya perlu menikmati dan mensyukurinya saja.

Perempuan Kuat dan Tegar

Kakak perempuan saya juga ditinggal pergi pasangan hidupnya dalam usia relatif muda, 48 tahun, suami 53 tahun saat pergi. Pada tahun-tahun pertama tentu dia sangat sedih dan kesepian. Ada saja perkara yang dirasa menggelisahkan dan membuatnya menangis sedih. Namun, seiring perjalanan waktu, tantangan hidup telah membuatnya tumbuh menjadi perempuan yang semakin mandiri, tangguh, kuat dan tegar.

Karib perempuan di Muhammadiyah, dan kakak perempuan saya adalah saksi. Keduanya secara alamiah mengalami perubahan yang begitu pasti. Kapasitas mereka tumbuh begitu dahsyat. Penguasaan ilmu pengetahuan, ketrampilan, serta kemampuan memimpin organisasi keduanya tumbuh begitu baik. Karib saya adalah seorang Direktur pada sebuah lembaga non pemerintah. Sementara kakak perempuan saya adalah seorang Kepala Sekolah SMA Negeri. Keduanya bekerja penuh dedikasi, dan mampu memberikan tauladan baik.

Saya kerap meledek keduanya dengan candaan tentang pasangan hidup baru. Keduanya menjawab dengan nada yang sama.

”Suami baru? Banyak lelaki, dari iseng hingga serius yang mengajak nikah. Saya selalu berpikir panjang. Jika mereka sekedar ingin menikmati tubuh perempuan, tanpa tanggungjawab, terutama kasih sayang kepada anak-anak yang bukan darah dagingnya, buat apa?,” ujar keduanya

”Kalau sekedar mengatasi masalah kebutuhan seksual, kami bukan orang lemah, karena terbukti telah mampu mengatasinya dengan baik,” mereka menambahkan.

Selain itu, ada banyak perempuan tegar yang meyakini sepenuh hati, bahwa mereka  yang ditinggal wafat pasangannya, kelak akan dipertemukan kembali dengan suami tercinta di dunia lain yang penuh keabadian. Itukah cinta sejati…?

*Ketua Pimpinan Ranting Muhammadiyah Legoso, Ciputat Timur.

Related posts
Konsultasi Keluarga

Strategi Mengelola Hubungan dengan Anak Tiri

Pertanyaan: Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh Kak ‘Aisy yang saya hormati. Saya seorang perempuan lajang berusia di atas 30 tahun. Saya berencana menikah dengan…
Politik dan Hukum

Peran Keluarga dalam Pendidikan Politik

Oleh: Susilaningsih Kuntowijoyo Tahun 2024 merupakan tahun politik karena pada tanggal 14 Februari 2024 akan diadakan pemilihan presiden dan wakil presiden (Pilpres)…
Keluarga Sakinah

Pengasuhan dan Generasi Anti Perundungan

Oleh: Elli Nur Hayati* Belakangan kita banyak mendengar dan melihat, baik secara langsung maupun tidak langsung, perundungan yang dilakukan terhadap seseorang yang…

5 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *