Keturunan Kiai Ahmad Dahlan di Thailand

Inspirasi 23 Jun 2021 0 64x
Muhammadiyah

Muhammadiyah

Oleh: Khoirul Amal

Muhammadiyah di Thailand baru dibentuk tahun 2021. Ada cerita dari anak-turun Kiai Ahmad Dahlan di Thailand yang menarik untuk diketahui. Suara ‘Aisyiyah memaparkan hal ini berdasarkan cerita Siti Hadiroh Ahmad yang merupakan cicit dari Kiai Dahlan. Ibunda dari Siti Hadiroh merupakan cucu dari Kiai Dahlan dari putra Kiai Dahlan yang bernama Nyai Siti Busyro.

***

Tersebutlah seorang putra Kiai Ahmad Dahlan bernama Jumhan yang tinggal di Thailand (sejak 1933-red). Masyarakat Thailand lebih mengenal Jumhan dengan nama Irfan Dahlan (sering ditulis dengan Erfaan Dahlan). Awalnya, Irfan disekolahkan oleh Kiai Dahlan ke Pakistan (1924). Akan tetapi, karena situasi politik di Indonesia yang tidak memungkinkan, Irfan tidak dapat pulang dan berinisiatif untuk mengembangkan apa yang pernah dipelajarinya tersebut ke Thailand. Di sana Irfan bersama temannya tinggal di sebuah masjid Jawa. Masjid tersebut masih bagus dan masih bertahan hingga saat ini.

Baca Juga: Kiai Ahmad Dahlan Memakai Gamis

Di usianya yang hampir 40 tahun, Irfan Dahlan diambil menantu oleh kiai yang mengurusi masjid Jawa tersebut karena ia dianggap pandai dan alim. Dari pernikahannya dengan Zahrah (yang merupakan seorang aktivis perempuan muslim), Irfan dikarunia sepuluh orang anak (Rambhai, Phaiboon, Phaerat, Phaesaan, Amporn, Winai, Anan, Athorn, Valida, dan Amnaat). Hingga saat ini, sepuluh anak Irfan masih hidup. Mereka menetap dan menjadi warga negara Thailand. Salah satu dari sepuluh anak Irfan pernah menetap di Amerika, tetapi sekarang sudah menetap di Pattani, Thailand Selatan.

Mengikuti Jejak Kiai Ahmad Dahlan

Kepribadian Irfan Dahlan sangat luar biasa. Walaupun pandai dan menguasai sembilan bahasa, ia selalu rendah hati. Irfan memegang perkataan ayahnya, Kiai Ahmad Dahlan, kepada anak-anak dan muridnya, “jangan mengaku keturunan saya kalau tidak terjun di Muhammadiyah”.  Kiai Dahlan tidak menginginkan adanya kultus. Baginya tidak ada istilah bahwa anak pendiri Muhammadiyah harus mendapatkan ini dan itu.

Karena itu, di Bangkok Irfan sangat merahasiakan siapa sebenarnya dirinya, termasuk kepada anak-anak dan istrinya. Anak-anak Irfan tidak mengetahui bahwa kakek mereka adalah pahlawan. Mereka baru mengetahui hal itu ketika dua anak Irfan (Ma’rifah atau Rambe dan Aminah atau Mine) bekerja di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Bangkok. Dari semua anak Irfan, hanya dua orang inilah yang memahami bahasa Indonesia.

Pihak yang menceritakan bahwa mereka adalah keturunan Kiai Ahmad Dahlan justru para duta besar. Biasanya para duta besar itu sudah dibekali informasi bahwa di Thailand ada anak-cucu Kiai Dahlan. Karena itu, setiap ada tamu di KBRI, kedua anak Irfan (Ma’rifah dan Aminah)  selalu diundang. Mereka diperkenalkan kepada tamu sebagai cucu Kiai Dahlan. Saat ini, keturunan Irfan Dahlan yang laki-laki memiliki nama belakang Dahlan.

Baca Juga: Profil Kiai Ahmad Dahlan: Pikiran dan Gerakan yang Melampaui Zaman

Di Thailand, Irfan mempraktikkan apa yang dilakukan oleh Kiai Ahmad Dahlan: dalam hal ibadah, mendirikan lembaga sosial seperti panti asuhan, dan lain-lain. Prinsip-prinsip keagamaan ini juga diberikan kepada anak-anak Irfan. Calon pasangan anak-anak Irfan yang akan menikah, baik orang Belanda, orang Amerika, maupun lainnya diharuskan masuk Islam terlebih dahulu.

Berkunjung ke Indonesia

Irfan Dahlan pernah kembali ke Indonesia ketika Presiden Republik Indonesia Soekarno akan menyerahkan Padepokan Kiai Dahlan di Pingit. Kala itu, pemerintah berharap agar yang menerima adalah anak laki-laki kandung dari Kiai Ahmad Dahlan dan Nyai Siti Walidah. Pada saat itu, Hadiroh tengah berada di bangku SMA dan ia mengetahui pertemuan keluarga yang sebelumnya belum pernah terjadi itu.

Berbagai hal yang dilakukan oleh Kiai Ahmad Dahlan di Indonesia diadopsi oleh keluarga Irfan Dahlan di Thailand, terutama dalam menyelenggarakan panti asuhan dan pendidikan. Cucu Irfan yang bernama Athorn mempunyai lembaga pendidikan seperti pesantren yang dijalankan dengan pemahaman Muhammadiyah.

Baca Juga: Cita-Cita Muhammadiyah Membangun Peradaban Utama

Cucu Irfan yang lain ada pula yang menjadi orang muslim kepercayaan Raja. Ibunya pernah berpesan agar semua anak keturunan Irfan menyisihkan sepertiga gajinya untuk disalurkan bagi kepentingan sosial. Tradisi ini terus berlangsung hingga semua cucu yang sudah bekerja harus menyetorkan sepertiga gajinya kepada Aminah selaku koordinator.

Salah satu anak Irfan Dahlan, yaitu Winai Dahlan (Direktur Halal Science Center, Chulalongkorn University, Bangkok, Thailand) bersahabat dengan raja Thailand, yaitu Raja Maha Vajiralongkorn. Sebelumnya, Winai Dahlan telah menjadi orang kepercayaan Raja Bhumibol Adulyadej (ayah dari Raja Maha Vajiralongkorn). Pada saat Winai Dahlan datang ke Yogyakarta karena diundang oleh UMY untuk penandatanganan buku Ensiklopedi Muhammadiyah (2013), ia mengatakan, “It’s my hero”.  Ia sangat bangga dengan Kiai Dahlan. Pada saat Hadiroh ke Thailand, Winai mengajaknya ke ruang kerjanya yang bagus seraya menunjukkan perangko bergambar Kiai Dahlan dan dia kembali mengatakan, “It’s my hero”.

Tinggalkan Balasan