Kalam

Keutamaan Memperbaiki Hubungan Antarsesama

makhluk sosial
makhluk sosial

makhluk sosial (foto: istockphoto)

Oleh: Tito Yuwono*

Manusia adalah makhluk sosial; makhluk yang saling membutuhkan antar sesama. Manusia tidak bisa bertahan hidup tanpa peran orang lain. Bahkan semenjak kita belum lahir, ada peran orang lain, yakni orang tua yang selalu menjaga agar kita tetap sehat dalam kandungan.

Pertumbuhan kita dalam rahim ibu selalu dikonsultasikan rutin ke bidan atau ke dokter. Ibu ketika makan dan minum selalu hati-hati dan penuh banyak pertimbangan supaya pertumbuhan kita baik.

Ketika ibu sedang sakit, ia juga tidak bisa minum obat sembarangan karena memperhatikan dampak obat terhadap kesehatan anak yang dikandungnya. Juga doa selalu dipanjatkan agar kita sehat di dalam kandungan dan lahir dalam keadaan selamat dan sehat. Begitulah, masih dalam kandungan saja sudah banyak peran orang-orang terdekat kita.

Kemudian ketika  kita lahir, orang lainlah yang membantu kelahiran kita, yakni bidan atau dokter. Kemudian orang tua memelihara kita dengan penuh kasih sayang. Baju yang kita dikenakan, makan dan minum kita semuanya dari orang lain. Begitulah seterusnya sampai kita meninggal, kita saling memerlukan satu sama lain. Maka tidak selayaknya kita sombong dan merasa tidak memerlukan orang lain.

Selain saling memerlukan dalam pemenuhan kebutuhan, manusia juga memerlukan interaksi dan bergaul antarsesama. Interkasi antara anak dengan orang tua, interaksi dengan tetangga, interaksi dengan teman sekolah, interaksi sesama teman kerja, interaksi dengan pedagang, interaksi dengan pegawai pemerintah, dan lain-lain. Dalam berinterakasi, semestinya mengusahakan agar komunikasinya berjalan dengan baik, sehingga semua urusan dalam berinteraksi berjalan dengan lancar.

Baca Juga: Menumbuhkan Nilai Perdamaian, Menghargai Kemajemukan

Namun demikian, sering kita mendapati bahkan mengalami dalam berinteraksi dan bergaul dengan sesama ada permasalahan-permasalahan, sehingga mengakibatkan kurang harmonisnya hubungan antarsesama. Akibatnya, hubungan menjadi retak, baik antarindividu, antarkelompok, dan komunitas masyarakat, dan lain-lain.

Ketika hubungan antarsesama retak, wajiblah bagi kita untuk memperbaikinya. Bukan malah sebaliknya; tambah memanas-manasi dan mengipas-ngipasi yang akan semakin menambah keretakan antar masyarakat. Perbuatan seperti ini adalah perbuatan yang sangat dicela oleh agama.

Melakukan perbaikan (ishlah) adalah perbuatan mulia dan diperintahkan oleh Allah swt. Sebagaimana dalam Q.S. al-Anfal: 1,

فَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَأَصْلِحُوا۟ ذَاتَ بَيْنِكُمْ ۖ وَأَطِيعُوا۟ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥٓ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ

Artinya, Maka bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah perhubungan di antara sesamamu, dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu adalah orang-orang yang beriman”.

Juga dalam Q.S. al-A’raf: 142 dan 170. Allah swt. berfirman,

وَأَصْلِحْ وَلَا تَتَّبِعْ سَبِيلَ ٱلْمُفْسِدِينَ

Artinya, “dan perbaikilah, dan janganlah kamu mengikuti jalan orang-orang yang membuat kerusakan”.

ٱلَّذِينَ يُمَسِّكُونَ بِٱلْكِتَٰبِ وَأَقَامُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ إِنَّا لَا نُضِيعُ أَجْرَ ٱلْمُصْلِحِينَ

Artinya, “dan orang-orang yang berpegang teguh dengan Al Kitab (Taurat) serta mendirikan salat, (akan diberi pahala) karena sesungguhnya Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengadakan perbaikan”.

Juga dalam Q.S. al-Hujurat: 10,

إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا۟ بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Artinya, “orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.

Selain dari al-Quran, Rasulullah saw. juga menyampaikan bahwa orang yang berbuat baik mempunyai banyak keutamaan. Di antaranya adalah hadist yang diriwayatkan oleh Imam Abu Daud:

أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِأَفْضَلَ مِنْ دَرَجَةِ الصِّيَامِ وَالصَّلَاةِ وَالصَّدَقَةِ قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ إِصْلَاحُ ذَاتِ الْبَيْنِ وَفَسَادُ ذَاتِ الْبَيْنِ الْحَالِقَةُ

Artinya, “Maukah aku kabarkan kepada kalian yang lebih utama daripada derajat puasa, salat, dan sedekah?” Mereka berkata, “tentu, Yaa Rasulullah”. Kemudian beliau bersabda: mendamaikan perselisihan hubungan di antara sesama, karena rusaknya hubungan di antara sesama mengikis habis (agama).”

Demikian begitu pentingnya hubungan baik antarsesama ini, sehingga melanggengkan hubungan baik punya keutamaan yang besar. Ketika ada percikan-percikan yang mengakibatkan kurang baiknya hubungan antarsesama, maka sebaiknya segera diusahakan untuk diperbaiki, bukan dibiarkan retak berlama-lama. Kesadaran kolektif untuk bersemangat dalam melakukan perbaikan antar sesama sangat diperlukan.

Demikian, tulisan singkat berkaitan dengan memperbaiki hubungan antarsesama. Semoga kita menjadi bagian yang turut memperbaiki hubungan antarsesama ketika ada keretakan masyarakat.

*Dosen Jurusan Teknik Elektro-Universitas Islam Indonesia Yogyakarta, Sekretaris Majelis Dikdasmen PCM Ngaglik Sleman, Ketua Joglo DakwahMu Almasykuri Yogyakarta

Related posts
Politik dan Hukum

Momen Idulfitri: Merajut Kembali Ukhuwah Pasca Pemilu

Oleh: Andre Rosadi* Proses pencoblosan suara dalam pemilihan presiden (Pilpres) dan pemilihan anggota legislatif (Pileg) sudah usai pada 14 Februari lalu. Sebagai…
Kalam

Gotong-Royong sebagai Perekat Solidaritas Kebangsaan Indonesia

Oleh: Muhammad Chirzin Bangsa Indonesia secara jenial telah membentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasar Pancasila dengan pilar Undang-Undang Dasar 1945 dan semboyan…

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *