Keutamaan Salat di Masjid Nabawi

Hikmah 22 Mar 2021 0 89x
Masjid Nabawi

Masjid Nabawi

Oleh: Anang Rizka Masyhadi

Di antara keutamaan Masjid Nabawi adalah pahala salat di dalamnya dilipatgandakan hingga 1000 kali salat di masjid lain di muka bumi ini, kecuali Masjidil Haram. Hal ini karena Masjidil Haram oleh Nabi dinyatakan lebih utama daripada 100.000 kali salat di masjid lain.

Rasulullah saw. bersabda,

صلاة فى مسجدي هذا، أفضل من ألف صلاة فيما سواه إلا المسجد الحرام

Artinya, “salat di masjidku ini lebih utama daripada seribu kali salat di masjid lain, kecuali masjidil haram” (HR. Muttafaq Alaih).

Mengingat keutamaan tersebut, sebagian kaum Muslim berkeyakinan untuk melaksanakan ibadah salat arbain (40 waktu) selama di Madinah. Namun perlu diingat bahwa salat arbain tidak termasuk rukun haji atau rukun ziarah ke Masjid Nabi.

Sebenarnya, ziarah ke Masjid Nabi telah dikatakan sempurna apabila seseorang telah melakukan salat dua rakaat tahiyatul masjid, membaca salawat kepada Rasulullah saw., Abu Bakar, dan Umar bin Khattab, kemudian berdoa bagi dirinya dan kaum Muslimin. Setelah itu ia boleh langsung pergi atau duduk sebentar dan melakukan salat.

Imam Ahmad pernah meriwayatkan dari Anas bin Malik ra. bahwasanya Nabi saw. bersabda yang artinya, “barangsiapa salat di masjidku sebanyak 40 salat, tidak terlewatkan satu salat pun, niscaya dia akan terbebas dari api neraka, selamat dari siksa dan bersih dari kemunafikan” (HR. Ahmad).

Meskipun terjadi beda pendapat di kalangan ulama hingga saat ini mengenai salat arbain tersebut, kita ambil hikmahnya saja. Syaikh Muhammad Athiyyah Salim menjelaskan bahwa anjuran salat arbain di Masjid Nabawi bisa jadi dimaksudkan untuk membiasakan orang, juga untuk membuat orang memperhatikan salat lima waktu dan menunaikannya dengan penuh antusiasme, hingga ia akan terbiasa dengannya dan tidak akan meninggalkan jamaah kecuali disebabkan oleh sebuah halangan.

Dalam hal adab masuk masjid, Rasulullah saw. memberikan tuntunannya, yaitu disunnahkan mendahulukan kaki kanan dan ketika keluar mendahulukan kaki kiri. Memasuki Masjid Nabawi, Nabi saw. memberi pelajaran kepada kita untuk mengucapkan doa:

بسم الله الرحمن الرحيم والصلاة والسلام على رسول الله اللهم افتح لي أبواب رحمتك

Artinya, “Dengan nama Allah, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Shalawat dan salam semoga tercurah untuk Rasulullah saw. Ya Allah, bukakanlah untukku pintu-pintu rahmat-Mu”.

Dianjurkan pula untuk berhias (secukupnya) tiap akan pergi ke masjid. “Hai anak-anak Adam, pakailah perhiasan kalian pada tiap-tiap pergi ke masjid, makanlah dan minumlah, tetapi janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang yang melampaui batas” (QS. al-A’raf [7]: 31). Artinya, pakailah pakaian yang pantas atau yang terbaik yang kita miliki, termasuk memakai wewangian dan membersihakan mulut dari bau tidak sedap setiap akan pergi ke masjid. Janganlah pakaian untuk ke tempat-tempat hiburan lebih baik daripada pakaian ke masjid.

Tergesa-tesa dan berlarian menuju masjid juga termasuk perbuatan yang kurang disukai oleh Nabi saw. Beliau pernah bersabda yang artinya, “jika kalian mendengarkan iqamah, maka segeralah salat (menuju masjid), namun berjalanlah dengan tenang dan sungguh-sungguh. Salatlah dengan rakaat yang kalian dapatkan, dan apabila kurang maka sempurnakanlah” (HR. Muttafaq Alaih).

Kaum Muslimin dilarang bersuara keras selama berada dalam Masjid Nabawi, meskipun suara keras itu berupa salam, salawat, tilawatil quran, atau dzikir. Larangan bersuara keras di hadapan Rasul ini adalah bentuk penghormatan dan pengagungan terhadap kedudukan beliau, sebab mengangkat suara di hadapannya berarti tidak menjaga rasa malu dan rasa hormat kepada Nabi saw, sebagaimana dijelaskan dalam QS. al-Hujurat [49]: 2-3.

Di dalam masjid Nabawi terdapat pula Raudhah, yaitu tempat yang letaknya antara mimbar dan rumah Nabi (sekarang makam). Keutamaan Raudhah disebutkan sendiri oleh Nabi, “di antara rumah dan mimbarku adalah taman dari taman-taman surga, dan mimbarku berada di atas telaganya” (HR. Bukhari). Karena itu, hendaknya kita menggapai Raudhah tersebut, dan jika memungkinkan salat dan berdoa di dalamnya karena Raudhah termasuk tempat mustajab untuk berdoa.

Demikianlah sekilas tentang Masjid Nabawi. Kepada para peziarah diwajibkan untuk membersihkan diri dan hatinya dari kotoran-kotoran syahwat duniawiyah. Hendaknya setiap orang benar-benar mengkhususkan dirinya untuk ibadah lillah, ikhlas, dan jauh dari riya’. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata, aku mendengar Rasululllah saw. bersabda, “barangsiapa mendatangi masjidku untuk suatu kebaikan, mempelajarinya dan menularkannya, maka dia seperti seorang yang berjihad di jalan Allah, sedangkan orang yang mendatanginya dengan niat lain, maka ia itu seperti orang yang tertegun pada kekayaan orang lain” (HR. ibn Majah).

Tinggalkan Balasan