Kiai Ahmad Dahlan Memakai Gamis

Sejarah Wawasan 23 Jun 2021 2 252x
Kiai Ahmad Dahlan

Kiai Ahmad Dahlan

Ahmad Dahlan lahir dan besar di Kauman. Suatu kampung yang berada dalam wilayah Keraton Yogyakarta. Ayahnya merupakan abdi dalem keraton, sedangkan ibunya adalah anak dari seorang kepala abdi dalem pamethakan. Ahmad Dahlan merupakan keturunan kiai-priyai.

Pada tahun 1890, Ahmad Dahlan berangkat menunaikan haji untuk kali pertama. Sebagaimana umumnya orang yang pulang dari haji pada waktu itu, Ahmad Dahlan “diperkenankan” memakai pakaian gamis.

Dalam Historiografi Haji Indonesia (2007), M. Shaleh Putuhena menjelaskan bahwa gamis merupakan identitas busana yang melekat pada diri orang yang telah menunaikan haji. Di era kolonial, gamis juga menjadi simbol perlawanan umat Islam kepada para penjajah.

Baca Juga: Cita-Cita Muhammadiyah Membangun Peradaban Utama

Kesimpulan senada disampaikan Ahmad Najib Burhani dalam buku Muhammadiyah Jawa. Mengutip penelitian Kees van Dijk berjudul “Sarongs, Jubbahs, and Trousers: Appearance as a Means of Distinction and Discrimination”, Najib mengungkap bahwa ada perbedaan gaya berpakaian antara orang Barat, umat Islam yang sudah berhaji, dan masyarakat biasa di kawasan Hindia Belanda.

“Orang-orang Barat dan mitra mereka mengenakan pakaian Barat yang dilambangkan dengan celana dan dasi. Sebagian penghulu dan haji menggunakan pakaian Arab (jubah) dan serban. Sementara sebagian orang-biasa mengenakan pakaian Jawa dan sarung” (hlm. 95).

Islam, Jawa, dan Barat

Selepas ayahnya wafat (1896), Kiai Ahmad Dahlan diamanahi menjadi seorang ketib. Sebagai ketib amin, Kiai Dahlan bertugas memimpin serangkaian upacara yang berhubungan dengan perayaan Islam, seperti Gerebek Mulud. Amanah tersebut mengantarkan Kiai Dahlan lebih dekat dengan para ulama keraton dan Sultan Yogyakarta.

Hubungan Kiai Dahlan dengan para ulama keraton sempat panas. Sebabnya adalah gagasan reformis Kiai Dahlan yang hendak menggeser arah kiblat Masjid Gedhe Kauman. Gagasan tersebut ditentang keras oleh para ulama keraton. Hubungan keduanya kian memanas setelah musala Kiai Dahlan dirobohkan.

Pada 1903, Kiai Ahmad Dahlan diutus Sultan Yogyakarta berangkat haji untuk kali kedua, sekaligus untuk memperdalam ilmu agama Islam kepada para ulama di Timur Tengah. Dalam perjalanannya kali ini, Kiai Dahlan menghabiskan waktu dua tahun.

Sepulang dari Makkah, tepatnya pada tahun 1909, Kiai Dahlan bergabung ke dalam sebuah gerakan budaya-Jawa, yakni Boedi Oetomo. Ada beragam analisis yang menjelaskan alasan Kiai Dahlan bergabung Budi Utomo, dua di antaranya adalah misi dakwah Islam dan kecocokan visi gerakan.

Baca Juga: Profil Kiai Ahmad Dahlan: Pikiran dan Gerakan yang Melampaui Zaman

Budi Utomo menjadi perantara Kiai Dahlan bisa mengajar di sekolah pemerintah, sekaligus tempat Kiai Dahlan ‘belajar’ berbusana ala Barat, mendirikan sebuah lembaga pendidikan dan organisasi. Selain Budi Utomo, Kiai Dahlan juga dekat dengan Sarikat Islam. Secara personal, Kiai Dahlan dikenal dekat dengan Romo van Lith dari Magelang.

Dari pergaulannya dengan berbagai pihak, tidak nanggung-nanggung, Kiai Dahlan berhasil memadukan antara paradigma Islam yang berkemajuan, budaya Jawa yang luhur, serta produk pemikiran dan budaya Barat.

Perihal busana, Kiai Dahlan –yang selanjutnya ‘ditiru’ oleh para murid dan anggota Muhammadiyah—memadukan antara model Jawa dan Barat. Bagaimana dengan gamis? Beberapa kalangan memang tetap menjadikan gamis sebagai simbol perlawanan kepada para penjajah, tetapi tidak dengan anggota Muhammadiyah.

Kiai Dahlan jelas menolak dan menentang kolonialisme, tetapi dengan cara lain yang elegan, meskipun kontroversial. Penggunaan simbol-simbol Barat oleh Kiai Dahlan membuatnya kembali dihadapkan pada tuduhan “kiai kafir”. Akan tetapi, sikapnya tidak goyah.

Menurut Najib Burhani, “untuk menemukan anggota Muhammadiyah yang meniru persis gaya berbusana Arab dalam keseharian mereka ibarat mencari jarum di tumpukan jerami” (hlm. 95). Perpaduan antara model busana Jawa dan Barat misalnya termanifestasikan dalam penggunaan beskap, blangkon, dan jas.

Baca Juga: Nyai Ahmad Dahlan Tak Pernah Menegosiasikan Ibadah

R. Kern pernah menggambarkan gaya berpakaian Haji Fahroedin dalam Rapat Tahunan Muhammadiyah (1925) dengan “memakai pakaian jalanan gaya Barat” dipadukan dengan “penutup kepala Jawa” (hlm. 96). Dalam Kongres Muhammadiyah ke-18 di Solo (1929), terdapat sebuah instruksi bagi peserta kongres untuk menggunakan “pakaian kebesaran tjara negerinja masing-masing, jang tidak melanggar sjara’”.

Ujung kalimat yang berbunyi “jang tidak melanggar sjara’” tersebut menunjukkan sikap keagamaan dan kebudayaan Muhammadiyah. Alih-alih membatasi atau mengekang, Muhammadiyah melonggarkan model berbusana selama tidak berlawanan dengan syariat.

Hal serupa dapat diamati dari model berbusana anggota ‘Aisyiyah. Berbagai literatur sejarah mengungkapkan bahwa Kiai Dahlan terus menyerukan kepada para perempuan untuk memakai kerudung (menutup aurat). Tujuannya adalah untuk menjaga dan menghindarkan hal-hal kurang baik terjadi pada mereka.

Baca Juga: Suara Aisyiyah Tahun 1927: Perjuangan Mengangkat Derajat Perempuan

Akan tetapi, yang patut menjadi catatan adalah Kiai Dahlan tidak menetapkan dan/atau membatasi perempuan menggunakan model busana tertentu. Hal ini dibuktikan dengan beragam model pakaian dan kerudung yang digunakan para pimpinan ‘Aisyiyah periode awal. (brq)

2 thoughts on “Kiai Ahmad Dahlan Memakai Gamis”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *