Sejarah

Kiai Ahmad Dahlan Menolak Menjual Muhammadiyah

Kiai Ahmad Dahlan

Menuai kontroversi pada masa awal pendirian, lambat laut Muhammadiyah menjadi organisasi besar dan berpengaruh. Kiprah gemilang organisasi sosial-keagamaan yang didirikan Kiai Ahmad Dahlan itu kemudian menarik minat Politieke Economische Bond (PEB) untuk turut mengambil peran. Tak tanggung-tanggung, perhimpunan yang didirikan orang-orang Belanda itu hendak “membeli” Muhammadiyah.

***

Muhammadiyah berdiri untuk membantu hajat hidup orang banyak, mulai urusan pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan urusan sosial-kemanusiaan lainnya. Semua itu dilakukan karena didorong rasa tanggung jawab kepada Allah swt. dan dalam rangka mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.

Upaya Muhammadiyah untuk memajukan dan mencerdaskan kehidupan anak bangsa tentu membutuhkan ongkos yang tidak sedikit. Dalam hal ini, pimpinan, warga, dan simpatisan Muhammadiyah dengan ikhlas membantu agar Muhammadiyah makin maju dan berkembang. Akan tetapi, beberapa pihak berkeinginan membantu dengan syarat-syarat tertentu.

Tahun 1919, di Indonesia berdiri Politieke Economische Bond (Perhimpunan Ekonomi Politik). Mengutip penjelasan Pringgodigdo (1964), Yudi Latif dalam Intelegensia Muslim dan Kuasa (2005) menjelaskan bahwa kehadiran PEB adalah dalam rangka mengkritik “apa yang mereka anggap sebagai kecenderungan yang terlalu progresif dari politik etis” (hlm. 199).

Beberapa sumber lain menjelaskan bahwa PEB adalah perhimpunan yang dikelola oleh penguasa pabrik gula milik Belanda. Dalam Majalah Suara ‘Aisyiyah No. 2 Tahun 1965 dijelaskan bahwa PEB banyak memberi sokongan dana kepada para kiai. “Kumpulan tersebut diserahkan kepada beberapa kjai jang berpengaruh kepada rakjat desa2, dan diberi sokongan uang jang tidak sedikit. Kapitalist2 itu mengetahui akan pengaruh mereka kepada para rakjat umumnja” (hlm. 4-5).

Baca Juga: Profil Kiai Ahmad Dahlan: Pikiran dan Gerakan yang Melampaui Zaman

Salah satu kiai yang pernah diiming-imingi sokongan dana oleh PEB adalah Kiai Ahmad Dahlan. Suatu ketika, di tengah kesibukannya di kantor Muhammadiyah Kauman, datang perwakilan dari PEB. Disebutkan bahwa nama perwakilan itu adalah Charles van der Plas. Setelah berbicara panjang lebar, ia lalu mengutarakan niat utamanya.

“Kjai, saja melihat perkumpulan Muhammadijah itu senang sekali hati saja, saja ingin sekali suburnja; maka dari itu, saja sanggup menjokong berupa uang untuk beaja/ongkos djalannja itu,” kata dia. Menyikapi niat ‘mulia’ tersebut, Kiai Dahlan menjawab bahwa Muhammadiyah dengan gembira dan siap menerima bantuan yang akan diberikan PEB. Dengan catatan, “asal djangan mengikat akan tudjuan dan tidak turut tjampur urusan djalan dan geraknja Muhammadijah” (hlm. 5).

Singkat, padat, tegas. Jawaban Kiai Dahlan menunjukkan bahwa beliau sama sekali tidak berniat menjual Muhammadiyah kepada siapapun dengan harga berapapun. Mendengar jawaban itu, van der Plas lantas menyunggingkan senyum kecewa. Dan akhirnya, PEB membatalkan niat untuk memberikan sokongan dana kepada Muhammadiyah.

Beberapa waktu setelah kejadian tersebut, van der Plas berinisiatif mendirikan perkumpulan Islam yang dikelola oleh beberapa kiai dan tokoh Islam dengan sokongan dana dari PEB. Salah satu tujuannya adalah untuk membendung dan memusuhi Muhammadiyah. Pada waktu itu, aktivitas Muhammadiyah dianggap banyak merugikan kepentingan pemerintah Hindia Belanda. Sayangnya, tidak diketahui nama dan riwayat eksistensi perkumpulan ini.

Kegagalan PEB “membeli” Muhammadiyah menunjukkan bahwa organisasi Islam modernis ini tidak berdiri untuk melayani kepentingan pihak-pihak tertentu, tetapi untuk menunaikan ajaran agama sebagaimana termaktub dalam Q.S. Ali Imran: 104. Alih-alih surut, Muhammadiyah terus berkembang dan menancapkan pengaruhnya ke berbagai penjuru dunia. (siraj)

Related posts
Sosial Budaya

Peran Kebangsaan Muhammadiyah di Era Pra Kemerdekaan dan Era Digital

17 Agustus 2022 merupakan tahun ketiga Indonesia merayakan hari kemerdekaan di tengah pandemi Covid-19. Saat ini, Indonesia memasuki usia 77 tahun. Di…
Perempuan

Fatwa dan Perhatian Muhammadiyah tentang Perempuan

Oleh: Niki Alma Febriana Fauzi Fatwa adalah suatu penjelasan atau jawaban yang diberikan oleh mufti kepada mustafti (orang yang bertanya) tentang suatu…
Berita

Cerahkan Peradaban Bangsa, RSIJ Cempaka Putih dan Muhammadiyah-Aisyiyah Gelar Semiloknas

Jakarta, Suara ‘Aisyiyah – Muhammadiyah-‘Aisyiyah melalui Majelis Kesehatan PP ‘Aisyiyah, MPKU PP Muhammadiyah, dan RSIJ Cempaka Putih mengadakan kegiatan Seminar dan Lokakarya…

3 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.