Pengalaman spiritual yang luar biasa ini menjadi inti dari program perdana pesantren yang berlangsung pada Sabtu-Ahad (5-6/7/25) di Masjid At-Taqwa Ngaliyan, Wates, Semarang. Inisiatif ini berhasil menyatukan para senior dalam sebuah wadah penuh berkah, kehangatan, dan ilmu.
Program pesantren lansia ini disambut dengan antusiasme yang luar biasa. Awalnya, panitia dari Masjid At-Taqwa Ngaliyan, Wates, menargetkan hanya sekitar 20 santri.
Ketua Panitia Pesantren Lansia, Solikhul Hadi, menjelaskan bahwa program ini lebih dari sekadar rutinitas keagamaan. “Ini adalah sarana krusial bagi para lansia untuk berkumpul, belajar, dan menjadikan sisa usia mereka lebih berarti,” ujarnya.
Solikhul Hadi juga menekankan pentingnya dukungan sosial dan spiritual di usia senja agar para lansia tetap sehat, baik secara lahiriah maupun batiniah.
Testimoni positif datang dari salah seorang santri, Kurnianto (75 tahun), asal Perum Wahyu Asri, Ngaliyan. “Saya sangat terharu dan terkesan dengan acara ini. Ini mengingatkan saya bahwa saya belum begitu paham tentang ilmu agama, maka saya harus tetap belajar, meskipun dulu saya adalah kepala sekolah. Kalau ada kesempatan, saya ingin ikut lagi,” tutur Kurnianto.
Demi menjamin kenyamanan dan fokus para santri selama beribadah dan belajar, Masjid At-Taqwa Ngaliyan, Wates, menyediakan beragam fasilitas yang didesain khusus ramah lansia.
Selain itu, panitia juga menyediakan layanan antar jemput khusus. Layanan ini sangat penting mengingat mobilitas para santri lansia. Penjemputan dilakukan di beberapa titik strategis di Semarang, seperti Jl. Muradi, Jl. Wahyu Utomo, Kelurahan Wonosari, dan lokasi lainnya. Kendaraan yang digunakan pun didesain aman dan nyaman, memastikan perjalanan para santri lancar.
“Layanan ini menegaskan komitmen Masjid At-Taqwa Ngaliyan, Wates, dalam memberikan pengalaman belajar agama yang optimal dan holistik bagi para lansia,” pungkas Solikhul.
Salah satu hal yang membuat pesantren lansia di Masjid At-Taqwa Ngaliyan ini istimewa adalah fokusnya yang tidak hanya pada pembinaan spiritual, tetapi juga pada kesehatan fisik dan mental para peserta.
Tak hanya itu, para santri juga berkesempatan memperbaiki bacaan Al-Quran mereka melalui kegiatan tahsin bersama Ananto dengan metode Fashohatul Lisan bersanad.
Sesi interaktif seperti dinamika kelompok “Tepuk Lansia” yang diselingi pengetahuan menarik seputar lansia juga menciptakan suasana tidak kaku dan penuh tawa. Lantunan salawat Nuril Anwar dan pengajian Kitab Al-Hikam turut memeriahkan suasana, menjadikan setiap detik di Masjid At-Taqwa Ngaliyan ini terasa penuh berkah.
Di pagi harinya, wawasan keagamaan diperdalam melalui kajian Kitab Al-Adab Al-Mufrad oleh Yusuf Isnan, Dosen Bahasa Arab UIN Walisongo.
Aspek kesehatan juga menjadi prioritas. Ada kegiatan pemeriksaan kesehatan dan senam pagi bersama yang diikuti oleh lebih dari 130 partisipan, termasuk jamaah dan warga sekitar Masjid At-Taqwa Ngaliyan di daerah Wates. Acara kemudian ditutup dengan pengajian Ahad pagi oleh Nurbini, sarapan soto bersama, dan sesi foto kenangan sebelum para santri diantar kembali.
Ahwan Fanani, Ketua Takmir Masjid At-Taqwa Ngaliyan, Wates menyampaikan harapannya yang besar terhadap kelangsungan program ini.
Sebelum pondok khusus lansia itu terwujud, Solikhul menambahkan bahwa panitia berencana menyelenggarakan pesantren lansia secara rutin pada akhir pekan pertama setiap bulannya.

