Komitmen Keluarga Aktivis ‘Aisyiyah (1)

Keluarga Sakinah 13 Jun 2020 0 79x

Yaitu tatkala ia (Zakaria) berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut. Ia berkata “ Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, Ya Tuhanku. Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku sepeninggalku, sedang istriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putra, yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebahagian keluarga Ya’qub; dan jadikanlah ia Ya Tuhanku, seorang yang diridhai. (Q.S. Maryam (19): 3-6)

Keluarga merupakan institusi sosial terkecil yang memberikan landasan pembinaan kepribadian bagi anak-anak dan anggota keluarga lainnya. Dari keluargalah seseorang mendapatkan pendidikan pertama dan utama. Bayi mungil yang lahir dari rahim seorang ibu, disambut oleh ayahnya untuk dilantunkan kalimah thayyibah, dimohonkan perlindungan dari godaan setan, dan didoakan agar mendapatkan hidup barakah, hidup penuh keutamaan dan kebermaknaan.

Lantunan kalimah thayyibah memberikan stimulasi potensi tauhid yang telah ditanamkan Allah semenjak dalam rahim ibu sebagai pijakan awal pendidikan. Seiring dengan tumbuh kembang anak, orang tua memberikan pendidikan melalui stimulasi, keteladanan, pemberian pengetahuan, pengasahan kepekaan spiritual dan jiwani, pemberian pengalaman, serta pembiasaan sikap keberagamaan dalam kehidupan kesehariannya.

Dalam Islam, keluarga bukan saja memikirkan dan mendorong untuk terpenuhinya kebutuhan dan kepentingan anggota keluarga, tetapi juga memikirkan dan mengupayakan kepentingan dan kemajuan umat Islam, masyarakat, dan bangsa.

Ayat tersebut di atas mengabadikan rintihan munajat Nabi Zakaria as. yang menggambarkan kegalauan karena belum adanya kader penerus risalah kenabian meskipun beliau telah memasuki usia senja. Beliau pun berdoa mohon kepada Allah swt., agar dianugerahi putra yang akan mewarisi perjuangan dakwahnya. Pentingnya kader penerus perjuangan dan dakwah juga diisyaratkan dalam doa Nabi Musa as., ketika mohon kemudahan dalam berdakwah dan mohon kader pendamping dalam dakwah.

Berkata Musa: “ Ya Tuhanku, lapang-kanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku, dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku, (yaitu) harun saudaraku.(Q.S. Thaha (20): 25-30)

Nasihat Luqman kepada putranya juga mengisyaratkan pentingnya kader keluarga dalam menunaikan amar makruf nahi mungkar yang merupakan bagian dari dakwah. Dengan demikian, pendidikan kader dakwah merupakan bagian penting dalam pendidikan keluarga yang seiring dengan pendidikan tauhid, ibadah, mu’amalah, dan akhlak (Q.S. Luqman (31): 13-19).

Keluarga Aktivis Generasi Awal Muhammadiyah – ‘Aisyiyah

Dalam sejarah, tokoh-tokoh Muhammadiyah-‘Aisyiyah mencerminkan dinamika keluarga aktivis yang saling menguatkan dalam menunaikan tanggung jawab dakwah dan perjuangan melalui persyarikatan. Pendiri Muhammadiyah, Kyai Haji Ahmad Dahlan, mendorong istri dan keturunannya untuk aktif berdakwah dan berjuang memajukan organisasi Muhammadiyah -‘Aisyiyah.

Sebagai pendiri Muhammadiyah, Kiai Dahlan senantiasa bermusyawarah dan melibatkan istrinya dalam membesarkan Muhamamdiyah. Kepentingan maupun kebutuhan organisasi dan dakwah juga merupakan kepentingan serta kebutuhan keluarga. Keteladanan Kiai dalam memimpin Muhamamdiyah dengan mengerahkan seluruh potensi keluarga, baik istri, putra putri, keluarga besar maupun semua yang dimiliki menjadi buah bibir yang baik (lisāna ṣidqin fil ākhirīn) di kalangan warga Muhamamdiyah dan umat Islam dari generasi ke generasi

Kisah nyata di mana beliau menjual seluruh harta yang dimilikinya untuk membayar gaji guru Muhammadiyah merupakan nilai-nilai dasar keutamaan yang sampai abad kedua terus diwariskan. Istri beliau, Nyai Walidah, menjadi Ketua ‘Aisyiyah. Putri beliau, ‘Aisyah Hilal, juga turut meneruskan perjuangan ibundanya memimpin PP ‘Aisyiyah selama tujuh periode (1931, 1937, 1939, 1940, 1941, 1944, dan 1950). Selain itu, Siti Busyro, putri beliau, merupakan salah satu dari enam aktivis ‘Aisyiyah generasi awal yang dididik langsung oleh Kiai dan Nyai Dahlan.

Keteladanan keluarga Siti Bariyah (Ketua ‘Aisyiyah pertama) yang juga lahir dari keluarga aktivis patut menjadi inspirasi keluarga penggerak ‘Aisyiyah masa kini. Beliau merupa-kan sepuluh bersaudara, putra Kiai Haji Hasyim bin Isma’il, lurah Kraton Ngayogyakarta yang cukup disegani. Sebagian besar saudara Bariyah berhidmat sebagai aktivis Muhammadiyah-‘Aisyiyah generasi awal.

Di antara yang tampil sebagai tokoh sentral Muhammadiyah -‘Aisyiyah adalah Kiai Syuja’ yang mendapat amanah Kiai Dahlan merintis PKO Muhammadiyah. Kiai Fachrudin, murid Kiai Dahlan, menurut Adabi Darban (Sejarawam UGM), merupakan pengusul nama ‘Aisyiyah sebagai pengganti Sopo Tresno. Pada masa kepemimpinan K. H. Ibrahim, beliau menjabat sebagai Wakil Ketua PPM.

Ki Bagus Hadikusumo, tokoh dan wakil Muhammadiyah di BPUPKI dan PPKI bersama Prof. Kahar Muzakkir dan Mr. Kasman Singodimejo berpe-ran penting dalam proses perubahan Piagam Jakarta menjadi UUD 1945 sekaligus mengemban amanah seba-gai Ketua PP. Muhammadiyah tahun 1942-1953. Sementara itu, saudara perempuannya, Siti Munjiyah, adalah tokoh Kongres Perempuan yang mewakili ‘Aisyiyah bersama Hayinah.

Profil keluarga aktivis Muhammadiyah-‘Aisyiyah yang mencerminkan kesetaraan dalam keluarga dan berdakwah, diilustrasikan oleh ibu Badilah yang terpilih memimpin ‘Aisyiyah pada tahun 1938. Beliau merupakan salah seorang di antara 4 redaktur Suara ‘Aisyiyah pertama bersama Siti Juhainah/Pemred, Siti ‘Aisyah, dan Siti Jalalah).

Beliau menyampaikan bahwa “Seorang Bapak mengorbankan seluruh waktunya untuk Muhammadiyah dan si ibu berjuang memenuhi keperluan hidup rumah tangga. Sebaliknya bila ibu yang berdakwah untuk Muhammadiyah, maka si bapak yang mencukupi segala keperluan rumah tangga”. (Dikutip dari buku Srikandi-Srikandi ‘Aisyiyah).

Bersambung ke Komitmen Keluarga Aktivis ‘Aisyiyah (2)

Sumber Ilustrasi :
https://islami.co/doa-dianugrahi-keluarga-yang-bahagia/

Leave a Reply