Komitmen Keluarga Aktivis ‘Aisyiyah (2)

Keluarga Sakinah 13 Jun 2020 0 105x

Konsep Keluarga Sakinah yang diusung ‘Aisyiyah dan telah menjadi Keputusan Tarjih, mencerminkan keluarga aktivis yang gigih terhadap dakwah, perjuangan, dan pemberdayaan masyarakat. Hal ini dapat dilihat paling tidak dari tiga sisi, yaitu dari sisi fungsi, tujuan, dan pembinaan Keluarga Sakinah.

Pertama, dari sisi fungsi, keluarga bukan saja sebagai media pengantar kesuksesan anak-anak dan anggota keluarga, tetapi juga memiliki fungsi kemasyarakatan serta kaderisasi dan dakwah. Dalam fungsi kemasyarakatan, keluarga aktivis ’Aisyiyah berkomitmen menempatkan keluarga sebagai wahana pengembang nilai-nilai kemasyarakatan dan mengantarkan anggota keluarga agar dapat hidup harmonis dan aktif dalam kehidupan sosial kemasyarakatan yang lebih luas.

Keluarga-keluarga perlu memiliki kepedulian sosial dan membangun hubungan sosial yang ihsan, ishlah, dan ma’ruf dengan tetangga-tetangga sekitar maupun dalam kehidupan sosial yang lebih luas di masyarakat, sehingga tercipta qaryah thayyibah dalam masyarakat setempat. Melalui fungsi kaderisasi, keluarga aktivis ’Aisyiyah berkomitmen untuk menyiapkan anak-anak dan anggota keluarga lainnya agar tumbuh menjadi generasi muslim yang dapat menjadi pelopor, pelangsung, dan penyempurna gerakan dakwah.

Dalam hal ini, perlu dikembangkan kembali perkaderan keluarga melalui dzawil qurba, yaitu perkaderan bagi putra-putri keluarga Muhammadiyah -’Aisyiyah. Dzawil qurba dilakukan dengan melibatkan anggota keluarga secara informal dalam kegiatan ’Aisyiyah, atau secara formal diikutkan dalam pelatihan khusus bagi kader keluarga. Perkaderan nonformal dengan melibatkan secara aktif sesuai dengan peran dan fungsinya dalam kegiatan-kegiatan ’Aisyiyah dan Ortom putri.

Kedua, dari sisi tujuan pembentukan Keluarga Sakinah. Pada prinsipnya, terdapat dua orientasi terkait dengan eksistensi kemanusiaan dan kemasyarakatan. Kedua tujuan tersebut merupakan sarana terealisasinya misi utama kehadiran manusia di dunia yaitu misi ubûdiyyah dan kekhalifahan. Kedua tujuan utama itu adalah mewujudkan insan bertakwa dan masyarakat berkemajuan. Orientasi kemasyarakatan dalam tujuan keluarga sakinah, merupakan isyarat bahwa keluarga ideal adalah keluarga aktivis yang peduli terhadap kepentingan masyarakat luas.

Keluarga merupakan unit terkecil dari masyarakat, sejatinya mencerminkan masyarakat yang ideal yaitu masyarakat yang berkemajuan, berdaya, dan bahagia lahir-batin. Dengan demikian, dari keluarga-keluarga sakinah ini akan terwujud masyarakat yang berkemajuan, berdaya, dan bahagia lahir-batin. Sejalan dengan ungkapan dalam Q.S. Saba (34): 15 yaitu ”baldatun thayyibatun wa Rabbun ghafûr” yang secara harfiah berarti suatu negeri yang baik dan adalah Tuhan Maha Pengampun (atas mereka).

Keluarga aktivis ’Aisyiyah berkomitmen untuk mewujudkan masyarakat berkemajuan, berdaya, dan bahagia lahir-batin, sebagai perwujudan dari masyarakat Islam yang sebenar-benarnya yang dicita-citakan oleh persyarikatan Muhammadiyah, termasuk di dalamnya, ’Aisyiyah. Dalam pesan al-Quran surat Ali Imran (3): 110 dan al-Baqarah (2): 143, masyarakat Islam yang diidealkan merupakan perwujudan khaira ummah (ummat terbaik) yang memiliki posisi dan peran ummatan wasathan (ummat tengahan) dan syuhada ‘ala al-nâs (pelaku sejarah) dalam kehidupan manusia

Masyarakat Islam adalah suatu masyarakat yang di dalamnya ajaran Islam berlaku dan menjiwai seluruh bidang kehidupan yang dicirikan dengan bertuhan dan beragama, bersaudara, berakhlak dan beradab, berhukum syar’i, berkesejahteraan, bermusya-warah, berihsan, berkemajuan, ber-kepemim-pinan, dan berketertiban. Keluarga aktivis senantiasa berusaha untuk meningkatkan kebahagiaan dan kesejahteraan serta memajukan masyarakat. Tanpa adanya upaya melakukan layanan untuk mengentaskan kemiskinan, kebodohan, memberdayakan, dan memajukan masyarakat, maka salat yang merupakan perbuatan terpuji dapat berubah menjadi perbuatan mendustakan seperti difirmankan Allah dalam surah al-Mâ’ûn (107): 1 – 7.

Ketiga, dari sisi pembinaan Keluarga Sakinah, aspek sosial, hukum, dan politik merupakan salah satu aspek dari lima pilar pembinaan Keluarga Sakinah bersama aspek spiritual (agama), pendidikan, kesehatan, dan lingkungan hidup, serta ekonomi. Kelima aspek dimaksud sejatinya merupakan kebutuhan dasar manusia. Dalam hal ini, kebutuhan dasar manusia belum terpenuhi dengan sempurna bila aspek sosial, hukum, dan politik yang merupakan kebutuhan bersama masyarakat luas dan bangsa belum terpenuhi. Pemenuhan kebutuhan sosial ini merupakan fitrah kemanusiaan bahwa dirinya sebagai makhluk sosial tidak dapat dilepaskan dari manusia lain dan kehidupan masyarakat.

Untuk mewujudkan situasi kehidupan bermasyarakat atau pergaulan antarmanusia yang harmonis, Islam menuntunkan prinsip dasar pergaulan antarmanusia dan bagaimana perilaku hidup bertetangga, bertamu serta hidup bermasyarakat dan berbangsa. Terkait dengan prinsip dasar pergaulan antar manusia, terdapat sembilan prinsip yang perlu dibina dalam kehidupan bermasyarakat yaitu toleransi, kedamaian, memenuhi janji, menghargai kehormatan manusia, kesatuan, persamaan dan persaudaraan umat manusia, memegang teguh nilai keutamaan, kasih sayang dan menghindari kerusakan, menegakkan nilai keadilan serta mempertahankan kebebasan

Keluarga aktivis, dalam pergaulan dan kehidupan bersama, berkomitmen untuk melaksanakan hal-hal sebagai berikut: Pertama. Ikut memikirkan dan memperhatikan baik dan buruknya masyarakat. Kedua. Rela serta ikhlas menyumbangkan tenaga, pikiran, dan harta bendanya dalam batas-batas yang digariskan syariat untuk mewujudkan cita-cita bersama.

Ketiga. Berusaha memakmurkan dan meramaikan masjid, mushalla, pesantren, dan tempat-tempat pengajian lainnya. Keempat. Mengikuti peraturan yang berlaku karena peraturan dan undang-undang pada hakikatnya adalah alat untuk mengatur kehidupan suatu masyarakat.

Kelima. Terlibat dalam aktivitas organisasi kemasyarakatan, khususnya Muhammadiyah-’Aisyiyah dan ortom persyarikatan sebagai alat dakwah untuk mewujudkan visi ideal tegaknya ajaran Islam dan terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya

Dalam kehidupan masyarakat, keluarga aktivis perlu melandasi diri dengan semangat persaudaraan dan semangat kekeluargaan sesuai dengan
sabda Rasulullah saw. yang menyata-kan bahwa setiap muslim antara yang satu dengan yang lainnya adalah bersaudara. Pernyataan ini diperkuat firman Allah di dalam al-Quran surat al-Ma’idah (5): 2. “Bertolong-tolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa dan jangan sekali-kali bertolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. (Siti ‘Aisyah)

Baca selengkapnya di Majalah Suara ‘Aisyiyah, Rubrik Keluarga Sakinah Edisi 2 Februari 2020

Sumber ilustrasi : https://pondokislami.com/ketika-sang-buah-hati-terluka-pentingnya-memahami-parenting-islami.html/23tak-cukup-hanya-menjadi-orangtua-baik

Leave a Reply