Kongres Sejarawan Muhammadiyah Pertama Mengarusutamakan Isu Gender

Berita 13 Jul 2021 0 204x
Siti Syamsiyatun Kongres Sejarawan Muhammadiyah

Siti Syamsiyatun Kongres Sejarawan Muhammadiyah

Yogyakarta, Suara ‘Aisyiyah – Karya-karya dalam perspektif feminisme, “sedikit juga karya yang membicarakan sejarah Islam … sejarah seolah diposisikan selalu membicarakan aktor laki-laki,” tukas Siti Syamsiyatun.

Di antaranya ialah pemaparan Clifford Geertz tentang tradisi slametan di The Religion of Java. Geertz menulis seakan-akan slematen adalah kegiatan laki-laki, sedangkan perempuan diceritakan sibuk di dapur dan hanya mengintip dari balik dinding.

Padahal, slametan tidak akan berjalan tanpa ada dukungan perempuan yang menyiapkan seluruh makanan. Inilah kerja yang dilakukan sejarawan berperspektif gender, yakni menonjolkan empirisisme peran perempuan.

Isu gender barulah satu dari sejumlah diskursus yang diusung dalam Kongres Sejarawan Muhammadiyah 2021. Kongres yang rencananya akan diselenggarakan pada November 2021 mendatang sudah memulai rangkaian acaranya sejak Juli ini.

Rangkaian acara menuju Kongres berbentuk pembedahan karya-karya sejarah Muhammadiyah. Kemarin malam (12/07) adalah bedah karya kedua yang diwakili oleh hasil penelitian disertasi Siti Syamsiyatun di Monash University, “Serving Young Islamic Indonesian Women: the Development of Gender Discourse in Nasyiatul Aisyiyah 1965-2005”.

Disertasi ini kemudian dialih bahasa dan diterbitkan Penerbit Suara Muhammadiyah dengan judul Pergolakan Putri Islam: Perkembangan Wacana Gender Nasyiatul Aisyiyah 1965-2005 (2016).

Baca Juga: Sejarah ‘Aisyiyah: Kelahiran Perempuan Muslim Berkemajuan

Ada tiga alasan mengenai pentingnya menulis sejarah dengan perspektif feminisme dari Syamsiyatun. Pertama adalah untuk menegaskan empirisisme peran perempuan, seperti dijelaskan di atas. Peran perempuan selama ini dianggap “kecil” karena terbentuk dari sudut pandang laki-laki. Kedua, sumber ilmu pengetahuan bukan saja berasal dari laki-laki yang diagungkan sebagai objektivisme pengetahuan, tetapi juga fakta subjektif di sekitar kita. Sebab, ilmu itu situated atau lebih luas. Ketiga, sesungguhnya feminisme dalam sebuah tulisan bisa sekaligus memberi edukasi dan mengadvokasi pandangan tentang pengarusutamaan gender.

Sebagai “anak asuh” langsung Susan Blackburn, penulis Women and The State in Modern Indonesia, tulisan Syamsiyatun mengenai pergerakan aktivisme perempuan pada masa Orde Baru ini memiliki kerangka berpikir yang tegas.

Tulisan Syamsiyatun tidak turut bercampur aduk dengan dominasi pandangan “ibuisme negara” rezim Soeharto maupun pandangan feminism Barat yang mulai masuk pada 1980-an. Beliau secara tegas menempatkan aktivisme Nasyiatul Aisyiyah (NA) sebagai corak pergerakan perempuan Muslim yang memiliki nafasnya sendiri. Namun, tidak juga lepas juga dijelaskan interaksi aktivis-aktivis NA dengan kelompok-kelompok pergerakan perempuan berideologi lain, seperti komunisme.

Akhir kata, bedah Karya Sejarah Muhammadiyah kali ini menampilkan produk yang bukan saja mewakili penulisan sejarah berperspektif gender, tetapi juga isu politik Islam di Indonesia. Di samping itu, karya ini juga bergerak melepaskan Jawasentrisme dalam penulisan sejarah. Sebab, Syamsiyatun turut mengamati aktivisme NA di Lampung, Sumatra Barat, dan Sulawesi Selatan.

Setelah bedah karya kedua ini, masih ada karya-karya sejarah Muhammadiyah lain yang akan dibedah setiap senin malam, baik ditulis langsung oleh aktor di dalam organ maupun peneliti luar. Pembaca sekalian bisa berpartisipasi dalam Kongres Sejarawan Muhammadiyah dengan menghubungi Majelis Pustaka dan Informasi PP Muhammadiyah. (ykk)

Tinggalkan Balasan