Kosmopolitanisme Muhammadiyah

Aksara 18 Agu 2021 0 303x
Muhammadiyah Berkemajuan

Muhammadiyah Berkemajuan

Judul                              : Muhammadiyah Berkemajuan

Penulis                          : Ahmad Najib Burhani

Penerbit                        : Mizan

Tahun                            : Oktober 2016

Halaman                       : 216

ISBN                              : 978-979-433-997-8

Muhammadiyah tidak lahir di tengah ruang hampa. Ia lahir melalui pergumulan antara ruang dan waktu, antara teks dan konteks, antara sejarah dan masa depan. Melalui pergumulan itulah Muhammadiyah menegaskan identitasnya sebagai gerakan Islam Berkemajuan, atau dalam bahasa lain adalah Islam Kosmopolitan.

Di Muhammadiyah, gagasan berkemajuan seringkali dirujuk ke spirit dan terutama ungkapan Kiai Ahmad Dahlan, “dadijo kjai sing kemadjoean, odjo kesel anggonmu njamboet gawe kanggo Muhammadijah”. Ungkapan ini ditafsirkan oleh Ahmad Najib Burhani dengan “selalu berpikir ke depan, visioner, selalu one step ahead dari kondisi sekarang” (hlm. 39).

Sementara itu, istilah kosmopolitan (cosmopolitan) menurut Oxford English Dictionary berarti “having or showing a wide experience of people and things from many different countries” (mempunyai atau menunjukkan pengalaman luas mengenai masyarakat dan berbagai hal dari berbagai negara).

Dari ungkapan dan definisi di atas, nampak ada pertautan dan/atau kesinambungan antara konsep berkemajuan dan kosmopolitan. Jika merujuk pada literatur sejarah, sejak awal kelahirannya Muhammadiyah memang telah menjalin hubungan dengan orang dari agama, ideologi, suku, dan daerah yang berbeda.

Baca Juga: Muhammadiyah Menyemai Damai

Seiring berjalannya waktu, Muhammadiyah menyadari bahwa jangkauan hubungan itu perlu diperluas. Dalam rapat tahunan (Jaarvergadering) Muhammadiyah pada 1923, seorang utusan dari Muhammadiyah Bajarnegara dan Betawi mengajukan usulan menarik terkait perluasan jangkauan hubungan itu.

Sebagaimana dicatat Sekretaris HB Muhammadiyah, R. Ng. Djojoseoegito, utusan dari Banjarnegara mengusulkan “soepaja Moehammadijah berhoeboengan dengan perserikatan Islam di mana-mana”. Tak cukup dengan itu, utusan dari Betawi mengusulkan “soepaja Moehammadijah meloeaskan toedjoeannja terhadap kepada doenia Islam segenapnja, jalah menghoeboengkan toedjoean dengan pergerakan Islam di benoea Europa, Britisch, India, Mesir, dan lain-lainnja”.

Dua usulan itu menunjukkan bahwa sejak dulu warga Muhammadiyah telah mempunyai kesadaran kosmopolitan. Alam pikiran mereka tidak hanya terbatas pada Jawa dan Indonesia, tapi sudah menjangkau dunia.

Menjadi Bagian dari Warga Dunia

Dalam konteks globalisasi, warga Muhammadiyah merupakan bagian dari warga dunia. Oleh karenanya, perbedaan golongan, suku, etnis, ideologi, agama, bahkan negara tak lagi menjadi alasan apalagi penghalang untuk saling menjalin kerja sama, dialog, dan membangun solidaritas kemanusiaan.

Kesadaran kosmopolitan yang dimiliki Muhammadiyah itu meniscayakan adanya tanggung jawab kemanusiaan universal. Menurut Najib Burhani, “…karakter kosmopolitanisme yang dikembangkan Muhammadiyah diharapkan menjadi wahana untuk dialog antarperadaban” (hlm. 60).

Baca Juga: Fonds-Dachlan: Program Internasional Pertama Muhammadiyah

Upaya menjalin hubungan dengan warga dunia, serta bekerja sama dan bersolidaritas atas nama kemanusiaan universal itu merupakan implementasi dari ajaran Islam yang terkandung misalnya dalam QS. al-Hujurat [49]: 13 dan QS. al-‘Ashr [103]: 1-3. Bahwa manusia yang paling mulia di sisi Allah adalah mereka yang bertakwa, berbuat kebaikan, dan saling mengingatkan kepada segenap manusia. (brq)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *