KRH Hadjid dan Kader Muda Islam

Inspirasi 7 Apr 2020 0 288x

Seperti biasa, pemuda itu keluar pada sore hari untuk mengaji pada seorang kiai di daearah Kauman. Sang kiai biasanya menerangkan kitab hadis karangan Imam Nawawi, Riyadhus Sholihin. Pemuda tersebut selalu terkesan dengan retorika sang kiai saat membawakan materi. “Hebatnya, beliau itu menerangkan langsung dari kitab yang berbahasa Arab, betapa fasihnya,” ungkap kekaguman pemuda tersebut.

KRH. Hadjid

Peristiwa tahun 1960-an di atas adalah kesaksian Mohammad Syakir, pemuda sore hari yang kagum dengan gurunya, kiai pengajar Riyadhus Sholihin: KRH. Hadjid. Lima puluh tahun sejak itu, Suara Aisyiyah berkesempatan mengais sedikit potongan kisah Kiai Hadjid bersama dua di antara sekian muridnya, yaitu Pak dan Bu Syakir; salah seorang cucunya, Pak Budi Setiawan; dan melalui untaian kisah dalam buku yang ditulis dengan cinta oleh putrinya, Bu Uswatun Hasanah.

●●●

Hadjid muda baru saja pulang nyantri dari Pondok Tremas Pacitan hingga 1916, serta dari Madrasah Al-Atas Jakarta pada 1917, ketika dirinya mendengar ada seorang kiai yang amat populer di Kauman. Dialah KH. Ahmad Dahlan pendiri gerakan dakwah bernama Muhammadiyah yang menarik simpati banyak orang termasuk RH Djaelani, ayah Hadjid. RH Djaelani bahkan merupakan orang yang ikut meneken akta pendirian Muhammadiyah pada 1912, serta anggota pimpinan Muhammadiyah pertama yang diketuai oleh Kiai Dahlan.

Ayahnya tentu berharap Hadjid menjadi pendukung cita-cita dan paham Muhammadiyah meneruskan dirinya. Namun bukan si cerdas dan kritis Hadjid namanya jika begitu saja mengikuti gerakan Kiai Dahlan. Bersama Ahmad Badawi, sejawatnya saat nyantri di Tremas, Hadjid berdialog secara kritis bahkan berdebat dengan Kiai Dahlan. Hingga akhirnya kedua pemuda tersebut masuk barisan Kiai Dahlan dan berdakwah melalui Muhammadiyah sampai akhir hayatnya kelak.

Ketika Kiai Dahlan wafat, Kiai Hadjid mewarisinya untuk memimpin pengajian wal ‘ashri. Kelompok pengajian khusus putri, sekaligus kawah candradimuka perkaderan putri Islam pertama di Muhammadiyah. Menurut penuturan Pak Budi Setiawan, pengajian itu dulu dilakukan setiap Kamis sore di Gedung Aisyiyah Kauman, dan bertahan hingga kini di tempat yang sekarang menjadi TK ABA Kauman.

Dalam penggalan kisah lain, Sultan pernah mengundang Kiai Hadjid, juga pengurus Muhammadiyah lainnya, untuk bertemu di wisma milik Sultan di Kaliurang. Di perjalanan dari Kauman ke Kaliurang Kiai Hadjid tidak menemukan satupun masjid, yang ada justru gereja besar di daerah Kentungan. Maka beliau kemudian meminta Sultan berkenan memberikan sebidang tanah di Kaliurang untuk didirikan masjid, dan Sultan pun menyetujuinya.

Berawal dari pertemuan itulah Kiai Hadjid pada suatu Jum’at mengajak murid-muridnya jalan kaki bersimbah keringat dari Kauman ke Kaliurang. Sesampainya disana kiai lalu menancapkan patok di atas sebidang tanah yang diberikan Sultan dan berkata “Ini wakaf. Dan sekarang, ini masjid,” tutur Pak Budi menirukan kakeknya. Setiap Ramadhan Kiai Hadjid mengajak murid-muridnya nyantri hampir sebulan penuh disana. Kini berdiri di komplek tersebut area Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah (PUTM), menanti Hadjid-Hadjid berikutnya lahir.

Kiai Hadjid, Pemuda, dan kader intilan

Adalah KRH Hadjid yang memiliki perhatian begitu besar terhadap anak muda, agar selalu bertumbuhan kader-kader penerus. Selain memberikan pengajian kepada para pemuda pada pagi dan sore hari di kediamannya, kiai yang memimpin Majelis Tarjih tahun 1951-1959 ini selalu mengajak beberapa muridnya sebagai kader intilan. Kader intilan adalah sebutan bagi murid Kiai Hadjid yang kerap diajak mengikutinya (ngintil) mengisi pengajian di masyarakat, salah satunya Pak Syakir.

Pak Syakir berkisah dirinya pernah menyertai kiai berdakwah ke daerah Yogyakarta bagian barat seperti Godean dan Moyudan. “Beliau (Kiai Hadjid) melakukannya dengan semangat walaupun usianya sudah tua,” ungkapnya.

Demikian juga Bu Syakir ikut berbagi kisah. Serasa kemarin dirinya mengalami masa detik-detik jatuhnya Presiden Sukarno. Berbagai elemen terutama mahasiswa dan pelajar melancarkan aksi turun ke jalan mengkritik dan menuntut pemerintah dengan beragam tuntutan, tak terkecuali di Yogyakarta. Kiai Hadjid yang merasa dirinya adalah bagian dari rakyat ikut turun ke jalan. “Beliau berorasi membakar semangat para peserta aksi,” kenangnya.

●●●

Potongan kisah di atas tidaklah menggambarkan keseluruhan kehidupan KRH. Hadjid. Melainkan hanya penggalan kisah beliau bersama anak-anak muda, dan bagaimana Kiai Hadjid melakukan perkaderan kepada generasi tersebut. Dari kisah tersebut, tidak mudah menteorikan bagaimana Kiai Hadjid mengkader anak-anak muda sehingga tersaji konsep perkaderan ala KRH Hadjid.

Kiai Hadjid hanya mengajarkan cara terbaik mengkader anak muda adalah dengan melibatkan mereka secara aktif dengan kegiatan dirinya, dan melibatkan diri dengan kehidupan mereka tanpa jarak. Bagaimana seorang tokoh besar Muhammadiyah turun mengkader para putri Islam di Kauman, mengajari para mahasiswa di rumahnya yang sederhana, ikut dalam barisan long march dari Kauman ke Kaliurang mendirikan masjid, hingga ikut berpanas-panas demonstrasi di jalanan.

Seberapa dekat tokoh persyarikatan kita hari ini terlibat dan melibatkan dirinya mengkader anak-anaknya yang masih muda? (Fikri)

Tulisan ini pernah dipublikasikan pada Majalah Suara ‘Aisyiyah Edisi 4 April 2017, Rubrik Fikri

Sumber ilustrasi : https://khazanah.republika.co.id/berita/q28i8c430/kh-raden-hadjid-pencatat-ajaran-kh-ahmad-dahlan-2

Leave a Reply