Sosial Budaya

Krisis Moneter 1998 dalam Tinjauan Suara Aisyiyah (I): Lahirnya Orang Miskin Baru

krisis moneter
krisis moneter

foto: istockphoto

Tahun 1998 adalah masa sulit bagi bangsa Indonesia. Krisis moneter yang terjadi sejak setahun sebelumnya itu disebut-sebut sebagai “periode terkelam ekonomi Indonesia”. Pada waktu itu, harga kebutuhan pokok dan BBM melonjak tinggi. Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) pun terjadi di mana-mana, sehingga menaikkan volume tindak kriminalitas.

Krisis ini mendapatkan perhatian luas berbagai kalangan, di antaranya Majalah Suara ‘Aisyiyah. Setidaknya selama 3 (tiga) bulan pertama pada tahun 1998, yakni Januari, Februari, dan Maret, rubrik Tajuk Rencana majalah resmi milik PP ‘Aisyiyah itu menyoroti situasi kebangsaan yang terjadi. Beberapa artikel juga ditulis, baik dari sudut pandang ekonomi, pendidikan, kesehatan, maupun politik.

Naik Harga

Dalam rubrik Tajuk Rencana edisi Januari 1998, pembahasan tentang krisis moneter dibingkai dalam judul “Meningkatkan Kualitas ‘Aisyiyah dalam Masa Sulit”. Dalam artikel itu, warga ‘Aisyiyah diimbau untuk terus meningkatkan kualitas iman dan kualitas kebangsanegaraan. Pada waktu bersamaan mereka diharap agar tidak berputus asa.

Di edisi tersebut juga diinformasikan bahwa harga Majalah Suara ‘Aisyiyah per 1 Februari 1998 akan naik menjadi Rp2000. Kenaikan harta itu “sehubungan harga kertas dan tinta akhir-akhir naik tidak terkendalikan”.

Orang Miskin Baru

Selanjutnya, rubrik Tajuk Rencana edisi Februari 1998 mengulas fenomena “merumahkan” atau PHK. Selain itu, yang juga disoroti dalam artikel berjudul “Bangsa Indonesia Menghadapi Ujian” itu adalah peringatan Hari Pers Nasional yang digelar dalam nuansa religius “sebagai wujud keprihatinan terhadap perkembangan pers nasional yang kini tengah dilanda kesulitan akibat gejolak moneter.

Edisi kali ini menurunkan Laporan Utama yang menyoroti dampak krisis moneter, mulai dari dampak yang dialami di sektor rumah tangga, dialami oleh anak perantauan, serta dampaknya bagi kesehatan. Krisis moneter ini, sebagaimana disampaikan Abu Munawar dalam artikelnya “Ujian Paska Shiyam”, menempatkan rakyat jelata dalam kondisi yang paling terdampak.

Baca Juga: Gus Dur, Khittah 1926 NU, dan Suara Aisyiyah

Tidak hanya melalui artikel, penggambaran situasi pada waktu itu juga disampaikan melalui “Pengumuman” dan “Seruan”. Setelah sebelumnya di edisi Januari 1998 disampaikan mengenai kenaikan harga, di edisi Februari ini pimpinan Majalah Suara ‘Aisyiyah mengumumkan adanya keterlambatan dalam produksi dan distribusi majalah karena terjadi “kesulitan teknis”.

PP ‘Aisyiyah di bawah kepemimpinan Elyda Djazman pun turun tangan dengan mengeluarkan “Seruan”, agar warga ‘Aisyiyah melakukan hal sebagai berikut: (a) memberikan santunan kepada dhuafa dan Orang Miskin Baru (OMB); (b) berlaku hidup sederhana dalam menyambut Idulfitri 1418 H; (c) tidak bermegah-megahan dalam mengadakan pesta pernikahan; (d) mengurangi kegiatan seremonial; (e) mengadakan gerakan pengumpulan beras dan uang, dan; (f) bersikap sabar, tabah, dan tenang.

Harapan

“Harapan Pemimpin dan Rakyatnya” menjadi judul rubrik Tajuk Rencana edisi Maret 1998. Ketika edisi ini diterbitkan, BJ Habibie terpilih menjadi Wakil Presiden Republik Indonesia mendampingi Soeharto yang kembali terpilih sebagai Presiden. Harapan yang dimaksud dalam judul artikel ini adalah agar pemerintahan yang baru segera mengamankan persediaan beras dan kebutuhan pokok. Rakyat, dalam hal ini, “mengharap dengan pemerintahan baru ini akan terbentuk negara yang aman, adil, makmur dengan Ridha Allah SWT”.

Sementara itu, Laporan Utama edisi kali ini lebih menaruh perhatian kepada sektor pariwisata. Di tengah krisis yang terjadi, ketika migas tidak lagi bisa mendatangkan devisa bagi negara, salah satu sektor yang menjadi andalan untuk meningkatkan pendapatan negara adalah pariwisata. Tantangan, peluang, dan rencana pengembangan pariwisata, serta prospek wisata religius menjadi fokus penulisan.

Edisi ini juga memuat 10 (sepuluh) harapan Muhammadiyah yang disampaikan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Amien Rais, di Stadion Mandala Krida, Yogyakarta, pada 15 Februari 1998. Sepuluh harapan itu adalah agar: (a) seluruh rakyat Indonesia memelihara keamanan dan ketertiban; (b) pemerintah berpikir dan bekerja untuk kepentingan rakyat; (c) pemerintah memberantas segala bentuk korupsi, kolusi, dan nepotisme; (d) tidak menyalahgunakan jabatan; (e) pemerintah mengamankan sumber daya alam negara; (f) pemerintah merancang sistem ekonomi yang berkeadilan; (g) pemerintah menolak segala bentuk imperialisme ekonomi; (h) pemerintah menegakkan aturan hukum tanpa pandang bulu; (i) pemerintah membangun SDM yang tangguh dan kompetitif, dan; (j) semua pihak harus bekerja sama untuk “membangun masa depan Indonesia yang lebih baik”. (siraj)

Related posts
Sosial Budaya

Krisis Moneter 1998 dalam Tinjauan Suara Aisyiyah (II): Anak dan Perempuan Korban Keadaan

Salah satu dampak krisis moneter 1998 adalah terjadinya gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Banyak perusahaan bangkrut. Peluang kerja pun minim. Berbagai upaya…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *