Laperware

Aksara 25 Mar 2021 0 39x
Arisan

Arisan

Oleh: Anita Sari

“Mau kemana, Ma?” tanya Sigit demi melihat istrinya membubuhkan lipstik warna fuchsia di bibirnya.

“Arisan,” jawab wanita itu singkat.

“Kemarin kan sudah?” Sigit mengernyit.

Nova, nama wanita itu, menoleh. “Kemarin kan arisan biasa. Hari ini arisan Laperware, Pa. Ada model baru, Mama naksir banget, tuh!”

Nova selesai bersolek. Ia berdiri lalu menyambar tasnya, berlalu begitu saja.

Sigit menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal. Laperware? Lagi?

Apa kabar tumpukan stoples, gelas, tumbler, dan segala macam baskom di pojok kitchen set itu?

Semenit kemudian, dilihatnya Nova melongokkan kepalanya di pintu kamar. “Mama nanti nggak masak. Mungkin pulang agak malam. Nanti sekalian Mama beliin lauk.”

Lantas wanita itu melanjutkan langkahnya.

***

“Mit, wadah makan kamu mana?” Nova membongkar tas Mita, anaknya dengan panik. “Kok nggak ada?”

Mita menoleh. “Oh, ketinggalan di kelas, Ma. Besok aku ambil, deh.”

Nova melotot. “Kok bisa ketinggalan? Itu belum lunas, tahu?”

Mita mengernyit. “Lagian, aku biasa pakai yang lama. Itu masih bagus. Mama maksa belikan yang baru.”

“Ish! Kamu ini!” Nova dengan kesal memukul kepala Mita.

“Aaaw! Sakit, Mama!”

Nova beranjak dan mengomel dengan kesal.

“Besok, kamu beli nasi bungkus saja!”

Mita mendelik kesal. “Terserah!”

Dari kejauhan, Sigit menatap kejadian itu sambil menarik nafas panjang.

***

“Pa! Papa!” Siang itu, Nova melonjak-lonjak panik.

Sigit mendekat. “Apa?”

“Kemana semua koleksi Laperware Mama? Hilang? Ya Allah, siapa yang nyuri? Kapan malingnya masuk?”

Sigit bersedekap dengan tenang. “Semua sudah Papa jual.”

“JUAL?” Nova merasa bola matanya hampir copot. “PAPA YANG JUAL?” Wanita itu berteriak.

“Papa nggak suka melihat tumpukan Laperware, sedangkan Mama tiap hari beli soto pakai bungkusan plastik. Bahkan Mita sampai dipukul dan disuruh beli nasi bungkus. Lalu gunanya semua koleksi Mama itu apa? Pajangan?”

Nova tak percaya ini. “Tapi, Pa… itu…”

“Sudah, jangan protes. Mama sudah lupa diri. Mama harus sadar mulai sekarang. Jangan biarkan barang-barang itu mubazir di lemari. Kalau beli, ya dipakai. Beli yang dibutuhkan saja, jangan asal ada diskon, asal ada yang lucu semua dibeli. Mama lupa, setan itu suka dengan hal-hal mubazir seperti itu?”

Nova menunduk. Sebenarnya, sudah lama sekali Sigit tak pernah marah. Nova agak tidak terbiasa mendengarnya. Dengan lemas ia menatap lemari yang kosong.

Oh, Laperware-ku…

Sigit merogoh kantongnya dan menyerahkan beberapa lembar uang. “Maaf Papa nggak tahu harga tiap itemnya. Papa jual per-item limapuluh ribu di FB. Langsung ada yang borong.”

Nova terduduk, semakin lemas. Apa? Per-item limapuluh ribu? Pantas saja ada yang langsung borong.

“Uang ini bisa Mama gunakan untuk menutup sisa arisan Laperware tempo hari. Setelah itu jangan ikut arisan lagi. Kalau Mama pengen Laperware, bilang Papa. Insya Allah Papa belikan kalau ada rezeki.”

Setelah itu, Sigit meninggalkan istrinya yang masih terduduk lemas di lantai dapur.

Ikhlas… Ikhlas…

Nova mengulang-ulang dalam hati.

“Ma, aku turut prihatin,” tiba-tiba Mita muncul dari belakang, tersenyum mengejek.

Nova hanya menunduk. Bahkan mengomel saja sudah tidak kuat lagi. Dia kapok.

Leave a Reply