Lebanon (2): Laboratorium Politik Internasional

Sosial Budaya Wawasan 28 Apr 2021 0 38x

Lebanon

Oleh: Hajriyanto Y. Thohari

Negara yang sering mengalami gejolak politik akibat konflik dan perang saudara ini juga berkali-kali berperang dengan Israel. Meski yang lebih banyak berperang melawan Israel adalah rakyat yang terorganisasi dalam Gerakan Hizbullah yang memiliki milisi militer sangat kuat, tetapi tak ayal seluruh rakyat Lebanon yang akan menjadi korbannya. Tak terhitung banyaknya terjadi serangan Israel ke wilayah Lebanon sampai hari ini, baik serangan darat, laut, dan terutama udara dengan pesawat-pesawat tempurnya yang sangat canggih. Akhir-akhir ini serangan lebih banyak dilakukan dengan roket, misile, atau drone (pesawat tak berawak). 

Lebih daripada itu, Lebanon juga dikenal di kalangan ilmuwan politik dan militer sebagai negara proxy, di mana kekuatan-kekuatan adidaya politik regional dan internasional memiliki proxy-nya masing-masing di Lebanon. Kekuatan-kekuatan luar tersebut tidak lagi bersaing dan berperang secara langsung untuk menancapkan hegemoni politiknya di kawasan tersebut,  melainkan lebih banyak melalui proxy-nya masing-masing. Tentu saja konflik dan perang proxy ini sulit untuk dicari buktinya secara visual. Namanya juga perang proxy, alias nabok nyilih tangan.

Baca Juga

Lebanon (1): Negeri Nan Indah Penuh Paradoks

Tak heran jika Lebanon adalah negara yang paling banyak dikunjungi secara silih berganti dan tak kenal berhenti oleh banyak pemimpin-pemimpin negara besar yang saling bertentangan dan berlawanan satu sama lain. Hari ini utusan Amerika, besoknya Rusia, lusa Iran, dan esok lusa Arab Saudi, Perancis, Jerman, PBB, dan seterusnya datang bergantian tiada kenal henti. Setiap datang, mereka membuat pernyataan yang saling menyerang pihak lain. Demikian seterusnya berlangsung berkepanjangan dan berputar tak berkesudahan.

Tetap Saja Bangga

Walhasil, Lebanon di samping menjadi salah satu negara yang di satu sisi sering mengalami krisis (politik dan ekonomi) yang memprihatinkan, tetapi di sisi lain dibanggakan menjadi semacam laboratorium politik global. Tak heran jika beberapa tokoh Lebanon yang menemui saya dengan setengah berseloroh suka menyebut negaranya laksana “universitas politik internasional”, yakni tempat yang sangat menarik dan cocok untuk berlatih memahami dinamika politik yang berlangsung di sana, baik politik domestik maupun global yang nota bene semakin kompleks itu.

Mungkin sebutan “laboratorium politik” itu terasa dramatis dan dibesar-besarkan (exaggerated). Akan tetapi memang dalam hal kepandaian membuat slogan, seperti lazimnya bangsa Arab, orang Lebanon adalah nomor wahid. Sebagai bangsa yang mengklaim menjunjung tinggi pluralisme dalam semangat koeksistensi, misalnya saja, orang Lebanon sangat berbangga dengan slogan: “Lebanon is more than a country, it is a message of freedom and an example of pluralism for East and West”, padahal nyatanya, benar atau salah, ada kecenderungan dipertahankannya status quo kota-kota yang cenderung satu warna sekte.

Pesan indah dan bombastis tersebut di atas dipajang di banyak prasasti raksasa dalam tiga bahasa (bahasa Arab: لبنان اكثر من وطن، إنه رسالة, dan bahasa Perancis: “Le Leban eat plus qu’un pays c’est un message”). Artinya kira-kira, “Lebanon adalah lebih dari sekadar sebuah negara, Lebanon adalah sebuah pesan (message, risalah) bagi dunia Barat dan dunia Timur”. Dengan untaian kata-kata indah yang telah menjadi motto atau jargon tersebut, orang Lebanon seolah-olah ingin mengatakannya ke seluruh penjuru dunia tentang pluralisme dan koeksistensi damai dalam kemajemukan yang perlu dicontoh dunia.

Baca Juga

Beirut: The City of Coexistence (1)

Tetapi, meski peta demografi agama atau sekte di kota-kota Lebanon lainnya faktanya belum paralel dengan substansi motto yang indah itu, untungnya di kota Beirut jargon itu sudah relatif menjadi kenyataan. Ya, sudahlah! Semoga saja ke depan akan terwujud lebih baik lagi.

Tinggalkan Balasan