Lebanon dan Krisis Berlapis Tiga (1)

Sosial Budaya 23 Sep 2020 0 84x

Sumber : kompas.com

Oleh : Hajriyanto Y. Thohari (Ketua PP Muhammadiyah, kini Dubes di Beirut)

Saya tiba di Beirut tanggal 10 Maret 2019: Lebanon waktu itu di bawah pemerintahan trio Presiden Lebanon Michel Aoun (terpilih sejak 2016), Perdana Menteri Saad Hariri (sejak 2009-2011, dan lagi sejak 2016-2019), dan Ketua Parlemen Nabih Berri (sejak 1992). Pada bulan Oktober 2019, mulai terjadi aksi protes besar-besaran di seluruh kota besar yang melumpuhkan hampir seluruh sektor kehidupan. Protes tersebut dipicu oleh kenaikan tarif WhatsApp yang berkembang menjadi protes politik yang menuntut perbaikan ekonomi, pemberantasan korupsi, mundurnya seluruh rezim penguasa, dibentuknya kabinet teknokratik, dan perombakan sistem politik confessional yang sektarian.

Hanya perlu sepuluh hari menghadapi demonstrasi, PM Saad Hariri memutuskan untuk mengundurkan diri pada 27 Oktober 2019. Aksi protes tidak berhenti, bahkan hampir setiap malam sampai dini hari, dan hanya mengendur karena masuk musim dingin yang membeku. Beberapa calon PM yang dimunculkan selalu ditolak massa. Lebanon baru memiliki perdana menteri baru pada 21 Januari 2020 dengan diangkatnya PM Hasan Diab, seorang muslim sunni dan dosen Fakultas Tenik American University of Beirut. Hassan Diab sangatlah lemah karena tidak didukung oleh partai sunni terbesar, Al-Mustaqbal (Future Movement) yang dipimpin oleh mantan PM Saad Hariri.
PM Hassan Diab belum bisa bekerja dengan baik, datanglah gelombang pandemi Covid-19 pada akhir Februari atau Maret 2020 yang memukul perekonomian nasional. Keadaan perekonomian semakin parah sampai ke titik nadirnya. Bisa dimengerti: jangankan bagi negara seperti Lebanon yang sejak 2019 perekonomiannya telah mengalami krisis yang nyaris tak tertanggungkan, bahkan negara-negara yang ekonominya sehat saja pandemi Covid-19 mampu menerpurukkannya. Bayangkan saja, mata uang Lira Lebanon yang dipatok 1.507 Lira per 1 USD terjun bebas ke angka 8.000, bahkan awal bulan Juli 2020 sempat mencapai 9.400. Padahal, ini sangat unik, Lebanon membolehkan transaksi menggunakan USD, hatta di toko-toko eceran atau kaki lima sekalipun.

Ledakan yang Dahsyat

Dalam situasi yang limbung secara politik dan ekonomi tersebut, tiba-tiba terjadi ledakan dahsyat di hanggar ammonium nitrate yang konon sebesar 2.750 Ton di kawasan sentral perekonomian di pelabuhan Beirut. Ledakan dahsyat yang sampai menimbulkan goncangan hebat laksana gempa bumi sampai ke radius 10 km, termasuk KBRI Beirut yang jaraknya cuma 7,5 km itu, magnitudenya mengalahkan bom atom di Nagasaki dan Hiroshima tahun 1945. Pelabuhan Beirut adalah pusat pergudangan bahan-bahan pokok dan sekaligus satu-satunya pintu masuk barang-barang impor kebutuhan pokok rakyat Lebanon.

Kenyataan bahwa Lebanon merupakan negara yang mengimpor hampir 80 persen kebutuhan pokoknya, sudah bisa dibayangkan kira-kira seperti apa dampak ikutan dari eksplosi raksasa 4 Agustus 2020 itu. Jumlah korban meninggal ketika artikel ini ditulis telah mencapai hampir 200 jiwa, sekitar 6.000 orang luka-luka, 300.000 rumah rusak, dan kerugian senilai 15 miliar USD. Tetapi bayang-bayang kesulitan hidup yang tak terpecahkan kian menggelantung di langit Lebanon jika bantuan ekonomi dari negara-negara kaya tidak kunjung cair dan mengalir. Bantuan kemanusiaan dari komunitas internasional hanyalah relevan dalam jangka pendek di masa gawat darurat belaka.

Hanya tiga atau empat hari setelah ledakan besar yang sangat destruktif tersebut, rakyat kembali turun ke jalan bukan hanya menuntut pertanggungjawaban pemerintah atas keteledorannya sehingga terjadi musibah itu, melainkan ternyata juga melanjutkan tuntutan reformasi dan revolusi (al-tsaurah) yang sempat terhenti beberapa waktu itu. Belakangan saya baru menyadari kenyataan bahwa berhentinya aksi protes tersebut rupanya lebih karena datangnya musim dingin Januari-Maret daripada karena memberikan kesempatan pada pemerintahan baru di bawah kepemimpinan PM Hassan Diab membuktikan kinerjanya. Demonstran baru yang marak pasca-ledakan berhasil membobol empat kementerian, yakni Kementerian Luar Negeri, Kementerian Ekonomi, Kementerian Energi, dan Kementerian Kehakiman.

Bersambung ke Lebanon dan Krisis Berlapis Tiga (2)

 

Leave a Reply