Lebanon dan Krisis Berlapis Tiga (2)

Sosial Budaya 23 Sep 2020 0 64x
Legenda Burung Phoenix

Legenda Burung Phoenix

Sambungan dari Lebanon dan Krisis Berlapis Tiga (1)

Sebagai seorang yang merasa dirinya teknokrat, dan dia sebenarnya memang teknokrat daripada politisi, PM Hassan Diab tidak bisa menerima dirinya dianggap oleh rakyat sebagai bagian dari rezim lama yang harus direformasi. Dia tidak tahan atas kritik dan kecaman pedas yang disuarakan dalam aksi protes itu dan akhirnya meletakkan jabatannya pada 10 Agustus 2020. Dalam pidato pengunduran dirinya yang sangat mengharukan, PM Hassan Diab mengatakan “Saya menemukan fakta bahwa sistem yang korup lebih besar daripada negara”. (iktasyaftu anna mandzumata l-fasad akbar min l-daulah).

Diab melanjutkan bahwa “Salah satu dari banyak contoh korupsi meledak di Pelabuhan Beirut yang menjadi bencana bagi Lebanon. Akan tetapi, kasus korupsi tersebar luas dalam lanskap politik dan administrasi negara. Bencana lainnya masih tersembunyi dalam banyak pikiran dan gudang penyimpanan. Itu yang akan menimbulkan ancaman besar karena dilindungi oleh kelas yang mengontrol negara. Mereka memalsukan fakta, tetap bergeming memperdagangkan darah rakyat yang nota bene telah menjadi pola yang berulang. Mereka seharusnya malu pada diri mereka sendiri karena korupsi yang mereka lakukan telah menghasilkan malapetaka yang tersembunyi selama tujuh tahun, dan entah berapa banyak lagi malapetaka yang mereka sembunyikan di bawah jubah korupsi mereka”
Saya ulang sekali lagi kalimat terakhir PM Hassan Diab tersebut di atas: “Wallahu a’lam kam min musibatin yukhbiuna tahta ‘ibaati fasadihim”. Tak ayal lagi rakyat yang menjadi korbannya. Lebanon kini ibaratnya dancing with elephant, bagai telur di ujung tanduk. Satu-satunya jalan keluar bagi Lebanon adalah bantuan negara kaya. Tapi semua negara kaya tersebut mempersyaratkan bahwa untuk mencairkan bantuannya, ada prakondisi-prakondisi politik yang harus dipenuhi rezim yang sekarang ini berkuasa di Lebanon. Negara Arab yang paling demokratis dan bebas setelah Tunisia ini memang ironisnya lemah secara ekonomi.

Hanya dalam tujuh belas bulan berada di Beirut, saya menyaksikan dua perdana menteri jatuh atau meng-undurkan diri karena demonstrasi. Memang dalam tujuh belas bulan itu hampir separuhnya Lebanon dipenuhi oleh aksi demonstrasi. Sebuah pengalaman hidup yang unik, menarik, dan mengesankan.

Sebuah Legenda Penggembira

Walhasil, Lebanon kini mengalami krisis berlapis yang nyaris belum terbayang peta solusinya, bahkan di benak pemerintahan yang tersisa sendiri sekalipun. Negara-negara dan lembaga donor berulang meminta diberikan peta reformasi politik dan ekonomi sebagai syarat pencairan bantuan. Bisa diduga hari-hari yang panjang tampak di depan ujung jauh di sana. Apalagi pemerintahan ini memiliki hanya sedikit legitimasi politik yang ditandai dengan aksi-aksi protes rakyat hampir setiap hari hatta dalam situasi pandemi dan hari-hari pasca ledakan kemarin ini.
Memang tampak seperti sebuah ironi, negara Arab yang paling demokratis, pluralis, dan bebas, dibandingkan dengan negara-negara Arab lainnya, kecuali mungkin Tunisia itu, paling sering mengalami krisis ekonomi dan politik yang eksesif. Kali ini hal yang sama berulang menimpa Lebanon lagi. Rub salt in to the wound, sudah luka ditaburi garam. Demikianlah kira-kira derita rakyat Lebanon sekarang ini: krisis berlapis tiga yang entah kapan akan terselesaikan.

Apakah negara yang memiliki kota Beirut yang sering disebut sebagai “Parisnya Timur Tengah” ini akan pulih dan bangkit kembali? Berdasarkan pengalaman lama yang sedikit beraroma legenda orang Lebanon menjawab positif. Selama beberapa dekade terakhir, kata mereka, daratan yang menjadi pegunungan Lebanon, tempat aliran laut Mediterania yang memesona itu, memang selalu tidak nyaman. Tapi pohon Cedar yang berdiri di atas pegunungan putih Lebanon, menjadi bukti hidup yang menyaksikan setiap perubahan dan kejadian di negara ini, baik perang maupun krisis-krisis lainnya.

Negeri yang indah yang rakyatnya manis, ramah, dan terbuka ini, dihuni oleh makhluk indah yang menurut legenda berasal dari surga: burung Phoenix.  Sudah lama dipercaya bahwa Phoenix dapat hidup selama lima ratus tahun, yang selalu menyebarkan atmosfer dan angin surgawi, sebelum mati dan binasa dalam api. Orang-orang percaya bahwa burung itu akan selalu bangkit dari abunya.

Burung Phoenix, kata legenda itu, melambangkan Lebanon dan rakyat-nya: bahwa tidak peduli seberapa besar malapetaka dan kesedihan yang mereka rasakan, atau seberapa parah mereka telah dihancurkan, mereka akan selalu bangkit kembali, muda, dan kuat, seperti Phoenix yang terlahir kembali dari abunya sendiri. Semoga saja itu bukan hanya legenda!

*Hajriyanto Y. Thohari (Ketua PP Muhammadiyah, kini Dubes di Beirut)

Leave a Reply