Sejarah

Lelaki dalam Selimut Itu Muhammad bin Abdullah

Nabi Muhammad
Nabi Muhammad

Nabi Muhammad (foto: istockphoto)

Seusai menerima wahyu pertama Q.s. Al-‘Alaq: 1-5, Muhammad yang kala itu berusia 40 tahun segera pulang dari Gua Hira. Kepada istrinya, Khadijah, Muhammad meminta perlindungan; beliau merasa begitu ketakutan. Khadijah coba menenangkan suami terkasihnya itu. Ia mengatakan bahwa Allah swt. tidak akan pernah meninggalkannya.

Selang beberapa waktu, Khadijah dan Muhammad pergi menemui seorang beragama Nasrani, Waraqah bin Naufal. Ia merupakan paman Khadijah. Kepada Waraqah bin Naufal, Muhammad menceriterakan apa yang ia alami. Waraqah segera menyadari bahwa yang mendekap Muhammad adalah Namus (Jibril), malaikat yang dulu pernah diutus oleh Allah kepada Nabi Musa as.

Waraqah yang saat itu sudah berusia lanjut berharap ia masih hidup ketika Sang Nabi diusir oleh kaumnya. Dengan nada heran Muhammad bertanya, “Apakah mereka akan mengusirku?” Waraqah lantas menjawab bahwa tidak ada seorangpun yang menerima wahyu, kecuali ia akan dimusuhi oleh kaumnya. Sayangnya, selang beberapa hari setelah pertemuan tersebut, Waraqah meninggal.

Pada saat yang sama, wahyu berhenti turun selama kurun waktu yang cukup lama (para ulama berbeda pendapat tentang hal ini). Hingga suatu ketika, saat Muhammad sedang berjalan pulang dari Gua Hira, ia mendapati ada suara dari langit, lalu menyaksikan bahwa malaikat Jibril sedang duduk di atas sebuah kursi di antara langit dan bumi. Jibril kerkata, “Wahai Muhammad, engkau adalah Rasul Allah, dan aku adalah Jibril”.

Muhammad merasa ketakutan dengan penampakan Jibril itu.

فأتيت خديجة فقلت دثوني وصبوا علي ماء باردا

Artinya, “maka aku mendatangi Khadijah dan berkata, selimuti aku dan siramlah aku dengan air dingin” (HR. Bukhari).

Khadijah segera menyelimuti suaminya. Saat itulah, Muhammad menerima wahyu kedua, “Yā ayyuhal muddatstsir” hingga ayat “wa li Rabbika fashbir”. Hamka dalam Tafsir Al-Azhar menyebut, perintah Allah kepada Muhammad untuk memberi peringatan (qum fa andzir) adalah titik mula beliau diutus menjadi seorang Rasul.

“Bangunlah dan mulailah lancarkan tugas yang dipikulkan ke atas dirimu. Sejak ini engkau tidak dapat berdiam diri lagi. Jalan sudah terentang di hadapanmu, lalu peringatkanlah! Sampaikanlah peringatan itu kepada kaum engkau.” (Tafsir Al-Azhar, Juz 10, hlm. 7723)

Baca Juga: Muhammad bin Abdullah: Mulia Nasab, Mulia Akhlak

Rasulullah saw. lalu menyerukan Islam kepada orang-orang terdekatnya; laki-laki dan perempuan. Mereka yang mula-mula percaya dengan kerasulan Muhammad adalah Khadijah, disusul Ali bin Abi Thalib yang kala itu masih berusia 10 tahun, lalu Zaid bin Haritah, Abu Bakar as-Shidiq, Bilal bin Rabah, dan seterusnya. Dakwah secara sembunyi-sembunyi ini dilakukan selama 3 (tiga) tahun.

Selama waktu itu, ada sekitar 30 (tiga puluh) orang yang mengimani kenabian Muhammad. Saat itulah Nabi saw. mendapat perintah untuk menyampaikan secara terang-terangan apa yang Allah perintahkan dan berpaling dari orang-orang musyrik (fashda’ bi mā tu`maru wa a’ridh ‘an al-musyrikīn, Q.s. An-Nahl: 94).

Perintah berdakwah secara terang-terangan inilah yang mengawali persekusi kepada Nabi. Kaum kafir Quraisy terus menerus menyakiti Nabi Muhammad, baik dalam ucapan maupun perbuatan. Di tengah persekusi itu, Nabi mendapat perlindungan dari pamannya, Abu Talib. Ia berulang kali diminta untuk menyerahkan Muhammad kepada pihak kafir Quraisy. Berulang kali pula ia menolak permintaan itu.

Akan tetapi, dalam sebuah momen bertatap muka, Abu Talib sempat meminta Nabi untuk menghentikan dakwahnya. Permintaan ini tidak lain adalah untuk tujuan keselamatan Muhammad. Nabi berpikir bahwa sang paman akan melepaskannya ke genggaman kaum kafir Quraisy. Lantas dengan tegas Nabi berujar:

 يا عم، والله لو وضعوا الشمس في يميني، والقمر في يساري على أن أترك هذا الأمر حتى يظهره الله، أو أهلك فيه، ما تركته

Artinya, “Wahai paman, Demi Allah, seandainya mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku, aku tidak akan pernah meninggalkan urusan ini (menyerah) sampai Allah menjadikannya pemenang atau aku binasa dalam usaha itu. Aku tidak akan pernah meninggalkannya”.

Atas keteguhan sikap Muhammad, Abu Talib berjanji tidak akan sejenak pun meninggalkannya, hingga ia meninggal. Dan benar, pasca wafatnya Abu Talib, persekusi terhadap Nabi Muhammad kian menjadi-jadi. (bariqi)

Related posts
Berita

SMP Muhammadiyah Keling Adakan Kegiatan Peringati Maulid Nabi Muhammad

Jepara, Suara ‘Aisyiyah – Peringatan Hari Besar Islam (PHBI) menjadi salah satu program pengembangan Pendidikan Agama Islam di SMP Muhammadiyah Keling sebagai…
Sejarah

Meneladani Sifat Al-Amin Nabi Muhammad

Seperti yang kita ketahui, bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak hanya memiliki satu gelar. Banyak gelar yang disematkan kepada beliau…
Sejarah

Muhammad bin Abdullah: Mulia Nasab, Mulia Akhlak

Muhammad lahir pada 12 Rabiul Awal dari pasangan Abdullah dan Aminah. Beliau merupakan keturunan khalilullah Ibrahim melalui jalur Ismail.* Beliau lahir di…

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *