Lima Alasan Kekerasan Seksual Terus Mengintai Perempuan

Berita 27 Agu 2021 0 63x

Jakarta, Suara ‘Aisyiyah – Salah satu sebab kekerasan seksual masih sering terjadi adalah adanya anggapan bahwa perempuan bukanlah manusia utuh: perempuan dianggap hanya sebagai obyek seks, lemah, bahkan sumber fitnah.

Pernyataan tersebut disampaikan Kepala Pusat Studi Islam Perempuan dan Pembangunan ITB Ahmad Dahlan, Jakarta, Yulianti Muthmainnah dalam forum Pengajian Virtual yang diselenggarakan Yayasan Orbit Lintas Karya pada Kamis (26/8). Kegiatan bertema “Kekerasan terhadap Perempuan, Apa Solusi Islam?” ini merupakan respons atas maraknya kasus kekerasan seksual yang terjadi di masyarakat sekaligus langkah edukatif tentang apa yang ditawarkan Islam terhadap persoalan tersebut.

Dalam kesempatan itu, Ketua Umum PP Muhammadiyah periode 2005-2015 yang juga sebagai Pembina Orbit Din Syamsuddin memberikan pengantar bahwa kasus kekerasan seksual patut menjadi perhatian bersama oleh masyarakat. “Kekerasan seksual terhadap perempuan sering terjadi, baik dalam keluarga/rumah tangga maupun dalam pekerjaan. Oleh karenanya saya kira tema ini penting untuk diketahui,” ujarnya.

Mengafirmasi apa yang disampaikan Din, Yulianti Muthmainnah menyampaikan bahwa kekerasan seksual merupakan isu sensitif yang terjadi di banyak negara. Menurutnya, satu dari tiga perempuan di seluruh dunia pernah mengalami pelecehan dan/atau kekerasan seksual semasa hidupnya.

Baca Juga: Catahu Komnas Perempuan 2020: Kasus Kekerasan Terhadap Perempuan Semakin Nyata dan Membesar

Yulianti menjelaskan, secara definitif, pelecehan seksual adalah tindakan seksual yang dilakukan, baik melalui sentuhan fisik maupun nonfisik (seperti ucapan atau tatapan), dengan sasaran organ reproduksi. Sementara kekerasan seksual adalah perbuatan merendahkan, menghina, dan/atau menyerang tubuh yang berhubungan dengan alat-alat reproduksi secara paksa.

“Kekerasan seksual adalah setiap perbuatan merendahkan, menghina, menyerang dan/atau tindakan lainnya, terhadap tubuh yang terkait dengan nafsu perkelaminan, hasrat seksual seseorang, dan/atau fungsi reproduksi, secara paksa, bertentangan dengan kehendak seseorang, dan/atau tindakan lain yang menyebabkan seseorang itu tidak mampu memberikan persetujuan dalam keadaan bebas, karena ketimpangan relasi kuasa, relasi gender, dan/atau sebab lain…,” jelasnya.

Di tengah masyarakat, kata Yulianti, mitos-mitos tentang kekerasan seksual telah menyebar sedemikian rupa, misalnya mitos bahwa korban kekerasan seksual selalu perempuan dewasa, atau menimpa perempuan tidak berjilbab/berpakaian terbuka, atau kejadiannya selalu di malam hari, atau korban menikmati perlakuan/pengalaman tersebut, atau pelaku merupakan “orang lain” (bukan keluarga), dan/atau sebagainya. Padahal, yang terjadi di lapangan tidaklah demikian. Menurutnya, kekerasan seksual bisa menimpa siapa saja, kapan saja, di mana saja, dan oleh siapa saja.

Yulianti menyebut setidaknya ada lima alasan kenapa kekerasan seksual bisa sampai terjadi di ruang-ruang publik dan menjadi momok menakutkan bagi banyak orang. Pertama, perempuan dianggap bukan manusia utuh, sehingga diperlakukan sebagai obyek seks, sumber kesenangan laki-laki, dianggap lemah, dan sebagainya.

Kedua, perempuan dianggap “menyetujui” atau merasa “senang” apabila dilecehkan. Ketiga, tidak ada hukuman sosial dari masyarakat kepada pelaku kekerasan seksual. Keempat, tidak ada mekanisme kebijakan yang mencegah terjadinya kekerasan seksual di tempat kerja. Kelima, hukum positif tidak mengakomodir korban, atau pelaku seringkali mendapatkan hukuman ringan atas apa yang diperbuat.

“Tidak pernah ada hukuman sosial. Itu sebabnya kekerasan seksual pada perempuan dan anak terus terjadi. Kekerasan seksual tidak pernah dianggap sebagai masalah serius,” ujar Yulianti.

Pada waktu bersamaan, situasi menjadi semakin pelik karena sebagian masyarakat belum bisa membedakan antara zina dan perkosaan. Padahal keduanya adalah dua hal yang berbeda. Menurut Yulianti, di dalam Islam, seseorang dikatakan berbuat zina apabila perbuatan itu dilakukan atas dasar suka sama suka (‘an taradhin) dan baru bisa dihukumi zina jika ada kesaksian minimal empat orang saksi. Sementara dalam kasus perkosaan yang terjadi adalah “pemaksaan”, dan kesaksian korban didengar tanpa harus ada saksi yang melihatnya.

Baca Juga: Titik Temu Kesetaraan Gender

Yulianti menjelaskan bahwa secara normatif, baik dalam al-Quran maupun sunnah Nabi, Islam sangat menghormati dan memerintahkan umatnya untuk memuliakan perempuan. Penghormatan itu misalnya termaktub dalam QS. Luqman [31]: 14 dan hadits Nabi dari riwayat Abu Hurairah tentang derajat ibu yang tiga kali lebih tinggi daripada bapak (HR. Bukhari, No. 5971).

Perintah untuk menghormati ibu dan/atau perempuan itu, menurutnya, bukan tanpa alasan. Di antara sebab utamanya adalah karena proses regenerasi manusia harus melewati tiga tahap berat yang dilalui seorang ibu, yakni hamil, melahirkan, dan menyusui.

Dalam QS. adz-Dzariyat [51]: 56, Allah menegaskan bahwa tujuan diciptakannya jin dan manusia adalah semata hanya untuk beribadah kepada-Nya, dan dalam QS. al-Baqarah [2]: 30 disebutkan bahwa Allah menetapkan manusia sebagai khalifah di muka bumi. “Kalau seseorang mempunyai rasa takut tidak bisa menjadi khalifah yang baik, maka dia tentu akan memperlakukan laki-laki dan perempuan dengan sebaik mungkin,” ujar Yulianti. (sb)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *