Berita

Lingkungan Rusak, Siapa Paling Terdampak? Ya, Anak Muda!

Yogyakarta, Suara ‘Aisyiyah Banjir parah yang melanda provinsi Kalimantan Selatan pada tahun 2021 terekam jelas dalam ingatan Kholida Annisa. Perempuan yang sedang berada di Kabupaten Hulu Sungai Tengah saat itu harus terjebak banjir yang sampai melanda 11 dari 13 kabupaten di provinsi tersebut. Di tengah kondisi krisis itu, hatinya begitu teriris ketika melihat fenomena anak-anak yang terpisah dari orang tua, istri yang terpisah dari suami, hingga betapa seramnya saat orang-orang saling bersikutan hanya untuk berebut makanan.

Memori tersebut memantapkan hati Kholida untuk tergerak melakukan sesuatu demi memperbaiki bumi. Menurutnya, kerusakan alam hari ini perlu disadari oleh anak-anak muda. “Siapa yang akan terkena dampaknya di masa depan? Kami anak muda!” serunya.

Perempuan yang merupakan Ketua Bidang Lingkungan Hidup Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PP IPM) 2021-2023 itu berbagi cerita mengenai perjuangannya pada Selasa (21/11), bersama dengan Aniati Tokomadoran, Koordinator Program Serikat Perempuan Kinasih. Keduanya merupakan alumni program Bengkel Hijrah Iklim 2021 yang dilaksanakan oleh lembaga MOSAIC (Muslims for Shared Action on Climate Impact).

Setelah mengikuti pelatihan Bengkel Hijrah Iklim tersebut, mereka melaksanakan proyek lanjutan yang berorientasi pada misi penyelamatan lingkungan. Salah satu hal yang paling berdampak menurut Kholida adalah adanya sesi coaching dan mentoring bagi para peserta setelah pelatihan selesai. Ia bisa berkonsultasi untuk mematangkan rencana proyek yang ingin dilakukannya di organisasi IPM.

Ia mengadakan sebuah pelatihan untuk anak-anak muda perwakilan seluruh provinsi di Indonesia yang kemudian membentuk lembaga My Green Leaders. Pelatihan itu bervisi untuk melahirkan pemimpin-pemimpin baru yang peduli lingkungan. Kholida menyampaikan, “Pemimpin itu tidak hanya terpusat pada saya sebagai inisiator, tapi juga semua peserta.” Untuk itu, ia mendorong munculnya diskusi-diskusi mengenai cerita-cerita kondisi lingkungan di tingkat lokal. Sehingga para peserta merasa dekat dengan isu lingkungan tersebut.

Program lain yang dibawa Kholida bersama PP IPM dan My Green Leaders adalah Pawai Budaya Pelajar untuk Iklim yang dilaksanakan bersama pelajar dari berbagai provinsi. Selain itu, mereka juga menerbitkan buku berjudul “Menjadi Pemimpin Pembela Lingkungan” yang menceritakan gagasan-gagasan anak muda mengenai lingkungan. Aksi-aksi nasional tersebut kemudian bergema menjadi aksi-aksi di tingkat lokal, seperti di Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, Kalimantan, dan sebagainya.

Hal lain yang juga disuarakan oleh perempuan itu adalah pentingnya memilih pemimpin yang pro keadilan iklim dan perbaikan lingkungan. “Kami mengajak kaum muda untuk tahu bahwa kerusakan lingkungan itu karena sistemik, ada kebijakan-kebijakan yang harus dipengaruhi,” tegasnya. Untuk itu, mereka mengangkat narasi dalam bentuk tagar #dorongpemimpinproiklim2024.

Baca Juga: Resep Ala Aeshnina: Perjuangan Menyelamatkan Lingkungan

Selain itu, Anitia juga berbagi pengalamannya ketika menginisiasi kegiatan Climate Boarding School. Kegiatan itu ialah program advokasi tentang iklim yang berkeadilan gender di lingkungan pesantren di Yogyakarta. Anitia memang aktif terlibat di Salawaktu Movement yang mewadahi kumpulan anak muda dari Rumah Baca Komunitas, Kader Hijau Muhammadiyah, FNKSDA, Walhi Jogja, SP Kinasih, dan Sahabat Lingkungan.

Mengawali proyeknya, lembaga yang memiliki pengalaman dalam isu keadilan lingkungan, kesetaraan gender, serta keberagaman keyakinan itu pun melakukan riset di empat pesantren NU maupun Muhammadiyah di Yogyakarta. Riset tersebut dilaksanakan dari Desember 2022 hingga Maret 2023.

Dari hasil tersebut, Anitia menemukan bahwa rata-rata santri di pondok pesantren itu belum sepenuhnya memahami soal perubahan iklim. “Mereka (santri) berpikir itu hal yang alami terjadi,” imbuhnya. Dari hasil itu, Anitia dan tim membentuk draf modul edukasi yang kemudian bekerja sama dengan Pondok Pesantren Ar-Rahmah dan Assalafiyah Mlangi.

Selain kedua aktivis lingkungan tersebut, acara tersebut juga menghadirkan peneliti dari Departemen Sosiologi dan Pusat Kajian Kepemudaan, FISIPOL UGM, yakni Ragil Wibawanto. Menanggapi paparan Kholida dan Anitia, Ragil menyampaikan optimismenya tentang peran anak-anak muda dalam mendorong kepedulian pada perubahan iklim ini. “Krisis iklim itu berlanjut, masa gerakannya untuk mengatasi ini nggak berlanjut,” ungkapnya.

Ia juga mengungkapkan sejumlah data yang menunjukkan bahwa belakangan waktu perhatian anak muda pada isu lingkungan cukup tinggi. Meski begitu, saat mengkaji di internet, ia menemukan, “Ternyata kita lebih penasaran dengan mobil listrik, teknologi, daripada ide-ide berkelanjutan, jejak karbon, dan sampah makanan.”

Selain itu, ia juga menyoroti beberapa gap yang muncul sebagai tantangan dalam diskursus soal lingkungan. Pertama, generational gap dimana pengambilan keputusan masih terpusat pada generasi yang lebih senior, sedangkan anak muda masih dianggap belum waktunya untuk terlibat aktif. Di samping itu, ada pula rural-urban gap dimana penanganan isu lingkungan masih terlalu terfokus di kota, sedangkan desa yang juga memiliki potensi besar kurang disorot.

Dari situ, Ragil menegaskan pentingnya pendidikan soal lingkungan ini dikuatkan, bukan hanya semata-mata dalam bentuk sosialisasi formal. Terdapat tiga ruang atau komunitas yang menurutnya perlu dimainkan, yakni pendidikan melalui jalur formal, nonformal, maupun keluarga. (Ahimsa W Swadeshi)

Related posts
Inspirasi

Resep Ala Aeshnina: Perjuangan Menyelamatkan Lingkungan

Pada tahun 2019, masyarakat Jawa Timur sempat digegerkan oleh temuan beberapa telur ayam yang mengandung senyawa berbahaya dioksin. Tepatnya, di Desa Bangun,…
Berita

Semarak Milad ke-105, Madrasah Muallimaat Gelar Aksi 1500 Santri Muallimaat dan Aisyiyah

Yogyakarta, Suara ‘Aisyiyah – Dalam rangka menyemarakkan Milad yang ke-105, Madrasah Mu’allimaat Muhammadiyah Yogyakarta menggelar Aksi 1500 Santri Mu’allimaat dan ‘Aisyiyah, Sabtu…
Berita

Didik Cintai Lingkungan, TK ABA 02 Pati Adakan Tanam Cabai

Pati, Suara ‘Aisyiyah – Balai Pengujian Standard Lingkungan Pertanian (BPSL) Lingtan Jakenan kabupaten Pati berkunjung ke TK ‘Aisyiyah Bustanul Athfal (ABA) 02…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *